Jumat, 19 April 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Wayang
Dasawilukrama Mbalelo, Anggada Balik
Rabu, 21 Oktober 2015[1232]

KISUTA.com - Senja di pendapa Ayodyapala membawa suasana damai dan tentram. Prabu Rama Wijaya tengah memimpin sidang di hadapan para narpati dan panglimanya.

 

Rama: Wibisana, tampaknya sudah saatnya kita menata Pancawatidenda, agar menjadi kerajaan yang jaya dan bisa melindungi seluruh rakyat secara adil.

 

Wibisana: Ya Sinuwun, dengan telah diangkatnya Narpati Sugriwa sebagai raja Kiskenda, saya rasa tinggal kerajaan Alengka saja yang belum paduka carikan raja atau narpatinya.

 

Rama: Karena engkau adik kandung Rahwana, bagaimana kalau kerajaan Alengka aku serahkan padamu...perbaikilah, tatalah dengan budi luhur, satukan saja dengan kasatriyan Parangkuntara yang saat ini menjadi wilayah kerajaanmu.

 

Wibisana: Duuh Sinuwun,...bukan hamba menolak sabda paduka.. namun, rakanda Rahwana masih memiliki putra yang sekarang menjadi putra pupon paduka...Anak mas Dasawilukrama. Bukankah sebaiknya kepada Dasawilukrama saja kerajaan Alengka ini diserahkan. Sebagai Bapa pamannya saya akan mendampingi agar tidak salah arah...

 

Hening sejenak paseban Pancawatidenda mendengarkan usulan Wibisana, walaupun sebagian Narpati dan Panglima mengernyitkan dahinya, tetapi di hadapan Prabu Rama Wijaya, mereka menahan diri. Tiba-tiba, Jaya Anggada menyela dengan suara lantang.

 

Anggada: Tidak!!! Aku tidak setuju!

 

Anoman: Sstt, Anggada, duduklah...jaga sikapmu..itu tidak sopan...

 

Anggada: Huh, tidak sopan apanya...mengapa semua diam? Dasawilukrama itu keturunan Rahwana, biangnya iblis! Kalau kita dudukkan dia sebagai raja Alengka, kita seperti memberi sayap dan perlengkapan perang pada keturunan iblis...apakah kalian akan bertanggung jawab kalau dia menusuk kita dari belakang?

 

Rama: Anggada, tenanglah...Dasawilukrama sejak kecil berada pada asuhanku dan Rakyan Sinta...kami ajarkan budi pekerti dan kebenaran. Tampaknya tidak ada salahnya kita coba memberi kepercayaan ini padanya... Karena sebenarnya hak atas tahta Alengka memang ada pada Dasawilukrama.

 

Anggada: Sinuwun, maaf..saya tetap tidak setuju...ibarat memelihara gogor...setelah menjadi macan buas, gogor ini malah kita bantu mengasah kuku-kukunya yang kelak akan mencabik-cabik kita... Silahkan kalau yang lain mendukung usul gila ini... Saya akan tetap berseberangan, dan kelak akan saya buktikan.. Kecurigaan saya pasti benar adanya.

 

Dengan Tegas dan pandangan berapi-api Jaya Anggada meninggalkan Pasewakan agung tanpa menengok lagi ke belakang. Prabu Rama memaklumi karakter Jaya Anggada yang keras. Tampaknya kerasnya watak Prabu Subali menurun pada putra tunggalnya itu.

 

Akhirnya, Dasawilukrama dinobatkan sebagai Prabu Anom di Alengkadiraja. Untuk membantu pemerintahan Dasawilukrama, Rama juga menobatkan Beganasura anak Indrajit dari kasatriyan Bikukungpura sebagai pepatih Alengkadiraja.

 

Kesibukan Rama membesarkan Pancawatidenda, dan Kehamilan Dewi Sinta yang baru mulai, membuat kewaspadaan mereka lengah.

 

Di Alengkadiraja, Dasawilukrama mulai resah mencari tahu asal usul dirinya, pada suatu malam di sanggar pamujan, Dasawilukrama memanggil sukma Rahwana dalam bentuk Prabu Godayitma, terjadilah hasutan dari Godayitma pada Dasawilukrama.

 

Godayitma: Hehhehheh...anakku Ngger Dasawilukrama, engkau memang buah cintaku dengan Rakyan Sinta, walau engkau lahir bukan dari rahimnya...tapi kamaku menetes karena besarnya cintaku pada Sinta...jadi tetap saja bagiku engkau anak buah cintaku...Ooo ngger, sayang sekali Rama begitu kejam memisahkan kita dan aku belum sempat menyayangimu... memanjakanmu..dan mengajakmu bermain-main..kasihan engkau anakku sayang...

 

Dasawilukrama: Ya kanjeng rama...saya bingung, saya rindu pada kanjeng rama...ayahku sejati...tetapi prabu Rama juga begitu baik pada saya...hanya ibu Rakyan Sinta saja yang begitu dingin seakan jijik pada saya kanjeng rama...

 

Godayitma: Huahahah memang begitulah Rakyan Sinta yang jelita, justru sikapnya yang sok jijik itu yang membuat aku kalang kabut mencintainya...ehmm..huahhhh...sayang dia tidak sadar sucinya cintaku....Ngger Dasawilukrama, kalau engkau ingin kita bisa bersatu...balaskanlah dendamku...rusaklah hubungan Rama dan Sinta...buat Rama mendidih diamuk cemburu...aku merasakan di sudut hatinya masih ada kesangsian Rama pada Sinta, apalagi kandungan Sinta begitu cepat tumbuh...itulah yang meragukannya...mainkan itu Ngger...hasut Rama, agar dia buang Sinta...

 

Dasawilukrama: Aah...haruskah seperti itu kanjeng rama?

