Jumat, 19 April 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Wayang
Wiswamitra Ginoda
Sabtu, 24 Oktober 2015[656]

KISUTA.com - Di kaki gunung Himawan yang dikelilingi lebatnya hutan Dandaka, sang Maharesi Wiswamitra guru Rama dan Laksmana tengah bertapa dengan khusuknya. Kehebatan tapa sang Maharesi ini mengguncangkan kahyangan, sehingga Dewa Indra mengutus putrinya yang jelita, Bathari Menaka untuk menggoda iman sang Resi dan membatalkan tapa bratanya. Dengan segala daya upaya berbekal kemolekan tubuhnya, Menaka melaksanakan perintah Bathara Indra.

 

Iman sang Resi goyah oleh kemolekan tubuh Menaka. Lupalah Sang Resi tujuan tapa bratanya..bersama Menaka sang Resi mereguk madunya asmara, hingga Menaka hamil.

 

Kehamilan Menaka membuat aktivitas asmara mereka berkurang, hal ini menyadarkan Wiswamitra, betapa Menaka telah membuatnya batal mencapai kesempurnaan tapa bratanya...marahlah Wiswamitra.

 

Wiswamitra: Hmm...Menaka, engkau mulai ragu melayaniku... kemana cinta kasihmu yang telah membuatku mabuk kepayang, hingga tapakupun aku hentikan...

 

Menaka: Ooo Begawan, lihatlah..aku sedang hamil...tidak mungkin aku bisa melayani hasratmu setiap saat...

 

Wiswamitra: Menaka...aku bukan anak kecil yang mudah engkau bujuk...aku ini Maharesi..aku tahu manakala engkau enggan dan manakala ragamu memang tak siap melayaniku....engkau tidak sungguh-sungguh mencintaiku...engkau hanya menggodaku...

 

Menaka: Baiklah sang Resi...kalau memang itu maumu...aku akan berterus terang padamu....Aku memang bidadari Maniloka, yang bertugas membatalkan tapa bratamu dengan kekuatan asmara dan keindahan tubuhku...

 

Wiswamitra: Nista..hina sungguh kelakuanmu...mengapa bidadari membangkitkan nafsu untuk membatalkan tapaku...engkau wanita menjijikkan, busuk palsu!!!...(Wiswamitra bangkit mengumpat-umpat...hilang sudah rasa cintanya tersingkir egonya yang mulai tumbuh)

 

Bathari Menaka beringsut membenahi diri, matanya menyorot tajam ke wajah Wiswamitra.

 

Menaka: Wiswamitra, engkau seorang Maharesi, tapi lihatlah betapa engkau telah gagal menjaga akhlak dan moralmu. Ketika engkau berteriak betapa busuk dan palsunya aku..lihatlah dirimu sendiri, sudah bersihkan kelakuanmu? Kalau engkau manusia bersih, bagaimana engkau mudah tergoda dan berenang dalam maksiat?? Para Dewa melihat tapamu yang hebat itu sebenarnya tidak tulus...karena terdorong ambisimu untuk mengalahkan Begawan Wasista....karena itu, sebelum engkau sadar pada kesombonganmu...aku wajib membatalkan usahamu itu, agar tetap ada keselarasan diantara para brahmana... maafkan aku, kalau akhirnya hubungan kita harus berakhir dengan rasa sakit hatimu...

 

Wiswamitra: Pergi engkau Menaka....pergi engkau dari hadapanku....bawa janinmu...dan jangan bawa-bawa namaku pada anakmu kelak...

 

Bidadari Menaka segera pergi meninggalkan pertapaan Wiswamitra, di tepi sungai Malini, Sang bidadari melahirkan bayi perempuan. Bayi tersebut ditinggalkan seorang diri di sana sementara ibunya terbang ke kahyangan kembali sebagai bidadari... tanpa cinta kasih sang bayi dirawat oleh sekumpulan burung Sakuni, sampai diketemukan oleh Resi Kanwa...yang memungutnya dengan kasih sayang dan memberinya nama Sakhuntala.

 

Di pertapaannya Wiswamitra masih dipenuhi rasa kekecewaan yang besar. Godaan menaka membuatnya surut beberapa langkah untuk bersaing dengan Resi Wasista.

 

"Katetangi tangisira, Sira sang paramengkawi, Kawileting tyas duhkita, Katamen ing ren wirangi, Dening upaya sandi, Sumaruna angrawung, Mangimur manuhara, Met pamrih melik pakolih, Temah suhha ing karsa tanpa wiweka." (Serat Kalatidha - R.Ng Ranggawarsito)

 

Hati rasanya menangis penuh kesedihan karena dipermalukan. Karena perbuatan seseorang yang seolah memberi harapan. Karena ada pamrih untuk mendapatkan sesuatu. Terlalu gembira hingga kehilangan kewaspadaan.*

 

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


TAG TERKAIT