Rabu, 21 November 2018Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Pura Tanah Lot
Keindahan Magis Pulau Dewata
Jumat, 19 Januari 2018[270]
Keindahan Magis Pulau Dewata
IST.

TANAH Lot merupakan objek wisata alam yang terletak di Pantai Selatan Pulau Bali.* 

KISUTA.com - Tanah Lot merupakan objek wisata alam yang terletak di Pantai Selatan Pulau Bali, tepatnya di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali. Di objek wisata alam Tanah Lot ini ada dua pura yang terletak di atas bongkahan batu besar, yang menjadi ciri khas Tanah Lot. Satu pura terletak di atas batu dan satunya lagi terletak di di sebelah utara, di atas tebing yang menjorok ke laut, mirip dengan Pura Uluwatu.

 

Pura Tanah Lot merupakan pura laut sebagai tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Di bawah pura terdapat gua-gua yang di dalamnya ada beberapa ular laut yang dipercayai tinggal di bawah pura dan bertugas menjaga pura dari berbagai makhluk jahat. Berdasarkan mitos, ular tersebut merupakan penjelmaan dari selendang Danghyang Niartha. Ular laut tersebut sangat khas, berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning, dan mempunyai racun tiga kali lebih kuat dibandingkan dengan racun ular kobra.

 

Dengan memberikan sumbangan alakadarnya, kita dapat masuk dan melihat seekor ular yang berukuran cukup besar. Konon jika menyentuh ular tersebut sambil menyebutkan permintaan dalam hati, maka permintaan tersebut akan terwujud. Di bawah gua ada sumber air suci yang airnya tidak akan pernah kering meskipun musim kemarau. Sumber air tersebut merupakan air suci bagi umat Hindu.

 

Di Pura Tanah Lot selalu diadakan pergelaran tari Kecak yang banyak menggunakan unsur api. Saat tari Kecak ditampilkan bersamaan matahari terbenam, muncul suasana magis yang terbangun dari pemandangan matahari terbenam di balik bayangan pura.

 

Pura Tanah Lot didirikan oleh Danghyang Nirartha atau yang lebih dikenal dengan nama Empu Bawu Rawuh pada abad ke 15. Danghyang Nirartha merupakan seorang Brahmana yang berasal dari Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa. Dalam perjalanannya mengelilingi Pulau Bali sekitar tahun Icaka 1411 atau 1489 Masehi, Danghyang Niratha kembali ke Pura Rambut Siwi dari Blambangan.

 

Setelah berada di Pura Rambut Siwi beberapa lama, beliau melanjutkan perjalanannya menunju arah Purwa (Timur) dan sebelum berangkat paginya Danghyang Niratha melakukan sembahyang “Surya Cewana” bersama orang-orang yang ada di sana. Setelah menyiratkan (memercikkan) tirta terhadap orang-orang yang ikut melakukan persembahyangan, Danghyang Nirartha keluar dari Pura Rambut Siwi kemudian berjalan menuju ke arah Timur untuk melanjutkan perjalanannya.

 

Sebagaimana biasanya, di dalam perjalanan Danghyang Nirartha senantiasa membawa lontar dan pengrupak (pisau raut untuk menulis pada daun lontar), sehingga apa-apa yang diangap penting baik yang dilihat maupun yang dirasakan kemudian disusun dalam bentuk kekawain atau gubahan lainnya.

 

Di pantai ini terdapat sebuah pulau kecil yang terdiri dari tanah parangan (tanah keras). Tidak lama Dangyang Nirartha beristirahat di sana, maka berdatangan para nelayan untuk menghadap kepada Danghyang Nirartha sambil membawa berbagai persembahan untuk diaturkan kepada beliau. Kemudian setelah sore hari, para nelayan tersebut memohon kepada Danghyang Nirartha agar beliau berkenan bermalam di pondok mereka masing- masing. Namun permohonannya ini semua ditolak oleh Danghyang Nirartha, karena beliau lebih senang bermalam di pulau kecil itu.

 

Danghyang Nirartha menasehatkan kepada orang-orang itu untuk membangun Parhyangan (Pura atau Kahyangan) di sana, karena menurut getaran batin beliau yang suci serta petunjuk gaib bahwa tempat itu baik untuk tempat memuja Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang maha Esa ) . Dari tempat ini kemudian rakyat dapat memuja kebesaran sanghyang Widhi Wasa untuk memohon wara nugraha-Nya keselamatan dan kesejahteraan dunia.

 

Demikian antara lain nasehat Danghyang Nirartha kepada orang-orang yang mengahadap pada malam hari itu, yang akhirnya sesudah Danghyang Nirartha meninggalkan tempat itu, kemudian oleh orang-orang tersebut dibangunlah sebuah bangunan suci (Pura atau Kahyangan) yang diberi nama Pura Pakendungan yang kini lebih dikenal dengan sebutan Pura Tanah Lot.* das - kisuta.com


TAG TERKAIT