Jumat, 19 April 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Wayang
Parasara Kasmaran
Jumat, 20 November 2015[604]

KISUTA.com - Alkisah di Gunung Mahendra, seorang bidadari jelita tengah bersemedi mengolah jiwa dan raganya sebagai pertapa. Bidadari tersebut bergelar Begawan Rukmawati.

 

Begawan Rukmawati sering menjadi tumpuan pertanyaan jika para raja mendapatkan masalah. Hal ini karena sang Begawan memiliki kawaskitan yang mumpuni, tinggi ilmunya namun sangat membumi, sabar dan welas asih kepada para siswanya.

 

Suatu hari Prabu Parikenan yang merasa akan moksa dan mendapat anugerah menjadi dewa di Swargaloka, mengantarkan putranya Parasara, agar dididik sebagai siswa Begawan Rukmawati.

 

Parikenan: Kanjeng Ibu Begawan, mohon ijin hamba serahkan anak keturunan hamba Parasara untuk paduka didik. Sebagaimana dahulu paduka mendidik hamba.

 

Rukmawati: Ya Parikenan, jangan khawatir. Tenangkan hatimu menerima penugasanmu sebagai salah satu dewa di Swargaloka. Itu adalah pencapaian dan pengakuan luarbiasa atas kemampuan dan pengabdianmu anakku.

 

Parikenan: Semua berkat bimbingan Ibu Begawan. karena itulah hamba yakin, menyerahkan Parasara pada bimbingan kanjeng Ibu Begawan adalah pilihan terbaikku Ibu.

 

Rukmawati: Baiklah Parikenan. Aku terima anakmu sebagai siswaku, aku melihat anak ini memiliki jiwa Brahmana agung. Semoga aku tidak mengecewakanmu Parikenan.

 

Setelah menyerahkan Parasara, Parikenan moksa (hilang bersama raganya) dan naik ke surga sebagai dewa berjuluk Hyang Brahmanan.

 

Sepeninggal Parikenan, Begawan Rukmawati pun mengajarkan segala kepandaiannya kepada Parasara sampai akhirnya sang murid dinyatakan lulus dan layak menggunakan gelar Resi karena kawaskitan dan kesaktiannya.

 

Seusai menempuh pendidikan, Resi Parasara sebenarnya terpesona melihat kecantikan gurunya yang seorang bidadari dan awet muda itu. Saat itu Resi Parasara telah berusia empat puluh tahun, namun baru kali ini ia merasa tertarik kepada seorang wanita. Dengan penuh rasa malu, ia pun memberanikan diri mengutarakan perasaannya kepada Begawan Rukmawati.

 

Begawan Rukmawati tidak dapat menerima cinta Resi Parasara karena tiga hal. Pertama, karena Resi Parasara adalah muridnya. Kedua, karena Resi Parasara adalah keturunan Prabu Parikenan yang tidak lain adalah anak angkatnya sendiri. Ketiga, karena Begawan Rukmawati merasa sudah saatnya ia mencapai moksa, bersatu dengan semesta.

 

Resi Parasara merasa kecewa bercampur malu. Namun, Begawan Rukmawati menghibur, bahwa tidak lama lagi Resi Parasara akan berjodoh dengan seorang wanita yang mirip dengannya. Setelah berpesan demikian, Begawan Rukmawati pun dijemput kereta emas yang turun dari langit. Rukmawati menaiki kereta tersebut kemudian musnah dari pandangan Resi Parasara. Sepeninggal gurunya, Gunung Mahendrapun mulai lenyap dari pandangan, pertapaan Rukmawati tak berbekas lagi, akhirnya Parasara mendirikan padepokan di gunung Sapta Arga tepi Sungai Gangga.*

 

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


TAG TERKAIT