Artikel Cerdas & Bermanfaat
Esai
"Paciwit-ciwit Lutung"
Kamis, 18 Juli 2013 22:24 wib
Dilihat: 717 kali
cerdas lainnya
Teman Setelah Mati 17/04Istighfar yang Perlu Diistighfari 10/04Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah 09/04Kufur Nikmat, Penyakit Segala Umat 03/04Saat Tepat Bertobat 03/04Perlu Kecerdasan Ilahiyah 01/04Amal Kebajikan Itu 01/04Taubat dengan Melestarikan Lingkungan 30/03Riya dan Ikhlas 28/03Kebaikan Enam Perkara pada Enam Perkara 22/03Umar 19/03Menyingkap Adzab kepada Kaum 'Aad 16/03Memupuk Keikhlasan 14/03Yang Utama 13/03Manfaat Lalat untuk Kesehatan 12/03Mesopotamia, "Rahim" Peradaban 10/03Sumber Penyebab Keresahan dan Kehancuran 08/03Dari Hadits Qudsi: Untuk Direnungkan! 06/03Halalan Thoyiban 05/03Mari Bercermin pada Unta 03/03Teladan Indah 02/03Keajaiban Al-Quran 27/02Penyakit Rohani yang Merusak Silaturahmi 25/02Sang Pemimpin 23/02Dari Hadits Qudsi: Renungkanlah! 22/02Menyoal Perayaan Tahun Baru 04/01Antisipasi Banglistra 22/12Konflik Dunia Saat Ini 13/12Madrasah, Mengapa Tidak? 11/12Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah 10/12

PACIWIT-CIWIT lutung, si lutung pindah ka luhur. Kami sekeluarga bermain games peninggalan karuhun itu. Sengaja saya ajarkan pada kedua anak saya. Permainan sederhana itu dimulai saling mencubit punggung telapak tangan. Saya relakan tangan saya berada paling bawah, menyusul istri saya, Drg. Tini Kartini, kemudian Hanin anak sulung saya, terakhir Farhan paling atas. Jadi ia belum kena cubitan.

Mulailah permaian ini diiringi tembang tadi, tangan yang saling mencubit diayunkan ke bawah ke atas. Saat lagu habis, tangan saya yang paling bawah berpindah ke atas. Begitu seterusnya. Jadi kami masing-masing mendapat giliran dicubit.

Begitulah filosofi permainan ini. Kita harus merasakan rasa sakit, jika kita menyakiti orang lain. Begitu jenius karuhun kita (Sunda), membuat permainan itu. Entahlah, apakah di daerah lain ada permainan yang serupa? Permainan seperti ini harus kita "wariskan" pada anak-anak kita. Supaya menjadi manusia (Sunda) yang arif dan bijaksana.

Permainan paciwit-ciwit lutung ini, sangat berbeda dengan games yang dimainkan anak-anak sekarang. Bermain dengan komputer menyebabkan anak-anak kita egois. Tak ada toleransi atau memahami perasaan lawan main kita. Sebab lawannya adalah sebuah mesin.

Dalam permainan paciwit-ciwit lutung, jika kita yang berada di atas mencubit keras, maka akan merembet sampai ke bawah. Namun pada gilirannya, kita akan mendapat balasan yang sama. Inilah salah satu ajaran permainan itu.

Mengapa permainan itu menggunakan simbol lutung? Spesies kera berbulu hitam. Mengapa tak memilih binatang gajah atau badak? Namun yang jelas akan lucu kedengaran, jika disebut paciwit-ciwit gajah atau badak, sebab kedua binatang ini tak bisa mencubit. Namun, jika paciwit-ciwit maung (harimau), jelas tak akan pernah berpindah tempat, sebab kukunya jika sudah menancap susah untuk lepas.

Tokoh lutung digunakan, mungkin seperti dalam dongeng Lutung Kasarung, yang juga penuh siloka. Artinya, bisa dijadikan sebagai cerita perumpamaan agar dijadikan cerminan. Dalam kenyataannya, sang lutung yang dipandang sebelah mata merupakan jelmaan seorang pangeran yang tampan.

Lutung merupakan gambaran masyarakat kecil. Masyarakat bawah yang merelakan dicubit terlebih dahulu. Kenyataan ini terjadi seperti sekarang ini. Berbagai "cubitan" dalam kehidupan harus diterima. Seperti harga-harga kebutuhan hidup yang naik terus. Sementara penghasilan tetap, bahkan berkurang. Terlebih apabila menganggur akibat di-PHK.

Karuhun kita telah memberi tausiah dengan permainan ini. Orang yang berada di atas, yang memiliki kekuasaan dan jabatan, mesti merasakan penderitaan yang di bawah. Jangan sampai seperti paciwit-ciwit maung tadi. Atau mungkin, syair permainan itu telah diganti menjadi begini; paciwit-ciwit lutung, si lutung terus diciwit!* Ahmad Yusuf - kisuta.com

www.kisuta.com
redaksi@kisuta.com
facebook.com/kisutacom
twitter.com/kisutacom