Selasa, 18 Juni 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Wayang
Shakuntala Pupon
Senin, 26 Oktober 2015[736]

KISUTA.com - Air mata Bathari Menaka terus menetes, di tepi sungai Malini, Sang bidadari melahirkan bayi perempuan. Seorang bayi yang jelita, kulitnya putih bersemu merah jambu, rambutnya ikal, matanya bak bintang kejora. Tangan bayi itu menggapai-gapai seakan mencari pelukan ibundanya. Naik sedu sedan Bathari Menaka. Sebagaimana janji Hyang Indra, tugasnya sebagai penggoda, membatalkan tapa brata Begawan Wiswamitra, akan usai begitu jabang Bayi hasil hubungan itu lahir. Menaka telah pulih sebagai bidadari, dia harus kembali ke Maniloka, meninggalkan putri kecilnya di pinggir sungai Malini. Tangan Bathari Menaka mengusap-usap lembut rambut bayinya, senandungnya penuh perasaan.

 

Poma aja na nglakoni, ing sabarang polah ingkang salah tan wurung weleh polahe, kasuluh solahipun, tan kuwama solah kang silip, semune ingeseman ing sasaminipun, mulaneta awakingwang, poma aja na polah kang silip, samya brongta ing lampah.

 

Lawan malih wekas ingsun kaki, kalamun sira andarbe karsa, aja sira tinggal bote, murwaten lan ragamu, lamun derajatiro alit, aja ambek kuwawa, lamun siro luhur, den prawira anggepiro, dipun sabar jatmiko alus ing budi, iku lampah utama. (Serat Wulangsunu Pupuh 1 gatra 10-11 karya Sinuwun Pakubuwono IV)

 

Ingat-ingat jangan lakukan, segala tingkah yang salah, karena semua itu pasti akan terkuak (diketahui orang banyak), perbuatanmu akan terbongkar dan engkau tak akan kuat menyandangnya, seolah-olah semua orang hanya melempar senyum, untuk itu anakku, ingatlah jangan ada yang berbuat salah agar hidupmu tidak mengalami kesusahan.

 

Ada lagi nasehatku anakku, bila kamu mempunyai kehendak jangan sampai memberatkan diri, jagalah badanmu, bila derajatmu kecil, jangan merasa berkecil hati, bila kamu menjadi orang luhur, tegakkanlah pendapatmu, bersabar dengan kehalusan, budi, itulah perbuatan yang utama.

 

Sekali lagi Bathari Menaka mencium kening bayi kecilnya, dengan mantra saktinya, sang Bathari berpesan lembut pada sekumpulan burung Sakuni, yang mengelilingi bayi kecil itu.

 

“Duhai burung Sakuni, kutinggalkan permata hatiku di sini, hiburlah dia dengan kicauan merdumu...selimuti dia dengan kelembutan bulu-bulumu...sampai tiba seorang bijak bestari memungut kekasih hatiku...dan membesarkannya dengan kasih sayangnya.”

 

Burung-burung Sakuni itu menganggukkan kepalanya seakan memahami pesan sang Bathari.

 

Bayi molek itu ditinggalkan seorang diri di sana sementara ibunya terbang ke kahyangan. Sang bayi dirawat oleh sekumpulan burung Sakuni. Sampai pada suatu hari, Begawan Kanwa, seorang pertapa sakti dari pertapaan Himawan, melintas di tepi sungai itu. Pertapa ini terkejut melihat seorang bayi tergeletak, dirawat oleh burung Sakuni.

 

“Jagad Dewa Bathara, aah...betapa agungnya kuasaMu ya Khalik Alam...bayi merah yang sehat seperti ini, bisa tergolek tanpa tangis, dirawat sekumpulan burung Sakuni. Bayi ini pasti bukan anak sembarangan.”

 

Begawan Kanwa matek aji, dia bersila di sisi sang Bayi, satu tangannya terletak di dahi, satu tangan lagi dalam posisi menyembah di dada. Dipusatkannya semadinya untuk menggali asal usul Sang Bayi. Terbukalah kisah asmara Wiswamitra, Menaka dan kelahiran Sang Bayi. Begawan Kanwa, mengernyitkan keningnya, sungguh tragis awal kehidupan bayi ini... tanpa kasih sayang Bapa dan Ibu, dia hadir ke dunia. Oleh Begawan Kanwa bayi itu dipungut, diberkahi, dipelihara, dan diberi nama Sakuntala karena dirawat oleh burung Sakuni. Dengan curahan kasih sayang Begawan Kanwa, Shakuntala tumbuh sebagai gadis cantik, cerdas dan berbudi pekerti tinggi.

 

Suatu hari, Prabu Duswanta dari kerajaan Kuru berburu sampai ke tengah hutan di kaki gunung Himawan. Sampai di tengah hutan, ia menemukan lokasi pertapaan yang sangat indah. Di sana ia disambut dengan ramah oleh puteri cantik jelita bernama Shakuntala. Melihat wajah sang puteri pertapa yang sangat elok, timbulah keinginan Sang Raja untuk menikahinya. Shakuntala menolak, namun rayuan Sang Raja, terus mengejarnya tanpa henti. Akhirnya Sakuntala bersedia menikahi Sang Raja dengan syarat bahwa anak yang dilahirkannya harus menjadi pewaris tahta Sang Raja. Karena diselimuti rasa cinta, Sang Raja bersedia memenuhi permohonan tersebut. Mereka menikah dalam pernikahan gandarwa (tanpa saksi hanya diikat dengan janji suci, dengan bukti cincin sang Raja)

 

Sang Raja bercinta dalam gairah yang tak kunjung padam dengan Shakuntala. Beberapa hari madu asmara itu mereka reguk, Duswantapun pergi meninggalkan pertapaan karena terikat oleh kewajibannya sebagai seorang Raja. Ia pun pulang dan berjanji bahwa kelak ia akan kembali lagi ke pertapaan tersebut untuk menjemput Shakuntala beserta anaknya jika sudah lahir.

 

Saat Shakuntala termenung mengenang kepergian Sang Raja, Bagawan Kanwa pulang dari hutan sambil membawa bunga dan kayu bakar. Shakuntala hanya diam membisu. Karena kesaktiannya, Bagawan Kanwa mengetahui kejadian yang dialami Shakuntala meskipun Shakuntala bungkam. Bagawan Kanwa membesarkan hati Shakuntala dan memberinya kata-kata yang lembut.

 

“Anakku Shakuntala...aku tahu apa yang engkau lakukan..engkau malu, itu wajar dan memang sebaiknya begitu menunjukkan keluhuran budimu. Kelak, dari rahimmu akan lahir buah perbuatanmu. Lakukan tugasmu sebagai ibu sejati...jika tiba saatnya, kawal anakmu menerima hak nya dari ayahnya. Aku akan tetap mendampingimu anakku. Ingatlah sabda ibumu dalam tembang sebelum meninggalkanmu...bahwa.. segala tingkah yang salah, pada akhirnya akan terkuak..terimalah itu dengan besar hati, seseorang yang luhur akan akan menegakkan kepalanya saat tertimpa masalah..jagalah dengan kesabaran dan kehalusan budi, hingga kau temukan kedamaian hidupmu.” Nasihat Begawan Kanwa itu menyejukkan hati Shakuntala.*

 

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


TAG TERKAIT