Selasa, 18 Juni 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Wayang
Anoman Madeg Begawan
Rabu, 4 November 2015[1193]

KISUTA.com - Di bukit Kendalisodo, Anoman menceritakan sabda Sang Rama pada istrinya Sayempraba dan anaknya Trigangga.

 

Anoman: Sayempraba dan Trigangga, dari pesan-pesan Prabu Rama itu, akupun memutuskan untuk madeg Begawan dan menjauhi segala hiruk pikuk dunia ini, kecuali tenagaku dibutuhkan sesuai nasehat Sri Rama.

 

Sayempraba: Kakangmas, jadi paduka memutuskan untuk tetap madeg kapanditan di Gunung Kendalisodo ini?

 

Anoman: Ya Sayempraba, aku masih harus waspada dengan gelembung-gelembung kejahatan Rahwana yang mungkin saja masih keluar dari retakan bukit sondara sondari...apa yang merisaukanmu?

 

Sayempraba: Sesungguhnya hamba ingin kembali ke Kerajaan Kotawindu. Anak kita Trigangga sudah dewasa, selayaknya dialah yang mewarisi Kotawindu..Tidak mungkin hamba meninggalkannya sendiri. (Dewi Sayempraba adalah wanita yang cantik dan selalu dekat dengan kemewahan, membayangkan menghabiskan sisa hidupnya di bukit terpencil dengan suaminya sungguh membuatnya khawatir. Anoman memaklumi isi hati Sayempraba, di hati kecilnya tak masalah bagi Anoman, karena perkawinannya dengan Sayempraba bukanlah atas dasar cinta, tetapi untuk menjaga kehormatan wanita itu yang telah melahirkan anaknya Trigangga)

 

Anoman: Pergilah Sayempraba, dampingi anak kita menjadi raja yang bijak. Jangan khawatirkan aku.

 

Sepeninggal Sayempraba dan Trigangga, Anoman menjalani kehidupannya sebagai seorang Begawan Sakti yang bijak. Anoman banyak menolong penduduk dan kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Kendalisodo, saat sukma Rahwana membuat onar sebagai Prabu Godayitma, merasuk ke kerajaan-kerajaan itu.

 

Suatu hari datanglah Resi Purwapada dari pertapaan Andonsumawi berkunjung ke Kendalisodo, didampingi putrinya yang jelita Endang Purwati.

 

Anoman menyambut kedatangan Resi Purwapada, dengan hati berdesir terus menerus diliriknya Endang Purwati yang dari perawakan hingga wajahnya sangat mirip dengan Dewi Trijata wanita yang sesungguhnya menjadi pujaan hatinya.

 

Anoman: Maaf sang Resi, sebenarnya apa yang menjadi kehendak Sang Resi berkunjung ke Kendalisodo?

 

Purwapada: Pertama, saya ingin menghaturkan rasa kagum dan hormat saya pada paduka Oo Begawan Mayangkara, segala lelabuhan dan pengabdian paduka selalu dekat dengan kebajikan dan melawan kebathilan.

 

Anoman: Aah bukankah itu wajar sebagai tugas kita. Kalau ada yang pertama tentu ada yang kedua apakah itu ? dan siapakah nini dewi ini ? mengapa andika ajak kemari...

 

Purwapada: Ah ya, ini anak saya Endang Purwati, maafkan kebodohan kami, anak saya yang lugu ini beberapa malam lalu bermimpi bersanding dengan paduka, dan dia merasa yakin itulah tujuan hidupnya untuk merawat paduka dan menjadi sisihan paduka Sang Resi, maafkan saya...

 

Anoman: (kaget sekaligus bersyukur, karena diam-diam pesona asmara yang terpendam sudah mulai merayapi kalbunya) Jagad Dewa Bathara...tidak salahkah ini, nini engkau masih demikian muda dan cantik jelita, tidak salahkah pilihanmu untuk mendampingiku...ingat, aku tidak bisa menjanjikan kemewahan, drajat dan pangkat yang biasanya menjadi tujuan wanita mencari jodohnya nini...

 

Endang Purwati memandang Anoman dan tersenyum manis, dari bibir mungilnya terdengar macapatan merdu...

 

Hawya pegat ngudiya Ronging budyayu, Margane suka basuki

Dimen luwar kang kinayun, Kalising panggawe sisip, Ingkang taberi prihatos

Ulatna kang nganti bisane kepangguh, Galedehan kang sayekti

Talitinen awya kleru, Larasen sajroning ati, Tumanggap dimen tumanggon (Waosan serat Sabdojati - R.Ng Ronggowarsito)

 

Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,

agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita, terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.

Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,

mawas diri, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati, agar mudah menanggapi sesuatu.

 

Purwati: Paduka Resi yang mengedepankan kepentingan orang banyak dibandingkan kebutuhan sendiri, Paduka gemar laku prihatin dan selalu mau memahami orang lain...Berbahagialah hamba jika pengabdian hamba paduka terima. Purwati tidak silau dengan drajat pangkat dan kemewahan, kasih yang tulus dan ketenangan hidup bersama guru lakiku, itulah harapanku.

 

Akhirnya Anoman menikahi Purwati sebagai istrinya yang terakhir sampai akhir hayatnya. Mereka memiliki seorang putra yang rupawan bernama Bambang Purwaganti.*

 

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


TAG TERKAIT