Artikel Cerdas & Bermanfaat
Esai
"Paciwit-ciwit Lutung"
Kamis, 18 Juli 2013 22:24 wib
Dilihat: 325 kali
cerdas lainnya
Mengangkat Citra Kuliner Lokal 01/04Kearifan Lokal Sunda sebagai Pijakan Kemajuan 31/03PAUD, Langkah Awal Menanamkan Pendidikan bagi Anak 29/03Wisata Desa, Upaya Berkelit dari Kebisingan Kota 28/03Menggali Nilai Ekonomis “Mata Lembu” 27/03Ajengan dan Pemilu 26/03Quo Vadis Pendidikan Nasional 25/03Mengenal "Fiksimini Basa Sunda" 24/03Bahasa Sunda sebagai Identitas Urang Sunda 22/03Pemilih Tak Terbeli 17/03Antara Teori dan Praktek 14/03Cerdas Berbahasa 12/03Strategi Resolusi Budaya 28/01Membangun Budaya Literat 13/01Sampah 10/01Melaju dengan Buku 09/01Mengisi Waktu 01/01Ketika Mahasiswa Berpolitik 17/12Iket dan Eksistensi Sunda 29/11Agen Perubahan 31/10Jalur Mabrur 25/09Pendengaran Ibu 17/09Mensucikan Hati di Tanah Suci 05/09Semangat Rock! 31/08Program Kreativitas Mahasiswa: Prestasi Nyata Tingkatkan Daya Saing Indonesia 29/08Arah Gerakan Mahasiswa yang Ideal 24/08Ada Apa dengan Batin para Koruptor? 21/08Tukang Kasur 20/08”Wilujeng Shopping” 18/08Umar bin Abdul Aziz 16/08

PACIWIT-CIWIT lutung, si lutung pindah ka luhur. Kami sekeluarga bermain games peninggalan karuhun itu. Sengaja saya ajarkan pada kedua anak saya. Permainan sederhana itu dimulai saling mencubit punggung telapak tangan. Saya relakan tangan saya berada paling bawah, menyusul istri saya, Drg. Tini Kartini, kemudian Hanin anak sulung saya, terakhir Farhan paling atas. Jadi ia belum kena cubitan.

Mulailah permaian ini diiringi tembang tadi, tangan yang saling mencubit diayunkan ke bawah ke atas. Saat lagu habis, tangan saya yang paling bawah berpindah ke atas. Begitu seterusnya. Jadi kami masing-masing mendapat giliran dicubit.

Begitulah filosofi permainan ini. Kita harus merasakan rasa sakit, jika kita menyakiti orang lain. Begitu jenius karuhun kita (Sunda), membuat permainan itu. Entahlah, apakah di daerah lain ada permainan yang serupa? Permainan seperti ini harus kita "wariskan" pada anak-anak kita. Supaya menjadi manusia (Sunda) yang arif dan bijaksana.

Permainan paciwit-ciwit lutung ini, sangat berbeda dengan games yang dimainkan anak-anak sekarang. Bermain dengan komputer menyebabkan anak-anak kita egois. Tak ada toleransi atau memahami perasaan lawan main kita. Sebab lawannya adalah sebuah mesin.

Dalam permainan paciwit-ciwit lutung, jika kita yang berada di atas mencubit keras, maka akan merembet sampai ke bawah. Namun pada gilirannya, kita akan mendapat balasan yang sama. Inilah salah satu ajaran permainan itu.

Mengapa permainan itu menggunakan simbol lutung? Spesies kera berbulu hitam. Mengapa tak memilih binatang gajah atau badak? Namun yang jelas akan lucu kedengaran, jika disebut paciwit-ciwit gajah atau badak, sebab kedua binatang ini tak bisa mencubit. Namun, jika paciwit-ciwit maung (harimau), jelas tak akan pernah berpindah tempat, sebab kukunya jika sudah menancap susah untuk lepas.

Tokoh lutung digunakan, mungkin seperti dalam dongeng Lutung Kasarung, yang juga penuh siloka. Artinya, bisa dijadikan sebagai cerita perumpamaan agar dijadikan cerminan. Dalam kenyataannya, sang lutung yang dipandang sebelah mata merupakan jelmaan seorang pangeran yang tampan.

Lutung merupakan gambaran masyarakat kecil. Masyarakat bawah yang merelakan dicubit terlebih dahulu. Kenyataan ini terjadi seperti sekarang ini. Berbagai "cubitan" dalam kehidupan harus diterima. Seperti harga-harga kebutuhan hidup yang naik terus. Sementara penghasilan tetap, bahkan berkurang. Terlebih apabila menganggur akibat di-PHK.

Karuhun kita telah memberi tausiah dengan permainan ini. Orang yang berada di atas, yang memiliki kekuasaan dan jabatan, mesti merasakan penderitaan yang di bawah. Jangan sampai seperti paciwit-ciwit maung tadi. Atau mungkin, syair permainan itu telah diganti menjadi begini; paciwit-ciwit lutung, si lutung terus diciwit!* Ahmad Yusuf - kisuta.com

www.kisuta.com
redaksi@kisuta.com
facebook.com/kisutadotcom
twitter.com/kisutadotcom