Sejarah dan Wisata
Pusthun, Perempuan-perempuan Cantik yang Patriotik
Jumat, 31 Mei 2013 07:27 wib
Dilihat: 2258 kali
NET/KISUTA.COM
cerah lainnya
Inilah Prasasti Erotis Paling Awal di Dunia 24/07Kiswah, Simbol Kekuatan, Kesederhanaan, dan Keagungan 21/07Pertama Kalinya, Manusia Menginjakkan Kaki di Bulan 20/07Cahaya pun Mempelangi Memperindah Nuansa Ibadah 19/07Kado Istimewa Abu Dhabi, Gemerincing Emas Keluar dari ATM 17/07Umat Kristiani pun Menjalankan Puasa Ramadhan 15/07Makkawis Warisi, Tradisi Memuliakan Tamu Saat Berbuka Puasa 15/07Keajaiban China, Bangun Bandara di Puncak Gunung 15/07Lezatnya Makanan Khas Berbuka Puasa di Beberapa Negara 08/07Menikmati Sensasi Menginap di Saluran Air 07/07Saksi Penyebaran Agama Islam di China 06/07Subya, Minuman Andalan Warga Mekah Saat Berbuka Puasa 05/07Hotel Kapsul, Tempat Singgah dan Menginap Pekerja Gila Kerja di Jepang 05/07Indahnya Ibadah di Keelokan Bibir Danau 04/07Segelas Air Zam Zam Saat Berbuka Puasa di Masjid Agung Kauman 02/07Di Cile Puasa Hanya 9 Jam, di Islandia Sampai 22 Jam 01/07Ramadhan Ini Kembali Dibuka, Setelah Ditutup Hampir Setengah Abad 30/06Bergembira Meski Menjadi Minoritas 29/06Tanaman, Bunga, dan Buah Ini Mirip Kelamin Manusia 22/06Pertaruhan Nyawa Para Pemburu Madu di Himalaya 20/06Kastil Megah nan Indah, Dibangun Seorang Diri Selama 60 Tahun 19/06Manusia Prasejarah Punya Terowongan Bawah Tanah Penghubung Antarwilayah 17/06“Surga” Tersembunyi itu Bernama Kanawa 16/06Ketika Sekumpulan Kerbau Bersolek Molek 15/06Keindahan Spektakuler di Negeri Para Dewa 15/06“Desa Kurcaci” Ini Setengah Penduduknya Kerdil 09/06Gemericik Air nan Indah dari Ribuan Kloset 08/06Taman Bawah Tanah yang Indah di Kota Vampir 08/06Tempat Bernaung yang Lebih Baik, Ketika Kondisi Lingkungan Semakin Memburuk 07/06Tama, Kucing yang Menjadi Kepala Stasiun Kereta Api 05/06

PUSTHUN atau Fushtun menjadi istilah yang merebak setelah terkuak rekaman percakapan dan transkrip antara 2 tersangka dugaan kasus korupsi pengaturan impor sapi Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah. Dalam rekaman tersebut tercetus kata wanita Pustun (Pushtun) yang kemudian dikait-kaitkan dengan seorang remaja cantik keturunan Arab bernama Darin Mumtazah.

Dari berbagai data yang diperoleh kisuta.com, Pushtun dikenal juga dengan nama Fusthun, Pasthun, Pashto, Pakhtun, Pathan, dan Paxtun adalah satu suku yang tinggal di Pakistan dan Afghanistan. Suku Pusthun dikenali melalui ethno-linguistik yang terdapat di timur dan selatan Afghanistan, Balochistan, dan wilayah Pakistan. Kaum Pashtun yang beragama Islam, menggunakan bahasa Pashto dan bahasa Pashtunwali. Budaya suku Pushtun dapat dilihat di Peshawar dan Kandahar.

Pushtun terkenal karena perempuan-perempuannya berwajah cantik. Berbalut kerudung, perempuan-perempuan Pusthun memancarkan kecantikan yang begitu terkenal di dunia. Berkulit putih bersih, mata bulat, alis bak sayap elang, dan bibir merah. Itulah gambaran kecantikan perempuan-perempuan Pushtun.

Kecantikan perempuan-perempuan Pusthun bisa dilihat saat digelar Festival Sibi Mela, festival yang sudah berusia ratusan tahun. Festival yang awalnya pasar musiman ini, menjadi tempat penduduk suku Pusthun bersuka ria. Tak hanya menyaksikan hewan-hewan yang dipamerkan penduduk, wisatawan bisa ikut menari dan mencicipi aneka kuliner lezat. Saat itulah, perempuan-perempuan Pusthun ikut bersuka ria di festival yang digelar di wilayah Balochistan, 160 km dari lembah Quetta.

Selain cantik, wanita-wanita Pushtun terkenal berani, karena mereka mengalami tekanan di negaranya yang kental dengan nilai-nilai patriarki. Perempuan-perempuan Pushtun ini berani karena mengalami tekanan di negaranya yang sedang berkonflik dan kental dengan nilai-nilai patriarki.

Mereka menyuarakan pendapatnya melalui blog, menjadi seniman, sastrawati hingga politisi. Beberapa di antaranya ditembak menjadi martir. Anda mungkin masih ingat Malala Yousafzai, gadis Pakistan suku Pushtun yang menjadi pejuang pendidikan di usianya yang masih sangat belia, 14 tahun. Malala ditembak oleh kelompok Taliban saat berada di bus sekolah di Pakistan pada Oktober 2012 lalu.

Aktivitas Malala yang kerap menyerukan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuan dan kecamannya terhadap Taliban, telah membuat marah kelompok militan itu. Malala yang terkena tembakan di kepala, lolos dari percobaan pembunuhan itu. Malala juga dinominasikan sebagai salah satu penerima Nobel Perdamaian tahun 2013 atas kiprahnya tersebut.* Ati Suprihatin - kisuta.com

www.kisuta.com
redaksi@kisuta.com
facebook.com/kisutacom
twitter.com/kisutacom