Sejarah dan Wisata
Menyimpan Sejarah Peradaban Jazirah Arab
Kota Petra, Keajaiban Dunia yang Sempat Hilang Hampir 500 Tahun
Senin, 15 April 2013 16:15 wib
Dilihat: 2991 kali
NET/KISUTA.COM
cerah lainnya
Inilah Prasasti Erotis Paling Awal di Dunia 24/07Kiswah, Simbol Kekuatan, Kesederhanaan, dan Keagungan 21/07Pertama Kalinya, Manusia Menginjakkan Kaki di Bulan 20/07Cahaya pun Mempelangi Memperindah Nuansa Ibadah 19/07Kado Istimewa Abu Dhabi, Gemerincing Emas Keluar dari ATM 17/07Umat Kristiani pun Menjalankan Puasa Ramadhan 15/07Makkawis Warisi, Tradisi Memuliakan Tamu Saat Berbuka Puasa 15/07Keajaiban China, Bangun Bandara di Puncak Gunung 15/07Lezatnya Makanan Khas Berbuka Puasa di Beberapa Negara 08/07Menikmati Sensasi Menginap di Saluran Air 07/07Saksi Penyebaran Agama Islam di China 06/07Subya, Minuman Andalan Warga Mekah Saat Berbuka Puasa 05/07Hotel Kapsul, Tempat Singgah dan Menginap Pekerja Gila Kerja di Jepang 05/07Indahnya Ibadah di Keelokan Bibir Danau 04/07Segelas Air Zam Zam Saat Berbuka Puasa di Masjid Agung Kauman 02/07Di Cile Puasa Hanya 9 Jam, di Islandia Sampai 22 Jam 01/07Ramadhan Ini Kembali Dibuka, Setelah Ditutup Hampir Setengah Abad 30/06Bergembira Meski Menjadi Minoritas 29/06Tanaman, Bunga, dan Buah Ini Mirip Kelamin Manusia 22/06Pertaruhan Nyawa Para Pemburu Madu di Himalaya 20/06Kastil Megah nan Indah, Dibangun Seorang Diri Selama 60 Tahun 19/06Manusia Prasejarah Punya Terowongan Bawah Tanah Penghubung Antarwilayah 17/06“Surga” Tersembunyi itu Bernama Kanawa 16/06Ketika Sekumpulan Kerbau Bersolek Molek 15/06Keindahan Spektakuler di Negeri Para Dewa 15/06“Desa Kurcaci” Ini Setengah Penduduknya Kerdil 09/06Gemericik Air nan Indah dari Ribuan Kloset 08/06Taman Bawah Tanah yang Indah di Kota Vampir 08/06Tempat Bernaung yang Lebih Baik, Ketika Kondisi Lingkungan Semakin Memburuk 07/06Tama, Kucing yang Menjadi Kepala Stasiun Kereta Api 05/06

SEMPAT hilang selama hampir 500 tahun dari peradaban manusia, kemunculan kembali Kota Petra di Yordania Selatan, telah menyedot perhatian dunia. Masih ada misteri yang belum terungkap dari kota yang hilang bersamaan dengan berakhirnya Perang Salib pada abad ke-12 Masehi ini.

"Baru lima belas persen dari Kota Petra yang sudah berhasil kita temukan, di bawah permukaan masih terdapat 85 persen sisanya, tak tersentuh," ungkap Zeidoun Al-Muheisen, seorang arkeolog dari Jordan's Yamouk University seperti dilansir National Geographic.

Para ahli arkeologi dan kepurbakalaan berpendapat bahwa mendalami penggalian misteri kota yang terletak di dataran rendah dan diapit oleh gunung-gunung yang membentuk sayap ini, akan membawa kepada jawaban atas sejarah dan peradaban Suku Nabatea, yang sejauh ini diyakini berperan penting memegang kontrol luas di area Yordania sampai ke Jazirah Arab. Suku Nabatean berasal dari Arab bagian Barat Laut. Mereka tinggal di wilayah Yordania tetapi berpindah-pindah sampai membentuk kerajaan tahun 312 SM.

Petra yang dalam bahasa Yunani berarti batu dan dalam bahasa Arab disebut al-Bitra. didirikan enam tahun Sebelum Masehi oleh Raja Aretas IV. Kota unik yang didirikan dengan menggali dan mengukir cadas setinggi 40 meter ini, merupakan Ibu Kota Kerajaan Nabatean. Kota yang aman dari bencana alam seperti badai pasir ini, sekaligus menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai karena terletak di jalur distribusi barang antara Eropa dan Timur Tengah.

Kota Pertra mempunyai sistem pengairan yang luar biasa rumit. Saat itu, Suku Nabatean yang menempati kota ini, sudah mempunyai peradaban teknologi hidrolik untuk mengangkat air. Untuk memenuhi kebutuhan air penduduknya, di kota itu terdapat terowongan dan bilik air untuk menyalurkan air bersih ke kota. Selain itu, Suku Nabatean sangat mahir dalam membuat tangki air bawah tanah untuk mengumpulkan air bersih, yang bisa digunakan saat mereka bepergian jauh. Sehingga, di mana pun mereka berada, mereka bisa membuat galian untuk saluran air guna memenuhi kebutuhan mereka akan air bersih.

