Jumat, 19 April 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Kampung Di Atas Awan
Kampung nan Damai di Balik Awan Manggarai
Sabtu, 13 Agustus 2016[538]
Kampung nan Damai di Balik Awan Manggarai
NET

KAMPUNG Di Atas Awan merupakan kampung yang eksotis yang berada di daerah terpencil pedalaman Manggarai, berdekatan dengan Taman Nasional Komodo. Perjalanan menuju kampung ini dapat ditempuh selama 4 jam perjalanan dari Ruteng (desa yang terdekat), dengan berjalan kaki dengan medan yang mendaki bukit.*

KISUTA.com - Kampung Wae Rebo yang berada di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Barat Flores, Nusa Tenggara Timur dijuluki oleh masyarakat setempat sebagai Kampung Di Atas Awan. Mengapa Kampung Wae Rebo sampai mempunyai julukan yang unik tersebut?

 

Menurut Indonesia.travel, Kampung Wae Rebo memang merupakan kampung yang eksotis yang berada di daerah terpencil pedalaman Manggarai, berdekatan dengan Taman Nasional Komodo. Perjalanan menuju kampung ini dapat ditempuh selama 4 jam perjalanan dari Ruteng (desa yang terdekat), dengan berjalan kaki dengan medan yang mendaki bukit.

 

Dijuluki Kampung Di Atas Awan, mungkin karena letaknya yang berada di dataran tinggi atau 1.100 meter di atas permukaan laut (dpl), sehingga seperti berada di atas awan. Kampung Wae Rebo tersembunyi di atas pegunungan, sehingga ada penduduk di sekitarnya yang tidak mengetahui keberadaan kampung ini. Begitu juga dengan wisatawan, belum banyak yang mengetahui kampung nan indah ini. Kalau ada wisatawan yang berkunjung ke kampung ini, justru wisatawan mancanegara seperti wisatawan Belanda, Perancis, Jerman, Amerika, dan beberapa negara Asia. Wisatawan lokal belum banyak yang mengunjunginya.

 

Selain eksotis, Kampung Wae Rebo atau Kampung Di Atas Awan ini mempunyai keunikan. masyarakat tradisional Kampung Wae Rebo hanya memiliki satu marga (klan), berbeda dengan masyarakat adat lainnya di Indonesia yang mempunyai lebih dari satu marga.

 

Selain itu, sejak pertama kali kampung ini ada, jumlah rumahnya tak pernah berubah, hanya tujuh rumah. Rumah adat yang dinamakan Mbaru Niang berbentuk kerucut setinggi 15 meter. Rumah adat yang beratapkan daun lontar atau rumbia ini, memiliki lima lantai. Lantai pertama bernama Lutur yang merupakan tempat tinggal pemilik rumah. Lantai kedua bernama Lobo yang merupakan tempat penyimpanan bahan makanan dan barang. Lantai ketiga dinamakan Lentar yang menjadi tempat menyimpan benih jagung dan bibit tanaman. Lantai keempat dinamakan Lempa Rae yang menjadi tempat menyimpan persediaan cadangan makanan saat panen gagal karena kendala cuaca. Lantai kelima dinamakan Hekang kode yang merupakan tempat penyimpanan sesaji bagi para leluhur.

 

Keunikan lainnya, masyarakat Kampung Wae Rebo dilarang memakan binatang musang, karena binatang ini sangat dikeramatkan. Menurut tetua adat, musang termasuk hewan yang berteman dengan leluhur mereka saat pertama kali datang ke Wae Rebo. Oleh karena itu mereka mempercayai bahwa musang adalah bagian dari leluhur mereka.* Ati - kisuta.com


TAG TERKAIT