Rabu, 19 Juni 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Aokigahara
Hutan nan Seram, Tempat Favorit Bunuh Diri
Rabu, 20 Desember 2017[388]
Hutan nan Seram, Tempat Favorit Bunuh Diri
IST.

HUTAN Aokigahara di kaki Gunung Fuji merupakan hutan yang seram. Hutan yang dijuluki Lautan Pohon ini merupakan tempat favorit untuk bunuh diri di Jepang.*

KISUTA.com - Aokigahara merupakan hutan yang paling menyeramkan di Jepang, bahkan mungkin di dunia. Hutan seluas 35 kilometer persegi yang berada di kaki Gunung Fuji ini dijuluki “Jukai” atau lautan pohon karena lebatnya pohon yang tumbuh di hutan ini. Saking lebatnya menyebabkan sinar matahari dan udara sulit masuk sehingga jarang ada binatang yang hidup di dalamnya.

 

Karena kondisinya itu, hutan di sebelah baratdaya Ibukota Tokyo ini sejak puluhan tahun lalu hingga kini menjadi tempat favorit untuk bunuh diri. Konon, tak sedikit mayat orang-orang yang bunuh diri di sana tak lagi ditemukan. Itulah yang membuat hutan Aokigahara menjadi menyeramkan dan semakin angker.

 

Tanah di hutan ini sudah lama dikotori oleh tubuh manusia yang menyerah dengan kehidupan begitu saja. Sesekali akan ditemukan tubuh manusia yang bergantung dari atas pohon, itu artinya mereka mati bunuh diri dengan cara gantung diri. Tubuh atau tulang belulang di mana-mana, banyak pula harta benda seperti dompet, sepatu atau baju yang bertebaran. Di beberapa pohon, kadang masih tersisa tali bekas bunuh diri. Sehingga semakin membuat suasana di hutan ini mencekam.

 

Hutan Aokigahara telah berubah menjadi rumah bagi ribuan nyawa yang meregang akibat bunuh diri sejak 1950-an. Tempat ini bahkan disebut sebagai tempat yang sempurna untuk mati. Bahkan, sebagian wisatawan yang pernah mengunjungi hutan ini menyebutnya dengan Hutan Iblis di Jepang.

 

Legenda mengatakan bahwa semua ini dimulai setelah Matsumoto Seichon menerbitkan novel dengan nama Kuroi Kaiju pada tahun 1960. Cerita ini berakhir dengan sepasang kekasih yang bunuh diri di hutan. Sejak saat itu begitu banyak orang yang percaya akan cerita tersebut. Namun, sejarah bunuh diri di Aokigahara sendiri telah mendahului novel, dan tempat ini memang telah lama dikaitkan dengan kematian. Ratusan demi ratusan orang Jepang telah menggantung diri dari atas pohon-pohon hutan Aokigahara.

 

Sejak kemunculan buku The Suicide semakin meningkatkan angka kematian di Jepang. Di dalam buku tersebut ternyata berisikan pedoman bunuh diri yang sempurna. Bahkan, buku-buku tersebut ditemukan di dalam hutan bersamaan dengan barang-barang korban yang bunuh diri. Tidak diragukan lagi, metode paling umum yang dilakukan para korban bunuh diri adalah dengan menggantungkan diri di atas pohon, di Hutan Aokigahara!

 

Setiap tahun aparat setempat mengevakuasi tak kurang dari 100 jenazah yang tergantung di pepohonan di hutan ini. Bahkan banyak juga yang tidak ditemukan sampai bertahun-tahun kemudian.

 

Begitu terkenalnya tempat ini sebagai tempat bunuh diri, sampai-sampai pihak berwenang memasang papan peringatan di ujung jalur umum. Papan itu berisi pesan dari Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri, yang berbunyi: “Hidup Anda adalah hadiah tak ternilai dari orangtua. Pikirkan lagi orangtua, saudara-saudara, dan anak-anak Anda. Jangan simpan (masalahmu) sendiri. Bicarakanlah masalah-masalahmu.”

 

“Saya ingin menghentikan bunuh diri di hutan ini. Namun sulit untuk mencegah semua kasus ini,” kata Imasa Watanabe, pejabat Prefektur (setingkat provinsi) Yamanashi yang menguasai Hutan Aokigahara.

 

Hingga kini Hutan Aokigahara masih menjadi misteri dan membuat sebagian besar wisatawan yang datang ke Jepang merasa penasaran akan bukti nyata keangkeran hutan ini. Akan tetapi, biar bagaimanapun, hutan ini tetap menjadi hutan bunuh diri yang sempurna di Jepang.* das/berbagai sumber - kisuta.com


TAG TERKAIT