Rabu, 17 Juli 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Wayang
Sinta Obong
Senin, 19 Oktober 2015[669]

KISUTA.com - Di Taman Argasoka, Rakyan Sinta sedang menyisir sepi, sejak tewasnya Rahwana, para istri penghuni keputren telah menempuh lelakunya masing-masing. Bathari Tari telah kembali sebagai bidadari Maniloka, Banondari dan beberapa selir yang merasa memilih kematian pati obong untuk menyempurnakan kehidupannya di dunia dan mengurangi siksa api neraka, secara ikhlas telah memenuhi kewajiban mereka dalam ritual pati obong. Selir-selir yang lain, memilih kembali ke tanah kelahiran masing-masing, melanjutkan kehidupan mereka yang telas dirampas Rahwana, dengan membawa bekal harta yang dibagikan secara adil oleh Bathari Tari dan Banondari sebelumnya. Biyung Cangik dan Limbuk menemani kegelisahan Sinta dengan hiburan dan candaannya.

 

Sinta: Cangik...mengapa lama sekali Trijata ke Suwelagiri.. bukankah si durjana Rahwana sudah tewas...apalagi yang di tunggu...?

 

Cangik: Hihihi...Gusti putri...Mata Naga berbinar bagai permata, serengai mulutnya bermisai bak cemeti.. paduka ini lho..Alih-alih menunggu Dewi Trijata, Sang Ramalah yang dinanti-nanti...

 

Limbuk: Biyung...dirimu ini lho... Ambil segulung rotan saga,

Sudah diambil mari diurut. Kalau sudah perkara asmara,

mau apapun tinggal manggut-manggut...

 

Saat Sinta sedang tersenyum mendengar hiburan Cangik dan Limbuk, tiba-tiba datanglah Trijata yang menghambur ke pelukan Sinta dengan airmata berurai...

 

Sinta memeluk Trijata penuh kasih, dibiarkannya gadis manis ini menumpahkan segala keresahan hatinya. Setelah tenang, Trijata mengisahkan kepiluan hatinya tentang terbuktinya kutukan Rahwana, dan sekarang dia telah menikah dengan Kapi Jembawan untuk menutupi aibnya.

 

Sinta: Nini Trijata, aku memahami perihnya perasaanmu tetapi ingatlah "Manungsa mung ngunduh wohing pakarti"...manusia akan menerima hasil perbuatannya sendiri...ya nini, seandainya engkau bisa mengendalikan diri, tentu azab ini tidak harus engkau terima...

 

Trijata: Iya Uwa Dewi, karena itulah hamba tidak menolak ketika Prabu Rama menikahkan hamba dengan kakang Jembawan untuk menutupi aib hamba..hamba ikhlas menjalani sisa hidup hamba sebagai istrinya (Trijata kembali terisak)

 

Sinta: Nini..bagus sekali kalau engkau bisa ikhlas..karena "kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning Hyang sukmo"...manusia itu melakukan pilihan hidupnya, lakukan yang bisa kita lakukan secara benar..selanjutnya serahkan pada Sang Khalik...

 

Trijata: Wa Dewi...saat Uwa Prabu memberikan kutukannya... paduka membisikkan doa, bahwa kutukan itu tidak dapat ditarik, namun paduka janjikan dari rahim hamba akan lahir seorang putri yang akan menjadi titisan Wisnu...bisakah itu terjadi di tubuh hina ini Wa Dewi...

 

Sinta: Oo Trijata jangan kau pandang sehina itu dirimu...engkau korban dari bayangan asmaramu nini...tetapi kalau engkau tobat dan kau jaga kehormatanmu sebagai istri dari suamimu... semogalah dosamu ini akan lebur dalam pengabdianmu... Trijata tegakkan badanmu...diluar sana, begitu banyak wanita yang lebih hina dari dirimu...yang membiarkan dirinya menjadi permainan laki-laki suami orang, hanya untuk memenuhi hasrat dan kebutuhan duniawinya...mereka yang tidak peduli merusak mahligai perkawinan orang lain dan mendorong para suami mengkhianati istri dan anak-anaknya hanya untuk kenikmatan sesaat...tidak Trijata...engkau tidak sehina itu...Ya nini.."Tumrap wong wadon, anak kang dadi wohing among asih"...bagi wanita, anak adalah tumpuan kasih sayang... apapun yang terjadi dengan dirimu, jika engkau bisa menjaga kesucian dan kehormatan pribadimu, engkau akan dikaruniaiNya anak yang luar biasa nini...

 

Trijata larut dalam nasehat-nasehat Sinta yang menyejukkan. Hingga Prabu Rama diiringi Laksmana dan Wibisana memasuki taman Argasoka.

 

Sinta menyambut kehadiran suami yang dirinduinya dengan sujud syukur, dia memburu menghaturkan sembah pada Rama. Rama menerima sembah istrinya dan membantunya berdiri. Sesaat angin lupa bertiup, cengkerik, katak dan gareng pung tercekat tanpa suara...suasana begitu hening, sunyi...seakan memberi kesempatan kedua sejoli itu meluapkan rindu...namun...Sinta merasakan kebekuan hati Rama...perih diujung sanubarinya...inikah akhir dari penantiannya? Sambutan suami yang sedingin salju...?

