Sejarah dan Wisata
Pusthun, Perempuan-perempuan Cantik yang Patriotik
Jumat, 31 Mei 2013 07:27 wib
Dilihat: 3212 kali
NET/KISUTA.COM
cerah lainnya
Astawakra 26/01Karna Gugur 25/01Belajar Saja Tidak Cukup 23/01Seluruh Rumah dan Bangunan tak Berpintu, Pencuri pun Takut 23/01Kematian Yawakrida 21/01Inilah "Gerbang Neraka" Itu... 21/01Raden Sanjaya 20/01Yawakrida 19/01Kematian Jayadrata dan Burisrawa 18/01Risyaringga 17/01Lesmana Perlaya 16/01Green Bank, Kota Tersunyi di Bumi 16/01Serunya Memancing di Sungai Membeku 15/01Agastya 14/01Saat Indah Mengagumi Sejarah 14/01Kabar Gembira bagi Pottermania, Harry Potter akan Kembali Beraksi 13/01Penderitaan Bukan Hal Baru 12/01Berusia 3.200 Tahun, Pohon Raksasa Ini Masih Tumbuh Membesar 11/01Pasopati 10/01Abimanyu Gugur 09/01Terbuat dari Lumpur, Bertahan Berabad-abad 09/01Sumpah Krishna 08/01Kekhawatiran Destarata 06/01Arjuna Merajalela di Kurusetra 04/01Duka Cita Drupadi 04/01Drupadi Dipertaruhkan 02/01Keindahan Berselimut Misteri di Bandung Selatan 02/01Pertaruhan 30/12Bisma Perlaya 29/12Dibangun Pasukan Manusia Kera, Penyeberangan Menyelamatkan Dewi Sinta 28/12

PUSTHUN atau Fushtun menjadi istilah yang merebak setelah terkuak rekaman percakapan dan transkrip antara 2 tersangka dugaan kasus korupsi pengaturan impor sapi Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah. Dalam rekaman tersebut tercetus kata wanita Pustun (Pushtun) yang kemudian dikait-kaitkan dengan seorang remaja cantik keturunan Arab bernama Darin Mumtazah.

Dari berbagai data yang diperoleh kisuta.com, Pushtun dikenal juga dengan nama Fusthun, Pasthun, Pashto, Pakhtun, Pathan, dan Paxtun adalah satu suku yang tinggal di Pakistan dan Afghanistan. Suku Pusthun dikenali melalui ethno-linguistik yang terdapat di timur dan selatan Afghanistan, Balochistan, dan wilayah Pakistan. Kaum Pashtun yang beragama Islam, menggunakan bahasa Pashto dan bahasa Pashtunwali. Budaya suku Pushtun dapat dilihat di Peshawar dan Kandahar.

Pushtun terkenal karena perempuan-perempuannya berwajah cantik. Berbalut kerudung, perempuan-perempuan Pusthun memancarkan kecantikan yang begitu terkenal di dunia. Berkulit putih bersih, mata bulat, alis bak sayap elang, dan bibir merah. Itulah gambaran kecantikan perempuan-perempuan Pushtun.

Kecantikan perempuan-perempuan Pusthun bisa dilihat saat digelar Festival Sibi Mela, festival yang sudah berusia ratusan tahun. Festival yang awalnya pasar musiman ini, menjadi tempat penduduk suku Pusthun bersuka ria. Tak hanya menyaksikan hewan-hewan yang dipamerkan penduduk, wisatawan bisa ikut menari dan mencicipi aneka kuliner lezat. Saat itulah, perempuan-perempuan Pusthun ikut bersuka ria di festival yang digelar di wilayah Balochistan, 160 km dari lembah Quetta.

Selain cantik, wanita-wanita Pushtun terkenal berani, karena mereka mengalami tekanan di negaranya yang kental dengan nilai-nilai patriarki. Perempuan-perempuan Pushtun ini berani karena mengalami tekanan di negaranya yang sedang berkonflik dan kental dengan nilai-nilai patriarki.

Mereka menyuarakan pendapatnya melalui blog, menjadi seniman, sastrawati hingga politisi. Beberapa di antaranya ditembak menjadi martir. Anda mungkin masih ingat Malala Yousafzai, gadis Pakistan suku Pushtun yang menjadi pejuang pendidikan di usianya yang masih sangat belia, 14 tahun. Malala ditembak oleh kelompok Taliban saat berada di bus sekolah di Pakistan pada Oktober 2012 lalu.

Aktivitas Malala yang kerap menyerukan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuan dan kecamannya terhadap Taliban, telah membuat marah kelompok militan itu. Malala yang terkena tembakan di kepala, lolos dari percobaan pembunuhan itu. Malala juga dinominasikan sebagai salah satu penerima Nobel Perdamaian tahun 2013 atas kiprahnya tersebut.* Ati Suprihatin - kisuta.com

www.kisuta.com
redaksi@kisuta.com
facebook.com/kisutacom
twitter.com/kisutacom