Jumat, 19 April 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Lembah Lebah Terbesar di Dunia
Pertaruhan Nyawa Para Pemburu Madu di Himalaya
Selasa, 21 November 2017[306]
Pertaruhan Nyawa Para Pemburu Madu di Himalaya
IST.

DI kaki gunung Himalaya, Nepal ada “surga” madu yang sangat terkenal. Tempat ini merupakan sarang lebah alami terbesar di dunia. Madu yang dihasilkan dari lembah ini kebanyakan akan diekspor ke Jepang, China, dan Korea Selatan untuk digunakan sebagai obat tradisional.*

KISUTA.com - Sejak lama madu dikenal sebagai makanan yang kaya akan nutrisi. Tak mengherankan jika hampir semua negara di dunia menggunakan madu dalam pengobatan tradisional penduduknya.

 

Madu yang dihasilkan dari sari bunga yang dianggap murni, dipercayai mampu menyembuhkan beragam penyakit, karenanya banyak sekali obat-obatan tradisional yang menggunakan madu sebagai bahan bakunya. Kualitas madu biasanya dilihat dari lebah yang menghasilkannya dan tempat madu berasal.

 

Madu yang berasal dari hutan-hutan di pedalaman, banyak dicari karena dianggap lebih murni dibandingkan dengan yang dihasilkan dari peternakan lebah. Biasanya harga madu dari hutan lebih mahal dibandingkan dengan yang berasal dari peternakan. Mengapa mahal? Selain kualitasnya lebih prima, proses untuk mendapatkannya pun lebih sulit.

 

Di kaki bukit Himalaya, Nepal ada “surga” madu yang sangat terkenal. Tempat ini merupakan sarang lebah alami terbesar di dunia. Madu yang dihasilkan dari lembah ini kebanyakan akan diekspor ke Jepang, China, dan Korea Selatan untuk digunakan sebagai obat tradisional.

 

Sebagai “surga” madu, sarang-sarang lebah bergerlantungan di lembah curam yang sangat berbahaya itu. Untuk memanen madu, pemburu madu harus mempertaruhkan nyawa karena medan yang dilaluinya sangat berbahaya. Mereka harus bergelantungan puluhan hingga ratusan meter di atas permukaan. Belum lagi sengatan lebah yang harus mereka rasakan.

 

Berburu madu sudah menjadi keahlian turun temurun penduduk di distrik Kaski tengah, Nepal. Mereka sudah biasa bergelantungan di dinding-dinding lembah yang sangat curam. Berbekal keranjang yang dililitkan di pinggang, mereka memanjat dinding lembah untuk memanen sarang lebah.

 

Menggunakan pisau-pisau yang dikaitkan dengan tongkat, mereka memotong sarang-sarang madu dan memasukkannya ke dalam keranjang yang ada di bawahnya.

 

Musim semi merupakan masa panen madu. Aksi para pemburu madu ini menjadi tontonan menarik wisatawan, sehingga lembah ini menjadi sangat terkenal.* Uma/berbagai sumber –kisuta.com


TAG TERKAIT