Senin, 21 Oktober 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Ramadhan di Maroko
Makan Bertahap, Tarawih Dua Putaran
Jumat, 10 Juni 2016[540]
Makan Bertahap, Tarawih Dua Putaran
NET

MAROKO yang biasa dikenal dengan sebutan Maghrib atau negeri matahari terbenam ini, mayoritas penduduknya beragama Islam. Maroko mempunyai tradisi selama Bulan Puasa. Kebiasaan mereka berbuka puasa dengan makan bersama keluarga di rumah.*

KISUTA.com - Maroko adalah negara arab yang terdekat dengan benua Eropa, letaknya di ujung utara benua Afrika, berbatasan dengan Al-Jazair di sebelah timur, dengan Muritania di sebelah selatan, dengan Samudera Atlantik di sebelah baratnya dan Laut Mediterania di sebelah utaranya.

 

Maroko memiliki geografis yang sangat strategis, di mana Maroko dalam sejarahnya, menjadi pintu utama bagi masuknya Islam ke benua Eropa, tepatnya Spanyol yang kemudian dikenal dengan sejarah Andalusia.

 

Andalusia mencatat sejarah tersendiri atas gemilangnya Islam setelah Bani Fatimiyah di Mesir, yaitu ketika dinasti Bani Fatimiyyah goncang, salah satu penerus Fatimiyah dapat melebarkan sayapnya menuju Eropa melalui Selat Giblaltar hingga seluruh negara di tepi utara Benua Afrika menjadi negara Islam hingga kini.

 

Negeri Maroko yang biasa dikenal dengan sebutan Maghrib atau negeri matahari terbenam ini, mayoritas penduduknya beragama Islam. Mayoritas umat Islam di negeri ini menganut Madzab Maliki baik dalam berfiqih maupun ber-ushul. Bahkan Amirul mukminin (julukan Raja Maroko) memfatwakan untuk mengikuti satu mazhab, yaitu Mazhab Maliki. Walaupun demikian, masih ada juga sebagian masyarakat Maroko yang mengikuti Mazhab Hanbali seperti kebanyakan masyarakat kota Tangier (kota sebelah utara Maroko).

 

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Maroko mempunyai tradisi selama Bulan Puasa. Salah satu tradisi yang sampai sekarang masih dilakukan di setiap keluarga adalah, kebiasaan mereka berbuka puasa dengan makan bersama keluarga di rumah. Tidak hanya santapan berbuka dan sahur saja sebagaimana lazimnya di Indonesia, namun ada santapan makan malam yang dilaksanakan antara (selepas) berbuka puasa dan (sebelum) sahur. Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat kelas menengah ke atas, tapi juga hampir berlaku bagi semua lapisan masyarakat Maroko dengan menu yang tidak jauh berbeda.

 

Tidak seperti di masjid-masjid negara bagian Teluk seperti Qatar, Kuwait, Saudi dan negara-negara gudang minyak lainnya , di Maroko hanya sebagian kecil saja masjid yang menyediakan makanan untuk berbuka puasa atau futur kepada para jamaahnya. Umat Islam kebanyakan berbuka puasa di rumah masih-masing, terkait dengan kebiasaan mereka yang membagi makanan dalam empat tahapan.

 

Saat waktu berbuka puasa tiba, mereka membatalkannya dengan memakan beberapa butir kurma dan minum air putih secukupnya. Kemudian mereka bergegas ke masjid untuk melaksanakan shalat Magrib berjamaah.

 

Selepas shalat Magrib, barulah mereka memasuki tahap kedua berbuka puasa, yaitu menikmati hidangan khas Maroko di rumahnya masing-masing. Selain kurma, menu yang dihidangkan di tahap kedua adalah, subaikiyah (manisan khas Maroko yang terbuat dari tepung dengan campuran gula dan madu), roti tawar kering lengkap dengan mentega atau madu atau selai, serta milwi, makanan khas yang terbuat dari terigu yang bentuknya mirip dengan martabak dengan beberapa butir telur rebus sesuai porsi masing-masing.

 

Sedangkan menu wajib adalah khariroh atau harira, sop khas Maroko yang terbuat dari kacang khumus, bawang, tomat, telur, dan aneka rempah-rempah, kadang juga dicampur sedikit daging dan jeroan. Minumannya adalah teh yang dicampur daun na'na dan khalib (susu), juga juice buah dan kadang kopi susu (sesuai selera).

 

Selesai menyantap hidangan yang merupakan makanan berat terssebut, muslim Maroko melanjutkan dengan shalat Isya dan tarawih. Di Maroko, tarawih dilaksanakan dua putaran, putaran pertama setelah shalat Isya dan putaran kedua menjelang adzan Subuh.

 

Makan Sahur, bagi orang Maroko dianggap kurang begitu penting. Kita pun bisa membayangkan, mulai selepas salat Maghrib, aneka makanan dilahapnya. Tentu saja membuat perut masih kenyang. Bagi orang Maroko, sahur itu umumnya mereka lakukan pada pukul 3.00, sebelum mereka bergegas ke masjid untuk melaksanakan shalat tarawih putaran kedua . Sahur bagi mereka sekadar untuk melaksanakan ibadah sunnah (sahur). Cukup dengan meminum beberapa gelas susu, air putih, dan makanan ringan berupa kue-kue kering khas Ramadhan Maroko. Bahkan banyak sekali orang Maroko yang sering melewatkan makan sahur begitu saja karena masih kekenyangan.

 

Sahur di Maroko ditandai dengan bunyi terompet panjang khas Maroko yang bernama nefar. Beberapa pria meniupkan nefar berkeliling kota untuk mengingatkan waktu sahur. Nefar adalah sejenis terompet berbentuk panjang dan ramping yang mengeluarkan suara khas. Bagi sebagian orang nefar identik dengan suasana Ramadhan, khususnya saat sahur. Sayangnya, kebiasaan meniup nefar untuk membangunkan sahur kini sudah mulai menghilang, khususnya di kota-kota besar seperti Marrakesh.* Ati - kisuta.com


TAG TERKAIT