Minggu, 11 Desember 2016
CerahSejarah & Wisata

Pusthun, Perempuan-perempuan Cantik yang Patriotik
Jumat, 31 Mei 2013[4182]
Pusthun, Perempuan-perempuan Cantik yang Patriotik
NET/KISUTA.COM

PUSTHUN atau Fushtun menjadi istilah yang merebak setelah terkuak rekaman percakapan dan transkrip antara 2 tersangka dugaan kasus korupsi pengaturan impor sapi Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah. Dalam rekaman tersebut tercetus kata wanita Pustun (Pushtun) yang kemudian dikait-kaitkan dengan seorang remaja cantik keturunan Arab bernama Darin Mumtazah.

Dari berbagai data yang diperoleh kisuta.com, Pushtun dikenal juga dengan nama Fusthun, Pasthun, Pashto, Pakhtun, Pathan, dan Paxtun adalah satu suku yang tinggal di Pakistan dan Afghanistan. Suku Pusthun dikenali melalui ethno-linguistik yang terdapat di timur dan selatan Afghanistan, Balochistan, dan wilayah Pakistan. Kaum Pashtun yang beragama Islam, menggunakan bahasa Pashto dan bahasa Pashtunwali. Budaya suku Pushtun dapat dilihat di Peshawar dan Kandahar.

Pushtun terkenal karena perempuan-perempuannya berwajah cantik. Berbalut kerudung, perempuan-perempuan Pusthun memancarkan kecantikan yang begitu terkenal di dunia. Berkulit putih bersih, mata bulat, alis bak sayap elang, dan bibir merah. Itulah gambaran kecantikan perempuan-perempuan Pushtun.

Kecantikan perempuan-perempuan Pusthun bisa dilihat saat digelar Festival Sibi Mela, festival yang sudah berusia ratusan tahun. Festival yang awalnya pasar musiman ini, menjadi tempat penduduk suku Pusthun bersuka ria. Tak hanya menyaksikan hewan-hewan yang dipamerkan penduduk, wisatawan bisa ikut menari dan mencicipi aneka kuliner lezat. Saat itulah, perempuan-perempuan Pusthun ikut bersuka ria di festival yang digelar di wilayah Balochistan, 160 km dari lembah Quetta.

Selain cantik, wanita-wanita Pushtun terkenal berani, karena mereka mengalami tekanan di negaranya yang kental dengan nilai-nilai patriarki. Perempuan-perempuan Pushtun ini berani karena mengalami tekanan di negaranya yang sedang berkonflik dan kental dengan nilai-nilai patriarki.

Mereka menyuarakan pendapatnya melalui blog, menjadi seniman, sastrawati hingga politisi. Beberapa di antaranya ditembak menjadi martir. Anda mungkin masih ingat Malala Yousafzai, gadis Pakistan suku Pushtun yang menjadi pejuang pendidikan di usianya yang masih sangat belia, 14 tahun. Malala ditembak oleh kelompok Taliban saat berada di bus sekolah di Pakistan pada Oktober 2012 lalu.

Aktivitas Malala yang kerap menyerukan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuan dan kecamannya terhadap Taliban, telah membuat marah kelompok militan itu. Malala yang terkena tembakan di kepala, lolos dari percobaan pembunuhan itu. Malala juga dinominasikan sebagai salah satu penerima Nobel Perdamaian tahun 2013 atas kiprahnya tersebut.* Ati Suprihatin - kisuta.com




Lainnya
Suku Karo
Bersolek Molek Saat Mencari Cinta
Senin, 21 November 2016
Oymyakon
Desa Paling Dingin di Bumi
Selasa, 15 November 2016
Suku Amondawa
Masyarakat yang tak Kenal Waktu
Jumat, 11 November 2016
Menggantung di Punggung Gunung
Jalan Setapak yang Indah Mengerikan
Sabtu, 5 November 2016

Terbaru
HaHaHa...
Rayuan Maut Mahasiswi Seksi
Sabtu, 10 Desember 2016
HeHeHe...
Cinta yang Membara
Sabtu, 10 Desember 2016
Dongeng Pasosore
Di Hiji Taman
Sabtu, 10 Desember 2016
Fikmin
Muludan
Sabtu, 10 Desember 2016
Tips Kecantikan
Bercinta di Pagi Hari Membuat Wanita Lebih Sehat dan Seksi
Sabtu, 10 Desember 2016

Terpopuler
Biji Nangka
Herbal Pendongkrak Gairah Seksual
Jumat, 11 November 2016[471]
Idiiih...
Miyabi Setelah Pensiun Sebagai Bintang Film Porno
Rabu, 30 November 2016[396]