 

Godayitma: Ya..harus begitu...setelah Sinta disingkirkan...engkau bisa membunuh Rama dengan pusaka yang aku berikan padamu ini...namanya Kyai Pecatyitma. Tusuk Rama dengan keris ini Ngger. Dan sekarang...supaya engkau lebih sakti, aku akan manjing ke Goa Garbamu...

 

Dasawilukrama melaksanakan semua siasat yang telah diberikan Prabu Godayitma. Secara khusus, Dasawilukrama menghasut Rama akan pesatnya kandungan Sinta, yang tidak sewajarnya kandungan wanita lumrah. Menurut Dasawilukrama, hal itu hanya ada dua kemungkinan: pertama, bayi yang dikandung berwujud denawa, karena itu besar kemungkinan ada kama Rahwana dalam rahim Sinta.... bukankah kama Rahwana yang menetes di daun nagasari pun bisa hidup sebagai Dasawilukrama? Kedua, usia kehamilan Sinta mungkin memang sudah lewat waktu berarti saat Sinta diboyong Rama, sebenarnya dia telah mengandung.... Mulailah Rama terhasut bujukan Dasawilukrama.

 

Prabu Rama, akhirnya memerintahkan Gunawan Wibisana untuk mengasingkan Dewi Sinta, hingga melahirkan dan akan ada bukti bagaimana rupa bayi yang dikandung. Agar tidak ada syak wasangka lebih lanjut, pengasingan Sinta ini dilakukan secara diam-diam. Sinta diasingkan di pertapaan Wismaloka, di bawah penjagaan dan pengawasan Resi Walmiki, seorang brahmana arief yang mengabdikan diri pada kebenaran.

 

Pada suatu malam, Dasawilukrama berhasil menyusup ke peraduan Rama Wijaya, saat mengendap-endap hendak menusukkan Kyai Pecatyitma ke raga Rama, tangannya ditangkap Jaya Anggada yang selalu memata-matainya. Terjadi perang tanding di antara mereka. Karena terdesak dan Kyai Pecatyitma berhasil direbut Jaya Anggada, Dasawilukrama berteriak-teriak:

 

"Toloooong....Jaya Anggada mbalelo, dia mau membunuh Prabu Rama..toloong bantu aku menangkap duratmaka Jaya Anggada!"

 

Trengginas Jaya Anggada meloncat ke atas genting menghindari kejaran para pengawal dan panglima...tubuhnya melenting ke sana ke mari hingga memasuki kasatriyan Bikukungpura tempat kediaman patih Beganasura.

 

Jaya Anggada akhirnya bertemu dengan Beganasura yang juga berniat membalas dendam ingin menyerang Prabu Rama Wijaya, setelah bertempur dahsyat Beganasura tewas oleh Jaya Anggada. Pakaian kebesaran Beganasura diambilnya dan dipakai untuk menantang Dasawilukrama. Di hadapan Prabu Rama Dasawilukrama terus bersandiwara seakan siap melindungi Prabu Rama. Tantangan Beganasura diterima, bertempurlah mereka dengan dahsyat...pada satu kesempatan Beganasura berhasil melakukan pitingan pada leher Dasawilukrama...berbisiklah Dasawilukrana : "Di Beganasura, lepaskan pitinganmu, sesungguhnya kita setujuan, aku juga menaruh dendam pada prabu Rama...ayo mumpung dia lengah, kita serang dia dari belakang."

 

Beganasura yang sesungguhnya Jaya Anggada, sudah tidak kuat menahan amarah, mendengar kelicikan Dasawilukrama, terdengar suara leher patah di susul tusukan kyai Pecatyitma di dada kiri Dasawilukrama....Dasawilukrama roboh bersimbah darah...dari ubun-ubunnya keluarlah gelembung sukma Prabu Godayitma disaksikan Prabu Rama, segenap Narpati dan Panglima. Jaya Anggadapun melepas busana Beganasura menyembah Prabu Rama, dan menyerahkan kyai Pecatyitma.

 

"Angkara gung nèng ôngga anggung gumulung, gêgolonganira tri loka lêkêre kongsi, yèn dèn umbar ambabar dadi rubeda" (pupuh pucung serat Wedhatam - Sampeyan Ndalem Mangkoenagara IV)..nafsu angkara yang bergulung dalam jiwa kita, kalau diumbar akan menimbulkan masalah besar"

 

Anggada mendesis menembangkan macapat ini, sambil mengingatkan betapa dia sudah mengingatkan apa yang bisa terjadi, jika si 'angkara' di bekali sarana.

 

"Socaning jiwangganira,Jer katara lamun pocapan pasthi, lumuh asor kudu unggul, Semengah sesongaran, Yen mangkono keno ingaran katungkul, Karem ing reh kaprawiran, Nora enak iku kaki." (pupuh pangkur - Wedhatama - Sampeyan Ndalem Mangkoenegara IV)...Cerminan dari dalam jiwa ragamu, Nampak jelas walau tutur kata halus, Sifat pantang kalah maunya menang sendiri Sombong besar mulut Bila demikian itu, disebut orang yang terlena Puas diri berlagak tinggi ..semua itu tidak baik.

 

Dalam pupuh ini Anggada seakan mengingatkan bahwa jiwa Angkara itu ada dalam watak tidak mau kalah dan mau menang sendiri...Itulah dua jenis racun yang disebar setan berjejuluk ANGKARA: Yang pertama LUMUH ASOR dan yang kedua KUDU UNGGUL.

 

Kali ini semua bisa merasakan kebenaran Jaya Anggada. Tanpa sepatah kata Rama memeluk Jaya Anggada dan mengajaknya masuk ke dalam istana.*

 

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


TAG TERKAIT