Rabu, 21 November 2018Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Nagoro, Desa Berpenduduk Mayoritas Boneka
Selasa, 27 Maret 2018[325]
Nagoro, Desa Berpenduduk Mayoritas Boneka
IST.

DESA bernama Nagoro memang sangat unik, karena penduduk desa ini sebagian besar adalah boneka-boneka yang merupakan “penjelmaan” dari penduduk yang sudah mati atau meninggalkan desa. Penduduk desa ini tak lebih dari 50 orang, lebih sedikit dari jumlah boneka yang mencapai 350 boneka.*

KISUTA.com - Jika Anda pernah mendengar di Jepang ada satu desa bernama Desa Tashiro yang penghuninya sebagian besar kucing, sehingga desa ini dinamakan sebagai “Pulau Kucing”. Maka di Pulau Shikoku Jepang, ada satu desa yang tak kalah unik karena penghuninya sebagian besar boneka. Penasaran?

 

Desa bernama Nagoro memang sangat unik, karena penduduk desa ini sebagian besar adalah boneka-boneka yang merupakan “penjelmaan” dari penduduk yang sudah mati atau meninggalkan desa. Penduduk desa ini tak lebih dari 50 orang, lebih sedikit dari jumlah boneka yang mencapai 350 boneka.

 

Keberadaan boneka-boneka di Desa Nagoro membuat desa ini menjadi misterius. Apalagi letak desa ini sangat terpencil di sebuah pulau terkecil dari empat pulau utama di Jepang.

 

Boneka-boneka “penduduk” Desa Nagoro nyaris mirip dengan manusia, baik dari ukurannya, bentuknya, maupun wajahnya. Tak heran jika penduduk maupun pengunjung desa ini sering merinding jika melihat boneka-boneka itu, karena memang mirip sekali dengan manusia.

 

Adalah Ayano Tsukimi (ada juga yang menyebutnya Mizuki Ayona) orang yang berada di balik kehadiran boneka-boneka di Desa Nagoro. Pria yang berprofesi sebagai seniman ini merasa sedih karena sebagian besar penduduk desa telah pindah ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Sedih melihat keadaan itu, Tsukimi pun mulai membuat boneka-boneka tersebut.

 

Tsukimi menggunakan bahan-bahan yang biasa digunakan untuk membuat boneka, seperti jerami, kain perca, dan pakaian bekas. Boneka ciptaan Ayano bukanlah sembarang boneka, karena ia menciptakan boneka sesuai dengan karakter penduduk desa yang dikenalnya, baik yang sudah mati maupun meninggalkan desa ke kota lain. Ayano pun meletakkan boneka-boneka buatan tangannya , mulai boneka anak-anak, nenek-nenek, kakek-kakek, dan orang dewasa di tempat-tempat yang mengingatkannya akan keadaan desanya dulu.

 

Di sebuah bangunan sekolah tampak terlihat boneka yang menyimbolkan seorang siswa sekolah itu yang telah tewas. Anda juga dapat menyaksikan boneka boneka ini sedang mengantri di sebuah halte bus, atau duduk diantara tumpukan jerami seperti layaknya petani.

 

Meskipun terkadang mengundang rasa ngeri, namun boneka-boneka itu bisa menggambarkan kondisi Desa Nagoro saat masih hangat oleh kehadiran penduduknya. Desa Nagoro yang tidak ada dalam peta Jepang ini, diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan akan ditinggalkan penduduknya. Penyebabnya tak lain, karena lokasi desa ini yang sangat terpencil.* Uma/berbagai sumber – kisuta.com


TAG TERKAIT