Selasa, 18 Juni 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Situ Patenggang
Tebaran Keindahan Tempat Melegendakan Cinta
Selasa, 2 Januari 2018[407]
Tebaran Keindahan Tempat Melegendakan Cinta
IST.

SITU Patengan terletak di Bandung Selatan, tepatnya di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Situ ini luasnya mencapai 150 hektare, dikelilingi kebun teh Rancabali dan kawasan hutan pinus Patengan.*

KISUTA.com - Bagi insan yang sedang dimabuk cinta, tempat wisata Situ Patenggang atau ada juga yang menyebutnya Situ Patengan menjadi tempat yang “wajib” untuk dikunjungi. Pemandangannya yang indah, membuatnya cocok sebagai saksi bagi pasangan yang berikrar janji setia.

 

Bagi masyarakat di sekitarnya, Situ Patenggang mempunyai legenda cinta. Nama Situ Patengan, berasal dari bahasa Sunda. Situ dalam bahasa Indonesia berarti danau atau telaga. Sedangkan Patengan diambil dari kata pateangan-teangan yang artinya saling mencari. Dikisahkan dulu ada sepasang sejoli yaitu Ki Santang dan Dewi Rengganis yang saling mencintai. Mereka berpisah sekian lamanya, dan saling mencari. Akhirnya mereka bertemu di tempat yang dinamakan Batu Cinta. Dewi Rengganis pun minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati yang bernama Pulau Asmara atau Pulau Sasaka.

 

Situ Patenggang adalah sebuah danau vulkanik yang terbentuk akibat letusan Gunung Patuha. Situ Patenggang terletak di Bandung Selatan, tepatnya di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Berada di kaki Gunung Patuha, Situ Patengan terletak sekitar 1.600 di atas permukaan laut. Karena berada di dataran tinggi, udara di sekitarnya terasa dingin dan tentunya segar.

 

Situ Patenggang yang luasnya mencapai 150 hektare ini, dikelilingi kebun teh Rancabali dan kawasan hutan pinus Patenggang. Duduk di tepian danau saja, mata kita sudah dimanjakan oleh hamparan hijau pohon-pohon pinus dan pohon-pohon teh. Masih belum cukup? Bisa berkeliling mengitari danau menggunakan perahu kecil, sepeda air, perahu bebek atau perahu dayung berwarna-warni yang banyak disewakan di sekitar situ.

 

Saat berperahu, kita bisa mengunjungi pulau kecil yang berada di tengah-tengah situ. Karena bentuknya menyerupai hati, pulau ini diberi nama Pulau Asmara atau Pulau Sasaka, seperti diceritakan di awal tulisan. Pulau ini masih ditumbuhi pohon-pohon yang cukup rindang, sehingga cocok menjadi tempat istirahat sejenak sambil melepas lelah. Batu Cinta yang disebut-sebut sebagai tempat pertemuan Ki Santang dan Dewi Rengganis, berada di pulau ini. Keberadaan Pulau Asmara dan Batu Cinta, menjadi bukti legenda Situ Patenggang. Menurut legenda juga, pasangan kekasih yang berperahu mengelilingi Pulau Asmara, maka kisah cintanya akan abadi seperti Ki Santang dan Dewi Rengganis.

 

Tertarik untuk mengunjungi Situ Patenggang? Perjalanan ke Situ Patenggang tidak terlalu berat. Dari Kota Bandung bisa ditempuh dalam waktu dua atau tiga jam. Namun dengan catatan, kalau lalu lintas tidak macet.

 

Perjalanan bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Apabila menggunakan kendaraan umum, sahabat kisuta.com bisa menggunakan bus jurusan Ciwidey. Sampai di Terminal Ciwidey, perjalanan dilanjutkan dengan angkutan umum. Sepanjang perjalanan, banyak petunjuk jalan menuju Situ Patenggang. Selama perjalanan, Anda akan dipuaskan dengan pemandangan hamparan kebun teh dan kebun stroberi. Apabila sahabat kisuta.com merupakan penggemar minuman teh dan sering mengonsumsi Teh Walini, maka sahabat akan melewati perkebunan teh yang menjadi pemasok Teh Walini.

 

Situ Patenggang juga berdekatan dengan sejumlah tempat wisata terkenal di wilayah selatan Kab. Bandung, yaitu Kawah Putih, Ranca Upas, Pemandian Air Panas, dan tentunya Perkebunan Teh Rancabali. Semoga informasi ini bermanfaat bagi sahabat kisuta.com untuk mengisi waktu libur.* Ati - kisuta.com


TAG TERKAIT