Senin, 21 Oktober 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Ramadhan di Afghanistan
Meski Negeri Berperang, Puasa Tetap Semarak
Rabu, 8 Juni 2016[644]
Meski Negeri Berperang, Puasa Tetap Semarak
NET

MENJELANG berbuka puasa, banyak warga Afgan yang hadir ke masjid-masjid. Berbagi makanan saat buka puasa merupakan tradisi warga Afghanistan. Acara buka bersama berlangsung sederhana. Dimulai dengan menyantap makanan kecil seperti buah kurma, roti, dan segelas air putih atau teh.*

KISUTA.com - Afghanistan adalah sebuah negeri yang memiliki etnis beragam. Terletak di daratan tertinggi Asia Tengah, negeri ini menghampar seluas 650.000 km persegi, dikurung oleh pegunungan yang menjulang tinggi. Negeri yang kering, sedikit pasokan air, namun tetap hijau di beberapa bagiannya. Beriklim tanah, sehingga teramat dingin pada musim dingin dan sangat panas pada musim panas.

Sebagian besar penduduk Afghanistan adalah petani dan beragama Islam. Jumlah muslim di negeri ini mencapai 99% terbagi dua dengan 80% menganut Islam Suni, 19% Syiah, 1% sisanya menganut kepercayaan lainnya.

Islam pertama kali masuk ke negeri ini pada sekitar tahun 647 Masehi, pada masa kekhalifahan Umar bin Al-Khata. Islam mendapat sambutan yang luar biasa di negeri ini, hampir seluruh penduduk Afghanistan suka rela menjadi pemeluk agama Islam yang taat.

Dalam perkembangannya, Afghanistan menjadi pusat perkembangan ilmu dan kekuatan Islam di wilayah Asia Tengah, terutama pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Al-Gaznawi (962-1151 Masehi). Banyak ulama masyhur di Asia bagian tengah dan timur yang berasal dari Afghanistan. Di antaranya Abu Hanifah, Al-Baihaqi, Al-Balki, Ibnu Hibban Al-Basti, Imam At-Tarmidzi, Imam As-Nasa’i, Imam Al-Bukhari, dan Djamaluddin Al-Afghani.

Meskipun negeri ini telah porak poranda akibat perang yang masih berlangsung hingga hari ini, namun penduduknya tetap menyambut Ramadhan dengan antusias. Memang, mereka tidak bisa bebas melakukan aktivitas di luar rumah, karena keamanan yang tidak terjamin.

Menyambut kedatangan bulan Ramadhan, pihak pemerintah Afghanistan menetapkan dua hari di awal Ramadhan sebagai hari libur nasional. Rakyat Afghanistan memanfaatkannya untuk mempersiapkan bekal melaksanakan puasa degan berbelanja kebutuhan bahan makanan di pasar-pasar.

Dahulu, untuk mengetahui munculnya bulan Ramadhan, para pemuda naik ke atas gunung tertinggi untuk menunggu munculnya bulan sabit. Jika sabit telah muncul, mereka akan menyalakan api sebagai pertanda mulainya puasa Ramadhan. Masyarakat yang menunggu di bawah akan bersuka cita menyambut kabar ini.

Kegiatan di bulan Ramadhan sebagaimana di negara muslim lainnya, diawali dengan makan sahur atau “sahaar” orang Afgan menyebutnya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW mencontohkan, warga muslim Afgan melaksanakan sahur menjelang datangnya waktu fajar. Menu sahur sangat sederhana, semangkuk bubur nasi atau sekerat roti dengan sepotong buah-buahan seperti semangka, segelas chai, dan tidak lupa beberapa buah kurmai. Terkadang sebagian orang Afgan melaluinya hanya dengan sepotong buah-buahan dan segelas chai, teh hitam khas Afghanistan beraroma cardamon atau kapulaga.

Suasana bulan Ramadhan, baru terasa menjelang senja. Sebagian warga, terutama kaum laki-laki berdiri mengantre membeli makanan pembuka puasa. Kedai-kedai roti atau nan dipenuhi pengunjung. Bagi warga yang memiliki keuangan lebih memadai dapat membeli makanan seperti kebab di restoran.

Dari pengeras suara di pinggir jalan terdengar alunan ayat-ayat suci Al-Qur'an menyemarakkan sore-sore di bulan Ramadhan. Beberapa stasiun televisi menayangkan beberapa program Ramadhan di layar kaca.

Menjelang berbuka puasa, banyak warga Afgan yang hadir ke masjid-masjid. Berbagi makanan saat buka puasa merupakan tradisi warga Afghanistan. Acara buka bersama berlangsung sederhana. Dimulai dengan menyantap makanan kecil seperti buah kurma, roti, dan segelas air putih atau teh. Setelah membatalkan puasa, berlanjut dengan melaksanakan shalat magrib. Selepas shalat magrib, barulah menyantap makanan yang lebih mengenyangkan seperti chalaw.

Chalaw adalah nasi khas Afghanistan, yaitu beras putih basmati yang bulirnya berbentuk panjang dan ramping dimasak setengah matang, kemudian ditiriskan lalu dipanggang di dalam oven, diberi sedikit mentega dan garam. Nasi chalaw ini disajikan dengan qormas, masakan yang populer di Afghanistan berupa daging yang ditumis dengan bawang goreng dan dicampur dengan buah-buahan dan sayuran dengan bumbu rempah-rempah.

Usai iftar, umat lslam Afghanistan melaksanakan shalat tarawih. Ada yang melaksanakannya di masjid, adapula di rumah. Beberapa masjid di kota melaksanakan berbagai kegiatan Ramadhan bagi anak-anak, pemuda dan mahasiswa.* Ati - kisuta.com


TAG TERKAIT