Rabu, 21 November 2018Tentang Kami|Kontak Kami
CerdikSosok Inspirasi
Sara Brautigam
Berulang Kali Bangun dari Kematian
Sabtu, 29 April 2017[616]

KISUTA.com - Bagaimana rasanya berkali-kali mengalami kematian? Tersiksa, itu jawaban yang diberikan oleh Sara Brautigam, wanita berusia 21 tahun yang telah puluhan kali mengalami kematian.

 

Sara didiagnosa mengalami Postural orthostatic Tachycardia Syndrome (PoTS), sebuah kondisi langka yang membuat jantung tiba-tiba berhenti memompa darah selama beberapa menit. Dalam dunia medis, jantung yang berhenti berdetak adalah salah satu tanda kematian klinis.

 

Sara telah mengalami kematian klinis berulang kali, Dalam sebuah tayangan video, tampak Sarah mengalami gangguan dengan alat-alat kesehatan yang masih menempel pada tubuhnya. Kekuatan jantung Sara normal dan sehat, namun tak lama kemudian tak ada tanda pompaan dari jantungnya. Pada kondisi itulah Sara mati secara klinis, sebab tak ada darah yang mengalir ke seluruh bagian tubuhnya. Tim dokter tidak melakukan CPR (kejutan listrik) karena dianggap tidak efisien, sebab dalam satu menit berikutnya, jantung Sara akan terisi darah kembali dan bekerja. Di saat itulah Sara hidup kembali.

 

"Jika saya sedang kambuh, tidak ada yang bisa dilakukan, selain membiarkan saya terbaring meninggal dan berdoa," ujar Sara.

 

Bahkan dalam beberapa kali perawatan, tim medis berusaha mengejutkan Sara dan sengaja menyakitinya agar dia hidup kembali. Namun hal itu tidak memberikan hasil.

 

Sara bisa kapan saja mengalami kematian klinis. Ketika kondisi itu terjadi, Sara tak ingat apapun. Walau kadang dia masih bisa mendengar suara-suara, dia tak punya kuasa untuk sadar. Yang diingatnya, saat bangun di bagian dadanya terasa sakit dan dia merasa sangat lelah.

 

Karena gangguan ini, Sara tidak bisa menggapai impiannya untuk bergabung di militer. "Semua impian saya hancur, saya bahkan tidak bisa bekerja di bidang pekerjaan paling ringan sekalipun," ujar Sara yang menceritakan betapa kondisinya sangat menyiksa.

 

"Saya kehilangan banyak teman. Tetapi saya punya satu sahabat baik di masa sekolah. Semua orang sibuk dengan kehidupan masing-masing untuk peduli dengan gangguan yang saya alami," ujar Sara yang berharap bisa hidup normal.* Uma – kisuta.com


TAG TERKAIT