Sejarah dan Wisata
Pusthun, Perempuan-perempuan Cantik yang Patriotik
Jumat, 31 Mei 2013 07:27 wib
Dilihat: 2858 kali
NET/KISUTA.COM
cerah lainnya
Bima 22/11Gatotkaca, Raja Muda Pringgondani 21/11Kematian Pandu 19/11Cupumanik Gambar Jagat 18/11Dewi Kunti 17/11Topi Terkenal Napoleon Terjual Rp 25 Miliar, Dibeli Kolektor Korea Selatan 17/11Bambang Irawan 16/11Saat Shalat Jumat di Gereja Katedral... 16/11Widura 15/11Patih Gandamana 14/11Ningbo, Kota Penghasil Utama Boneka Seks 13/11Yayati 13/11Nusa Mungil nan Indah yang Memiliki Kekuatan Magis 13/11Dursilawati dan Jayadrata 12/11Pernikahan Dewayani 11/11Ksatria Perkasa Gatotkaca 10/11Dewayani dan Kacha 09/11Permen Karet Sudah Ada Sejak Zaman Yunani Kuno 09/11Pandawa Nyamar 07/11Amba dan Bhisma 06/11Tahun 1839, Fotografer Robert Cornelius Sudah Bergaya Selfie 06/11Dendam Asmara Dewi Amba 05/11Indahnya Perhiasan dari Air Susu Ibu 04/11Sumpah Bhisma 04/11Negara Api Itu Bernama Azerbaijan 04/11Arjuna Bertahta di Kahyangan Tejamaya 03/11Dewabrata 02/11Gelegak Cinta Arya Seta 01/11Ganapati Sang Juru Tulis 30/10Presiden China Gerah, Gedung Surat Kabar Pemerintah Mirip Alat Kelamin Pria 23/10

PUSTHUN atau Fushtun menjadi istilah yang merebak setelah terkuak rekaman percakapan dan transkrip antara 2 tersangka dugaan kasus korupsi pengaturan impor sapi Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah. Dalam rekaman tersebut tercetus kata wanita Pustun (Pushtun) yang kemudian dikait-kaitkan dengan seorang remaja cantik keturunan Arab bernama Darin Mumtazah.

Dari berbagai data yang diperoleh kisuta.com, Pushtun dikenal juga dengan nama Fusthun, Pasthun, Pashto, Pakhtun, Pathan, dan Paxtun adalah satu suku yang tinggal di Pakistan dan Afghanistan. Suku Pusthun dikenali melalui ethno-linguistik yang terdapat di timur dan selatan Afghanistan, Balochistan, dan wilayah Pakistan. Kaum Pashtun yang beragama Islam, menggunakan bahasa Pashto dan bahasa Pashtunwali. Budaya suku Pushtun dapat dilihat di Peshawar dan Kandahar.

Pushtun terkenal karena perempuan-perempuannya berwajah cantik. Berbalut kerudung, perempuan-perempuan Pusthun memancarkan kecantikan yang begitu terkenal di dunia. Berkulit putih bersih, mata bulat, alis bak sayap elang, dan bibir merah. Itulah gambaran kecantikan perempuan-perempuan Pushtun.

Kecantikan perempuan-perempuan Pusthun bisa dilihat saat digelar Festival Sibi Mela, festival yang sudah berusia ratusan tahun. Festival yang awalnya pasar musiman ini, menjadi tempat penduduk suku Pusthun bersuka ria. Tak hanya menyaksikan hewan-hewan yang dipamerkan penduduk, wisatawan bisa ikut menari dan mencicipi aneka kuliner lezat. Saat itulah, perempuan-perempuan Pusthun ikut bersuka ria di festival yang digelar di wilayah Balochistan, 160 km dari lembah Quetta.

Selain cantik, wanita-wanita Pushtun terkenal berani, karena mereka mengalami tekanan di negaranya yang kental dengan nilai-nilai patriarki. Perempuan-perempuan Pushtun ini berani karena mengalami tekanan di negaranya yang sedang berkonflik dan kental dengan nilai-nilai patriarki.

Mereka menyuarakan pendapatnya melalui blog, menjadi seniman, sastrawati hingga politisi. Beberapa di antaranya ditembak menjadi martir. Anda mungkin masih ingat Malala Yousafzai, gadis Pakistan suku Pushtun yang menjadi pejuang pendidikan di usianya yang masih sangat belia, 14 tahun. Malala ditembak oleh kelompok Taliban saat berada di bus sekolah di Pakistan pada Oktober 2012 lalu.

Aktivitas Malala yang kerap menyerukan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuan dan kecamannya terhadap Taliban, telah membuat marah kelompok militan itu. Malala yang terkena tembakan di kepala, lolos dari percobaan pembunuhan itu. Malala juga dinominasikan sebagai salah satu penerima Nobel Perdamaian tahun 2013 atas kiprahnya tersebut.* Ati Suprihatin - kisuta.com

www.kisuta.com
redaksi@kisuta.com
facebook.com/kisutacom
twitter.com/kisutacom