Artikel Cerdas & Bermanfaat
Esai
"Paciwit-ciwit Lutung"
Kamis, 18 Juli 2013 22:24 wib
Dilihat: 623 kali
cerdas lainnya
Konflik Dunia Saat Ini 13/12Madrasah, Mengapa Tidak? 11/12Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah 10/12Memangkas Budaya Narkoba dan Miras pada Remaja 08/12TMMD bagi Kepentingan Pertahanan Negara 06/12Mencontek, Cikal Bakal Plagiarisme dan Korupsi? 05/12Menjalankan Profesi sebagai Orang Tua 04/12Kurikulum 2013, Penuh Tantangan? 03/12Loyalitas kepada Negara Sebuah Keniscayaan 02/12Hikmah Kelembutan 01/12PR bagi Siswa, Perlukah? 01/12Menteri Berijazah SMP: Berimplikasi pada Dunia Pendidikan? 29/11Karakter Bangsa 28/11Resep Keselamatan 20/11Amanat dan Jabatan 17/11Karena Mencintai Sahabat 15/11Kunci-kunci Surga 13/11Membaca dan Berpikir 11/11Nasihat untuk Pejabat 31/10Prinsip-prinsip Rasulullah dalam Menempuh Kehidupan 29/10Cenderamata Pejabat 11/10Tentang Waktu 27/09Kendaraan Haji 13/09Dunia yang Mendua 28/08Jiwa Ksatria 23/08Khusyuk 15/08Takdir 08/08Tertipu Iblis 05/08Pilar Agama 02/08Pejabat yang Digugat Rakyat 31/07

PACIWIT-CIWIT lutung, si lutung pindah ka luhur. Kami sekeluarga bermain games peninggalan karuhun itu. Sengaja saya ajarkan pada kedua anak saya. Permainan sederhana itu dimulai saling mencubit punggung telapak tangan. Saya relakan tangan saya berada paling bawah, menyusul istri saya, Drg. Tini Kartini, kemudian Hanin anak sulung saya, terakhir Farhan paling atas. Jadi ia belum kena cubitan.

Mulailah permaian ini diiringi tembang tadi, tangan yang saling mencubit diayunkan ke bawah ke atas. Saat lagu habis, tangan saya yang paling bawah berpindah ke atas. Begitu seterusnya. Jadi kami masing-masing mendapat giliran dicubit.

Begitulah filosofi permainan ini. Kita harus merasakan rasa sakit, jika kita menyakiti orang lain. Begitu jenius karuhun kita (Sunda), membuat permainan itu. Entahlah, apakah di daerah lain ada permainan yang serupa? Permainan seperti ini harus kita "wariskan" pada anak-anak kita. Supaya menjadi manusia (Sunda) yang arif dan bijaksana.

Permainan paciwit-ciwit lutung ini, sangat berbeda dengan games yang dimainkan anak-anak sekarang. Bermain dengan komputer menyebabkan anak-anak kita egois. Tak ada toleransi atau memahami perasaan lawan main kita. Sebab lawannya adalah sebuah mesin.

Dalam permainan paciwit-ciwit lutung, jika kita yang berada di atas mencubit keras, maka akan merembet sampai ke bawah. Namun pada gilirannya, kita akan mendapat balasan yang sama. Inilah salah satu ajaran permainan itu.

Mengapa permainan itu menggunakan simbol lutung? Spesies kera berbulu hitam. Mengapa tak memilih binatang gajah atau badak? Namun yang jelas akan lucu kedengaran, jika disebut paciwit-ciwit gajah atau badak, sebab kedua binatang ini tak bisa mencubit. Namun, jika paciwit-ciwit maung (harimau), jelas tak akan pernah berpindah tempat, sebab kukunya jika sudah menancap susah untuk lepas.

Tokoh lutung digunakan, mungkin seperti dalam dongeng Lutung Kasarung, yang juga penuh siloka. Artinya, bisa dijadikan sebagai cerita perumpamaan agar dijadikan cerminan. Dalam kenyataannya, sang lutung yang dipandang sebelah mata merupakan jelmaan seorang pangeran yang tampan.

Lutung merupakan gambaran masyarakat kecil. Masyarakat bawah yang merelakan dicubit terlebih dahulu. Kenyataan ini terjadi seperti sekarang ini. Berbagai "cubitan" dalam kehidupan harus diterima. Seperti harga-harga kebutuhan hidup yang naik terus. Sementara penghasilan tetap, bahkan berkurang. Terlebih apabila menganggur akibat di-PHK.

Karuhun kita telah memberi tausiah dengan permainan ini. Orang yang berada di atas, yang memiliki kekuasaan dan jabatan, mesti merasakan penderitaan yang di bawah. Jangan sampai seperti paciwit-ciwit maung tadi. Atau mungkin, syair permainan itu telah diganti menjadi begini; paciwit-ciwit lutung, si lutung terus diciwit!* Ahmad Yusuf - kisuta.com

www.kisuta.com
redaksi@kisuta.com
facebook.com/kisutacom
twitter.com/kisutacom