Di akhir abad ke-4 Sebelum Masehi, berkembangnya dunia perdagangan membuat suku Nabatean turut berkecimpung dalam perdagangan dunia. Rute perdagangan dunia mulai tumbuh subur di bagian selatan Yordania dan selatan Laut Mati. Mereka lalu memanfaatkan posisi tempat tinggal mereka yang strategis itu sebagai salah satu rute perdagangan dunia.

Suku Nabatean akhirnya bisa menjadi para saudagar yang sukses, dengan berdagang dupa, rempah-rempah, dan gading yang antara lain berasal dari Arab bagian selatan dan India timur. Letaknya yang strategis untuk mengembangkan usaha dan hidup, serta aman untuk melindungi diri dari orang asing, membuat suku Nabatean memutuskan di kota batu itu.

Untuk mempertahankan kemakmuran yang telah diraih, mereka memungut bea cukai dan pajak kepada para pedagang setempat atau dari luar yang masuk ke sana. Suku Nabatean akhirnya berhasil membuat kota internasional yang unik dan tak biasa. Puluhan ribu orang tinggal di kota ini untuk berdagang maupun sekadar transit.

 

Awal keruntuhan

Pada tahun 106 Masehi, Romawi mencaplok Petra, sehingga peran jalur perdagangannya melemah. Tak hanya itu, pendudukan oleh Romawi merupakan awal keruntuhan Petra, karena sejak itu serangkaian gempa bumi melanda kota ini. Selain itu, munculnya jalur-jalur perdagangan baru memaksa Petra mencapai titik nadir di masa Kekaisaran Byzantine pada sekitar pertengahan abad 7 M. Ketika sistem hidrolik dan beberapa bangunan utama yang menunjang kehidupan masyarakat di kota itu hancur menjadi puing, Petra ditinggalkan sampai akhirnya menghilang dari peta bumi dan tinggal menyisakan legenda selama berabad-abad.

Reruntuhan kota yang terkubur di bawah tanah ditemukan pada tahun 1812 oleh seorang petualang dari Swiss bernama Johann Ludwig Burchardt. Sang petualang sengaja menyamar menjadi orang Badui, karena suku inilah yang mengetahui keberadaan Kota Petra. Setelah penemuan itu, Kota Petra menjadi perhatian dan penelitian para arkeolog. Tahun 1985, UNESCO mendeklarasikan Taman Arkeologi Petra sebagai situs World Heritage. Kemudian pada Tahun 2007, situs bersejarah yang jaraknya sekitar 3-5 jam perjalanan dari Kota Amman, Yordania ini, dinobatkan sebagai salah satu keajaiban dunia.

Tak mengherankan jika Petra menjadi salah satu keajaiban dunia karena kota ini memang sangat spektakuler. Di Petra terdapat amat banyak bangunan religius semacam kuil, biara, makam, atau tempat pengorbanan. Semua bangunan tersusun dari batu pasir nan kokoh, dengan perpaduan arsitektur Timur Tengah dan Arab. Suku Nabatean memang hebat dalam hal arsitektur tata kota. Kemampuan mereka juga menghasilkan inovasi-inovasi dalam sistem irigasi, transportasi, dan penyimpanan. Sayangnya, sampai sekarang informasi tentang suku ini masih sangat sedikit, seperti halnya Kota Petra.



Sejarah Islam

Kota Petra mempunyai kaitan dengan sejarah Islam, karena kota ini tercantum dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Memang dalam hadis tidak disebutkan langsung Kota Petra, namun yang disebuat adalah bangsa Arab kuno bernama Anbath Asy-Syam. Menurut kitab Al-Qamus al-Islami, Kota Petra merupakan peninggalan Anbath Asy-Syam, yaitu bangsa Arab kuno yang tinggal di antara Semenanjung Sinai dan Harun.

Kota Petra dikelilingi gunung-gunung, salah satunya Gunung Harun atau Jabal Harun atau Gunung Hor atau El-Barra yang memiliki ketinggian sekitar 1.350 meter di atas permukaan laut. Banyak yang meyakini, di puncak Jabal Harun itulah Nabi Harun meninggal dan dimakamkan oleh Nabi Musa. Konon, Rasulullah SAW pernah mengunjungi gunung itu bersama pamannya Abu Thalib, saat berdagang ke Syam (Suriah).

Tradisi Arab meyakini, Petra merupakan tempat Nabi Musa (Musa) memukul batu dengan tongkatnya hingga keluarlah air dari batu tersebut. Di kota itu juga terdapat nama tempat Wadi Musa untuk menyebut lembah sempit di wilayah itu. Pada abad ke-14 Masehi, sebuah masjid dibangun di tempat itu dengan kubah berwarna putih yang terlihat dari berbagai area di sekitar Petra. Konon, Nabi Harun tiba di wilayah itu ketika mendampingi Nabi Musa membawa umatnya keluar dari Mesir dari kejaran Raja Firaun.* Ati Suprihatin - kisuta.com

www.kisuta.com
redaksi@kisuta.com
facebook.com/kisutacom
twitter.com/kisutacom