Rabu, 19 Juni 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Ramadhan di Mesir
Bila Meriam Iftar Sudah Menggelegar
Senin, 6 Juni 2016[540]
Bila Meriam Iftar Sudah Menggelegar
NET

KEMERIAHAN Ramadhan di Mesir dapat dilihat di ibukota negara piramid ini, Kairo. Sejak hari pertama sahur, kemeriahan sudah terasa. Ditandai dentuman meriam “Midfar al Iftar” atau Meriam Iftar, masyarakat Mesir memulai hari pertama puasa.*

KISUTA.com - “Kalian belum menikmati Ramadhan, kalau belum ber-Ramadhan di Mesir”. Begitu orang Mesir menggambarkan kemeriahan di negaranya saat bulan Ramadhan.

Kemeriahan Ramadhan di Mesir dapat dilihat di ibukota negara piramid ini, Kairo. Sejak hari pertama sahur, kemeriahan sudah terasa. Ditandai dentuman meriam “Midfar al Iftar” atau Meriam Iftar, masyarakat Mesir memulai hari pertama puasa. Meriam Iftar yang merupakan bagian dari tradisi kuno Ramadhan di Mesir. Tak hanya untuk menandai waktu berbuka, tapi juga waktu imsak dan dimulainya bulan puasa.

Konon, meriam Ramadhan ini bermula pada tahun 865 Hijriyah, saat pemerintah Ottoman Khooshghadam berkuasa di Mesir. Bermula saat Ottoman yang berkuasa di Mesir kala itu tengah bermain dengan meriam barunya di area istana. Tanpa sengaja, meriam itu meletus dan suaranya menggema ke seluruh tanah Mesir. Masyarakat spontan menganggapnya sebagai tanda berbuka puasa.

Esok harinya, saat dentuman tak terdengar, sejumlah tetua bertandang ke Istana Ottoman agar suara dentuman itu diperdengarkan lagi sebagai tradisi untuk menandai waktu berbuka puasa.

Dalam kunjungan itu, mereka disambut istri Ottoman, Hajja Fatma, yang mengatakan bahwa Ottoman setuju. Meriam itu pun diberi nama “Hajja Fatma” sebagai penghormatan kepada wanita yang telah mensahkan tradisi kuno tersebut.

Seperti di Indonesia, saat sahur diramaikan dengan anak-anak dan remaja yang berkeliling kampung membangunkan penduduk. Sepanjang jalan, mereka menabuh gendang dan menyanyikan lagu-lagu gembira.

Kemeriahan Ramadhan di Mesir, juga ditandai dengan lentera-lentera indah yang dipasang di sepanjang jalan. Keindahan warna-warni lentera ini terlihat indah di Kairo. Setiap rumah sengaja memasang lentera-lentera beraneka bentuk dan warna. Dahulu, lentera yang disebut fanoos, dibuat dari kaleng dan gelas warna warni yang disimpan lilin di dalamnya. Sekarang bentuk fanoos sudah lebih modern dan indah, juga tidak lagi menggunakan lilin tetapi diganti dengan listrik.

Menjelang Ramadhan, penduduk Mesir sudah mulai membeli fanoos . Mereka menghias rumahnya dan jalan-jalan di sekitarnya dengan fanoos, sehingga terang benderang dan indah. Tradisi ini telah dimulai sejak lama yakni dari zaman Dinasti Fattimiyah. Ketika itu fanoos dipasang untuk menyambut kedatangan pasukan Raja yang datang berkunjung menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Selain meriam dan lentera, masih ada tradisi Ramadhan di Mesir, yaitu tradisi maidah rahman atau hidangan kasih sayang. Hidangan yang dibagikan secara gratis kepada muslim yang berpuasa ini, disediakan oleh masjid, rumah makan, hingga restoran berbintang.

Menunya beragam, dari yang sederhana hingga makanan bercita rasa bintang lima. Dari hidangan manis hingga makanan utama yang terbuat dari daging sapi, daging kambing, ayam, hingga ikan, tersedia. Sedangkan untuk minumannya, selalu tersedia susu kambing yang berisi potongan kurma dan sirop mawar.

Namun, ada menu wajib yang selalu dihidangkan, yaitu kunafa dan qatayef. Kunafa (kanafeh) dibuat dari kunafa pastry, yaitu adonan khusus untuk kunafa dan mentega lalu diisi krim dan kacang-kacangan lalu disiram sirup.

Sedangkan qatayef berupa pangsit manis berisi keju tawar atau campuran aneka kacang, seperti walnut, pistachio, atau almond. Adonan kulitnya dibuat dari tepung, ragi, dan air, lalu dimasak dengan cara seperti membuat pancake.* Ati - kisuta.com


TAG TERKAIT