Rabu, 18 September 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Ka'bah
Keajaiban Dunia dari Segala Keajaiban
Jumat, 20 Mei 2016[598]
Keajaiban Dunia dari Segala Keajaiban
NET

KA'BAH sebagai lambang dan pemersatu umat Islam, setiap detik tidak pernah sepi dari mereka yang berthawaf, apalagi pada musim haji. Thawaf mengelilingi Ka’bah dilakukan setiap hari, sejak tengah malam sampai tengah malam lagi, sejak minggu pertama hingga minggu terakhir, dan sejak bulan pertama hingga bulan terakhir.*

KISUTA.com - Ketika Nabi Ibrahim as bersama putranya Nabi Ismail as diperintah Allah SWT untuk meletakkan dasar bagi pendirian “masjid pertama” sebagai lambang keagungan dan kebesaran-Nya, tempat semua umat-Nya dapat beribadah dengan baik. Bangunan dasar untuk pendirian “Rumah Allah” inilah yang sekarang dikenal sebagai Ka’bah.

 

Untuk membentuk bangunan Ka’bah yang lebih nyata terutama dalam ukurannya, maka Nabi Ibrahim meletakkan batu khusus di bagian sudut timur. Batu ini menurut kisahnya mula-mula berwarna putih bersih, tetapi kemudian sejalan dengan perjalanan hidup manusia yang selalu bersimbah dosa dan kesalahan, batu itu lama kelamaan menjadi hitam, sehingga dinamakan Hajar Aswad.

 

Selama pembangunan Ka’bah berlangsung, Nabi Ibrahim berdiri di atas sebuah batu agar dapat melihat bagaimana bentuk bagian atas Ka’bah secara nyata. Batu bekas berdiri Nabi Ibrahim yang terletak di bagian timur Ka’bah, dikenal kemudian dengan nama Maqam Ibrahim. Pada tersebut tampak cetakan kaki sedalam 10 cm.

 

Pada zaman Nabi Ibrahim tinggi Ka’bah mencapai 4,5 meter, berbentuk segi empat memanjang dengan bagian ujung membulat. Ada pintu di bagian dasarnya, dan tidak beratap.

 

Setelah Nabi Ibrahim wafat, Ka’bah jatuh ke tangan kaum Jurhum yang telah lama bermukim di lembah Mekah. Selama beribu tahun Ka’bah berada di bawah kekuasaan kaum ini, sebelum akhirnya jatuh pula ke dalam kekuasaan kaum Kuzzah selama 300 tahun. Pada saat itu kedudukan Ka’bah sangat labil karena lembah Mekah sering dilanda banjir, dan pada suatu ketika benar-benar bangunan Ka’bah hancur oleh terjangan banjir dan tanah longsor. Tetapi Ka’bah kemudian dibangun dan diperbaiki kembali oleh Qusay ibn Kilab sesuai bentuk aslinya, kecuali di bagian atas, yang olehnya diberi atap.

 

Banjir dan longsor besar kemudian menghancurkan Ka’bah kembali. Kaum Quraisy lalu membangun Ka’bah kembali dengan biaya yang tidak tercampur dengan “riba” atau sumber lain yang haram. Ini dimaksudkan agar pembangunan kembali Ka’bah akan tetap utuh dan langgeng sampai akhir zaman.

 

Pada 8 H atau 630 M, Nabi Muhammad SAW mengambil alih dan menetapkan Ka’bah, di samping sebagai tempat ibadah juga menjadi kiblat umat. Segala jenis patung berhala atau gambar dan tulisan di dalam dan di luar Ka’bah yang tidak ada kaitannya dengan Islam disingkirkan. Maka sejak saat itu Ka’bah bebas dari kehadiran gambar-gambar dan boneka/patung pemujaan.

 

Pada 1630 M, kembali Lembah Mekah tempat Ka’bah berada dilanda banjir besar. Ka’bah mengalami rusak berat. Sultan Murad kemudian memerintahkan untuk membangunnya kembali dari bahan-bahan asalnya. Baru pada 1957 M pada saat Kerajaan Arab dipimpin oleh Ibnu Saud, bangunan Ka’bah kembali berwujud seperti yang terlihat sekarang ini, dengan bentuk dan sifat yang sama seperti sebelumnya.

 

Lambang Pemersatu Umat

BERBAGAI keajaiban dunia telah sering diceritakan. Tetapi ternyata satu pun tak ada yang dapat menandingi apalagi melebihi “keajaiban” Ka’bah, yang berada di pelataran tengah Masjidilharam. Ka’bah sebagai lambang pemersatu umat Islam, setiap detik tak pernah sepi dari jemaah yang berthawaf, apalagi pada musim haji.

 

Bangunan yang menyerupai bentuk kubus ini merupakan bangunan pertama di atas bumi yg digunakan untuk menyembah Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 96 yang artinya: “Sesungguhnya permulaan rumah yang dibuat manusia untuk tempat beribadah itulah rumah yang di Bakkah (Mekah), yang dilimpahi berkah dan petunjuk bagi alam semesta”.

 

Ka’bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul-’Atiq (Rumah Kemerdekaan). Dibangun berupa tembok bersegi empat yang terbuat dari batu-batu besar berwarna kebiru-biruan yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekah.

 

Rumah Allah ini dibangun di atas satu dasar pondasi yang kokoh yang terbuat dari marmer tebalnya kira-kira 25 cm. Tinggi seluruh dinding 15 m, lebar dinding Utara (Rukun Iraqi) 10,02 m, lebar dinding Barat (Rukun Syam) 11,58 m, lebar dinding Selatan (Rukun Yamani) 10,13 m, dan lebar dinding Timur (Rukun Aswadi) 10,22 m. Keempat dinding ini ditutup oleh semacam kelambu sutra hitam yang disebut Kiswah dan tergantung dari atap sampai ke kaki. Sejak zaman Nabi Ismail, Ka’bah sudah diberi penutup semacam ini.

 

Bagian tembok atau dinding yang terdapat di antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah disebut sebagai Multazam. Tempat ini digunakan oleh muslimin untuk bermunajat kepada Allah, khususnya setelah melakukan thawaf. Ini adalah tempat yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW sebagai tempat yang paling mustajab untuk berdoa.

 

Sepanjang sejarah, Masjidilharam selalu terbuka siang dan malam untuk orang-orang yang ingin melakukan thawaf, i’tikaf, atau orang-orang yang ingin shalat. Lantai tempat thawaf saat ini telah terbuat dari marmer dingin yang dapat menahan panasnya sengatan matahari, sehingga memungkinkan orang-orang untuk thawaf tanpa menggunakan alas kaki. Saat siang hari, karpet shalat yang terdapat di pelataran thawaf bahkan lebih panas daripada marmernya.

 

Ka’bah sebagai lambang dan pemersatu umat Islam, setiap detik tidak pernah sepi dari mereka yang berthawaf, apalagi pada musim haji. Thawaf mengelilingi Ka’bah dilakukan setiap hari, sejak tengah malam sampai tengah malam lagi, sejak minggu pertama hingga minggu terakhir, dan sejak bulan pertama hingga bulan terakhir.

 

Setahun penuh Ka’bah tidak pernah berhenti dikitari oleh manusia. Hanya ketika umat Islam yang berada di pelataran Ka’bah tengah melakukan shalat, maka pada saat itu pula thawaf terhenti, karena semua tunduk sujud dalam shalat.* Abu Ainun - kisuta.com


TAG TERKAIT