Selasa, 18 Juni 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Wayang
Duswanta Ingkar Janji
Minggu, 1 November 2015[608]

KISUTA.com - Di lereng gunung Himawan, pertapaan Resi Kanwa, Shakuntala telah melahirkan seorang putra tampan yang diberi nama Sarwadamana.

 

Karena besar di lingkungan hutan dan dikelilingi hewan-hewan liar, semenjak kecil Sarwadamana telah menundukkan binatang-binatang di hutan. Harimau, gajah dan singa takluk kepadanya.Bakatnya dalam olah kesaktian sangat luarbiasa menunjukkan asal keturunannya yang tidak sembarangan. Resi Kanwa sangat bangga padanya.

 

Setelah menunggu-nunggu Sarwadamana tidak dijemput oleh prabu Duswanta sesuai janjinya, timbullah keinginan Shakuntala untuk membawa puteranya ke istana di Kerajaan Kuru. Ia juga membawa cincin yang dititipkan oleh Duswanta. Di tengah perjalanan, cincin tersebut hilang ke dalam sungai. Shakuntala sedih dan bimbang, tetapi karena yakin akan besarnya cinta sang Raja, dilanjutkannya perjalannya.

 

Sesampainya di istana, Duswanta menyangkal bahwa Shakuntala adalah istrinya. Ia juga menyangkal bahwa Sarwadamana adalah puteranya.

 

Duswanta: Wanita gunung, jangan sembarangan engkau mengaku-aku, apa buktinya engkau istriku dan anak ini putraku?

 

Shakuntala: Duh Sinuwun, jika paduka menanyakan bukti..sungguh hamba akui keteledoran hamba...cincin yang paduka berikan, hilang tercebur di sungai...tetapi hamba yakin paduka masih mengingat masa-masa indah, ketika paduka mengajak hamba melakukan pernikahan gandarwa, karena besarnya cinta paduka pada hamba...

 

Duswanta: Cukup...berhentilah menghiba-hiba, kalau engkau tidak memiliki bukti apapun...bagaimana aku bisa mengakuimu? (Sebenarnya Duswanta mengingat semua kisahnya dengan Shakuntala, tetapi penampilan Shakuntala yang dibalut pakaian sederhana, walaupun kecantikannya tetap menggetarkan sukma..membuatnya malu, apalagi pengakuan adanya perkawinan gandarwa itu...duuuh, Duswanta malu mengingat nafsunya yang tak terbendung yang membuatnya menikahi wanita itu tanpa kebesarannya sebagai raja agung)

 

Sarwadamana: Ibu..mari kita pulang. Aku tidak butuh pengakuan laki-laki di hadapanmu itu, untuk membuatmu bahagia dan memuliakan namamu Ibu. Lihatlah sejak lahir di tanganku sudah tergambar bentuk Cakra, bukankah dewa-dewa menjanjikan bahwa pemilik gambar Cakra ini akan menjadi Cakrawartin (Raja besar penguasa dunia)...Ibu, aku akan membahagiakanmu Ibu.

 

Tiba-tiba turunlah Bathara Narada yang membenarkan semua ucapan Shakuntala.

 

"Ooeeyyy ngger Duswanta, kebablasan kamu...jangan kau ingkari apa yang telah kau perbuat. Seorang laki-laki yang mengingkari perbuatannya, dan menunggu orang lain menguakkan semua aibnya adalah prilaku pengecut...engkau raja ksatria, mengapa engkau berlindung pada apa yang tidak diketahui manusia ? lelaku dedemitan ?...Sadarlah Ngger, engkau bisa bersembunyi dari rakyatmu, masyarakatmu..tetapi bisakah engkau bersembunyi dari pengawasan Hyang Widi Wasa ?...pada akhirnya semua akan terkuak, masihkah kau tunggu sampai habis dayamu menghindari tanggung jawabmu?"

 

Setelah mendengar sabda tersebut, Duswanta tidak bisa mengelak. Ia memenuhi janjinya untuk mencalonkan Sarwadamana sebagai raja. Pada saat itu pula, nama Sarwadamana diganti menjadi Bharata, dan Shakuntala ditahbiskan sebagai Permaisuri raja.*

 

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


TAG TERKAIT