Rabu, 19 Juni 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Situ Ciburuy
Lirik Syahdu Telaga Keindahan
Minggu, 23 Juli 2017[339]
Lirik Syahdu Telaga Keindahan
IST.

SITU Ciburuy tetap menjadi tujuan wisatawan baik lokal maupun nusantara. Letaknya yang berada di pinggir jalan raya Padalarang ini, membuat Situ Ciburuy sangat mudah dikunjungi.*

Situ Ciburuy laukna hese dipancing

Nyeredet hate ningali herang caina

Duh itu saha nu ngalangkung unggal enjing

Nyeredet hate ningali sorot socana

 

KISUTA.com - Situ Ciburuy merupakan salah satu obyek wisata yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di daerah Padalarang. Situ Ciburuy diyakini sebagai tempat peninggalan Prabu Siliwangi yang pernah digunakan sebagai arena pertarungan para jawara di Pulau Jawa.

 

Di Situ Ciburuy terdapat benda-benda bersejarah seperti keris, bende atau lonceng yang terbuat dari perunggu, kujang yang menjadi senjata khas Jawa Barat, trisula, tombak, dan tulisan Jawa kuno yang ditulis Prabu Kian Santang.

 

Situ Ciburuy pada mulanya dua sungai kecil yang ujungnya bertemu di Desa Ciburuy. Tahun 1918, lokasi pertemuan kedua sungai itu dibendung dan airnya digunakan untuk mengairi sawah-sawah desa. Lama kelamaan, bendungan ini airnya makin tinggi dan menggenangi wilayah seluas 14,76 ha. Tapi tanah tertinggi di tengah-tengah danau tidak tergenang, yang kemudian membentuk sebuah pulau mungil. Mayarakat setempat lantas memberinya nama Situ Ciburuy. Situ artinya danau, sedangkan Ciburuy diambil dari nama desa setempat.

 

Awal 1942, seorang Belanda bernama Tuan Bempi mengantongi hak memelihara ikan dari pemerintah Hindia Belanda di danau itu. Usaha perikanan yang dirintis Tuan Bempi berkembang pesat. Karena kesibukannya di bidang lain, pengelolaan sehari-harian danau ia percayakan kepada Romli, warga Desa Ciburuy.

 

Ketika Jepang masuk Indonesia pada tahun 1942, semua orang Belanda ditawan dan dibawa ke Jakarta, termasuk Tuan Bempi. Sejak itu keberadaan Tuan Bempi tidak diketahui jejaknya, sehingga Situ Ciburuy menjadi terbengkalai.

 

Setelah Tuan Bempi menghilang tahun 1942, setiap tahun di sekitar Situ Ciburuy selalu diadakan semacam upacara penolak bala. Upacara ini biasanya digabung dengan upacara menangkap ikan yang dinamakan “lotre”. Ketika itulah digelar pertunjukan wayang golek, kendang pencak dan ronggeng.

 

Sebagai salah satu tempat yang diyakini menjadi bagian dari sejarah Prabu Siliwangi, Situ Ciburuy tak luput dari mitos-mitos yang menyertainya. Ada beberapa mitos yang dipercayai oleh masyarakat sekitar Situ Ciburuy.

 

Masyarakat mempercayai bahwa ikan di Situ Ciburuy sulit dipancing. Mitos ini sudah berkembang sejak ratusan tahun lalu. Saking terkenalnya ikan di Situ Ciburuy sulit dipancing hingga diabadikan dalam sebuah lagu Sunda yang liriknya antara lain berbunyi, "Situ Ciburuy, laukna hese dipancing."

 

Sebait lirik tersebut memperlihatkan, bahwa memang ikan di sini sangat susah untuk dipancing. Dan konon, hanya pribumi asli yang mampu memancing ikan di situ tersebut karena mereka mempunyai trik atau cara memancing yang diperoleh secara turun temurun.

 

Ada lagi mitos yang mengatakan bahwa sepasang kekasih dilarang mengunjungi Situ Ciburuy, terutama pada hari Jumat dan Sabtu. Konon, bagi mereka yang keukeuh ke sana, maka hubungannya tidak akan langgeng.

 

Meskipun pamornya sebagai tempat wisata mulai menurun, namun Situ Ciburuy tetap menjadi tujuan wisatawan baik lokal maupun nusantara. Letaknya yang berada di pinggir jalan raya Padalarang ini, membuat Situ Ciburuy sangat mudah dikunjungi. Untuk menuju kawasan ini, wisatawan dari Bandung dan Jakarta yang melewati jalan tol Cipularang, bisa keluar dari gerbang tol Padalarang, letaknya sekitar 1 kilometer dari pintu tol.* Ati - kisuta.com


TAG TERKAIT