Selasa, 18 Juni 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Jeddah
Kota Islam yang Kosmopolitan
Selasa, 17 Mei 2016[686]
Kota Islam yang Kosmopolitan
NET

LETAK Kota Jeddah di pantai Laut Merah, 75 km dari kota suci Mekah, memiliki arti penting dan strategis bagi kemajuan dan perkembangan Kerajaan Arab Saudi sejak zama dahulu. Pelabuhan Jeddah yang diberi nama “Pelabuhan Islam” (Jeddah Islamic Port) itu, merupakan pintu utama segala kegiatan bisnis, baik dalam bentuk komoditas impor maupun komoditas ekspor.* 

KISUTA.com - Jeddah bukan sekadar nama kota pelabuhan di Jazirah Arab yang terkenal sejak lama karena kesibukan-kesibukannya di dalam perdagangan, tetapi juga merupakan kota paling ramai dikunjungi oleh umat Islam dari seluruh pelosok dunia, di dalam rangkaian perjalanan ibadah haji ataupun umrah. Jeddah juga merupakan pintu gerbang menuju kota lain di dalam pelaksanaan ibadah haji ataupun umrah, khususnya kota-kota suci Mekah dan Madinah.

 

Letak Kota Jeddah di pantai Laut Merah, 75 km dari kota suci Mekah, memiliki arti penting dan strategis bagi kemajuan dan perkembangan Kerajaan Arab Saudi sejak zama dahulu. Pelabuhan Jeddah yang diberi nama “Pelabuhan Islam” (Jeddah Islamic Port) itu, merupakan pintu utama segala kegiatan bisnis, baik dalam bentuk komoditas impor maupun komoditas ekspor.

 

Ditunjang oleh pusat perdagangan modern yang sangat sibuk, bukan saja untuk Kerajaan Arab Saudi tetapi juga untuk negara-negara tetangganya, Jeddah menjadi kota internasional, berbeda dengan Mekah ataupun Madinah. Karena itu kehidupan di kota ini sangat jauh berbeda dengan kehidupan di kota-kota lainnya di Arab Saudi, apalagi dibandingkan dengan kehidupan di kota-kota suci Mekah dan Madinah.

 

Jeddah sebelumnya, pada 2500 tahun yang lalu, hanyalah sebagai desa nelayan. Didirikan pada tahun 647 M oleh Khalifah Utsman bin Affan yang akhirnya digunakan sebagai pelabuhan untuk kepentingan jamaah haji terutama pada masa-masa perjalanan jamaah haji dilakukan melalui laut, bukan melalui udara seperti sekarang ini.

 

Belum jelas asal usul Jeddah, namun dari sumber sumber yang umumnya dibawa oleh jamaah haji, kata Jeddah berasal dari kata dalam bahasa Arab Jaddah yang berarti nenek sebab di sana ada makam yang diyakini sebagai makam Hawa istri Nabi Adam yang merupakan nenek moyang manusia. Sumber lain mengatakan bahwa Jeddah berasal dari kata Jiddah dalam bahasa Arab yang berarti lepas pantai.

 

Banyak cerita mengenai bagaimana bebasnya Jeddah, kota kedua terbesar di Arab Saudi setelah Riyadh. Sebagai kosmopolitan yang didiami banyak ekspatriat dari berbagai negara, Jeddah relatif terbuka dengan budaya luar. Sebutlah, misalnya, tempat-tempat hiburan.

 

Di samping itu, Jeddah juga merupakan kota diplomatik, sebab di kota inilah berkedudukan istana raja, Departemen Luar Negeri Arab Saudi, dan perkantoran badan-badan perwakilan asing. Pintu gerbang Arab Saudi ini sering dijadikan ajang pertemuan antarbangsa untuk membicarakan masalah-masalah dunia Islam.

 

Akan tetapi, arti penting Jeddah dalam pengembangan Islam terutama ditentukan oleh kedudukannya sebagai pintu gerbang bagi jemaah haji yang datang ke kota Mekah, Madinah dan Arafah. Keamanan dan keterbukaan kota ini sepanjang sejarah Islam sangat mempengaruhi kelancaran pelaksanaan rukun Islam yang kelima dan sangat menentukan bagi syarat istitaah (kesanggupan) seorang jemaah haji.

 

 

Pintu Gerbang Tanah Suci

KOTA Jeddah merupakan pintu gerbang menuju kota lain di dalam perjalanan ibadah haji ataupun umrah, khususnya kota-kota suci Mekah dan Madinah. Jemaah haji atau umrah asal Indonesia yang umumnya menggunakan angkutan udara akan mendarat di bandara “King Abdul Aziz”, yang dibangun dan ditata modern. Bandara ini merupakan bandara tersibuk di dunia terutama pada musim haji, terbagi ke dalam 3 terminal yaitu terminal domestik, internasional dan terminal khusus untuk ibadah haji.

 

Khusus terminal haji, atapnya berbentuk tenda seperti yang digunakan masyarakat Arab, terbuat dari bahan yang mahal dan kekuatannya dapat dibanggakan. Rancangan bangunan terminal ini telah memenangkan hadiah dan penghargaan internasional karena keunikan, keindahan dan ketahannya, yaitu penghargaaan internasional Agha Khan untuk arsitektur Islam pada 1983.

 

Di dalam terminal haji, semua fasilitas yang diperlukan oleh jemaah tersedia secara lengkap dan memuaskan. Kamar mandi, kamar kecil, kantin, rumah makan, toko buku, toserba, sarana komunikasi, klinik, hingga tim keamanan (polisi) pun ada di mana-mana. Semua ini menambah ketenangan dan kenyamanan para tamu Allah.

 

Di dalam Kota Jeddah, terdapat 12 rumah sakit modern, dan ada pula 21 klinik khusus. Selain itu terdapat ratusan taman indah dan menarik, ribuan lampu penerangan dengan ketinggian mulai 3,5 meter sampai 31 meter yang tersebar luas di seluruh kota. Terdapat sejumlah pasar sayuran, buah-buahan, alat-alat rumah tangga, pakaian, kendaraan sampai pasar ternak, juga tersebar luas pusat-pusat perbelanjaan modern, seperti yang umum terdapat di kota-kota modern di benua Eropa atau Amerika.

 

Panorama indah yang mengagumkan adalah kehadiran air mancur Raja Fahd di tengah Laut Merah dengan tinggi pancarannya sampai 260 meter. Pada sore hari saat matahari akan terbenam atau malam hari ketika diterangi lampu sorotnya, keindahan air mancur ini ternyata memiliki nilai tertinggi di dunia.

 

Transportasi darat antara Jeddah dengan Mekah dan Madinah serta kota-kota lainnya sudah dilakukan secara modern, yaitu menggunakan jalan lebar bebas hambatan. Tentu saja Mekah hanya bisa dicapai melalui jalan darat, sebab Kota Mekah tidak memiliki bandara. Jalan darat bebas hambatan sejauh 75 km antara Jeddah-Mekah,dengan 8 jalur pada tiap arah merupakan jalan sibuk setiap saat.

 

Kota Jeddah menjadi gerbang utama untuk memasuki kota-kota suci sehingga keberadaannya begitu penting bagi umat Islam. Apalagi Jeddah juga menjadi Qarnul Manazil sebagai salah satu miqat makani bagi jemaah haji dan umrah yang akan memasuki kota suci Mekah.* Abu Ainun - kisuta.com


TAG TERKAIT