 

Sinta: Kanda...ada apakah...mengapa paduka menyebarkan hawa dingin pada gejolak kerinduan yang seharusnya menggelegak?

 

Rama: Yayi....Bunga di taman hatiku dicabut secara paksa oleh si duratmoko...berbilang tahun, dia rawat bunga itu dengan limpahan kasih, guyuran kemewahan...adakah aku bisa percaya, bungaku tak ternoda?

 

Sinta: (Sakit hati wanita cantik ini, mendengar keraguan suaminya.. perlahan Sinta menjauh dari jangkauan Rama)..Aah rajaku, suamiku...kalau keraguan itu yang meracuni hatimu.. mengapa kau teruskan perjuanganmu menjemputkan dengan kemegahan perang?...beribu prajurit telah tewas membela keyakinanmu akan kebenaran...mereka yang tidak mengenalku, bersedia mati untukku...Sinuwun... hanya harga dirimulah sesungguhnya yang engkau pertaruhkan pada perang ini.. bukan lagi cinta dan kepercayaanmu padaku...(airmata di mata bening itu mulai berlinang)

 

Rama: Yayi....bagaimana mungkin kau ragukan cintaku...aku sudah bersumpah Eka Vratni Prata, hanya menikah sekali saja denganmu sebagai bentuk tulusnya cintaku...dan lihatlah buktinya..tiada aku menyentuh seorangpun wanita selama bertahun-tahun berpisah denganmu...telah aku jalani kehidupan sebagai Sewala Brahmacari...yang beristri hanya satu engkau yayi seumur hidupku....kalau sekarang keraguan itu meliputiku duhai Sinta....maafkan aku yang tak mampu membendung perasaan ini, dan menunggu bukti akan kesucianmu...sebanding dengan sumpah setiaku...

 

Lembut Sinta memanggil para emban dan pengawal dimintanya semua mempersiapkan tungku pembakaran. Niatnya sudah bulat, dia akan membuktikan kesuciannya dengan membakar dirinya.

 

Alam yang sunyi terhimpit duka yang mendalam, Narpati Sugriwa dan Narpati Wibisana tak mampu menjadi penengah kisah cinta para titisan dewa dan dewi ini. Atas permintaan Sinta, mereka membantu persiapan pembakaran wanita jelita ini di tanah lapang. Laksmana menatap sendu kakaknya, betapa sebenarnya kekecewaan mengharu biru hatinya...mengapa Rama diam saja? Benarkah peperangan memenangkan Sinta adalah peperangan ego dan harga diri semata?... inikah cinta sejati? Betapa berat tuntutannya?... pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di hati Laksmana menunggu jawaban.

 

Setumpuk besar kayu bakar telah disiapkan di sebuah tanah lapang. Dewi Sinta berdiri di atasnya, sesaat kemudian dibakarlah tumpukan kayu itu. Dengan cepat api berkobar menyelimuti tubuh Sinta. Namun, nyala api itu sama sekali tidak sanggup membakar tubuhnya, Sinta tetap segar bugar sampai api unggun itu padam.

 

Sekejap rakyat Pancawati dibuat terkesima, saat Rama membimbing istrinya yang tampak jauh lebih jelita dengan wajah bersinar keemasan menampilkan citranya sebagai titisan Widowati yang tak tercela.

 

"Wahai rakyat Pancawati...janganlah kalian pertanyakan mengapa istriku Sinta, memilih membuktikan kesuciannya dengan membakar diri..dan mengapa aku membiarkan api yang panas menjilat-jilat tubuh kekasih hatiku...lihatlah “Ya janma kang hakiki, wujud kak kiyanmil kodrat, jumeneng anane dhewe, Suksma manuks-meng kawula, kawula nuks-meng Suksma, napas sirna marang suwung, badan lebur wor bantala.” (Suluk Walisanga)... sesungguhnya pemahaman kami akan manungkaling kawula lan Gusti..sudah sedemikian kuatnya menyatu dalam jiwa ini...keyakinan kami...Manusia yang hakiki, berwujud hak yang memiliki kekuasaan ada dengan sendirinya, Sukma masuk ke dalam hamba, hamba masuk ke dalam Sukma, napas hilang masuk ke dalam kekosongan, badan hancur bercampur tanah.. itu yang seharusnya terjadi, tetapi Rakyan Wara Sinta, dalam kesuciannya telah mengundang Bathara Agni, merubah panasnya api menjadi hembusan-hembusan angin beraroma seribu bunga yang makin membuat kecantikannya cemerlang. Rakyatku...terimalah ratu gustimu Rakyan Wara Sinta, istriku tercinta."

 

Tepuk tangan membahana menyambut sabda sang Prabu...untuk sesaat..pasangan ini berbahagia dalam kisah kasihnya.*

 

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


TAG TERKAIT