Rabu, 21 November 2018Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Air Terjun Darah
Keindahan Alam yang Mengiris Imajinasi
Kamis, 29 Maret 2018[248]
Keindahan Alam yang Mengiris Imajinasi
IST.

KEUNIKAN air terjun darah atau blood red water fall ini menyebabkan Gletser Taylor banyak dikunjungi, tidak hanya oleh ilmuwan, namun juga oleh wisatawan.*

KISUTA.com - Air terjun darah. Mendengar nama air terjun yang berada di Antartika, tepatnya di Gletser Taylor, Lembah McMurdo, Kutub Selatan ini, pasti Anda membayangkan seperti air terjun di film-film horor, yang airnya berasal dari darah korban pembunuhan.

 

Aliran air yang membentuk air terjun ini memang berwarna merah semerah darah, sangat kontras dengan permukaan Gletser Taylor yang berwarna putih. Namun warna merahnya bukan berasal dari darah manusia ataupun binatang.

 

Fenomena alam yang terjadi di Antartika ini, memang unik baik secara visual maupun ilmiah. Sebagian ilmuwan berpendapat, air berwarna merah yang mengalir tersebut merupakan campuran air dengan zat besi yang tersembunyi di bawah permukaan gunung. Air itu sendiri berasal dari sebuah danau kuno yang terletak sekira 762 meter di dalam gunung es. Selain itu, para peneliti meyakini, warna merah juga disebabkan ekosistem mikroba yang tersimpan di dalam tanah selama 2 juta tahun dan berevolusi tanpa panas, cahaya, atau pun oksigen.

 

Akhirnya bakteri dari zat tersebut mendaur ulang asam sulfat sebagai sumber energi mereka. Air ini temperaturnya sangat dingin hingga mencapai minus 5 derajat celcius dan para ahli menilai air ini terlalu asin dan sulit untuk membeku. Air semacam ini sebelumnya hanya dapat ditemui di planet Mars.

 

Air terjun darah ini pertama kali ditemukan oleh seorang ahli geologi, Griffith Taylor, pada tahun 1911. Retakan gletser membuat celah-celah, sehingga air subglacial dapat keluar.

 

Awalnya Griffith mengira warna merah yang keluar dari sela-sela gletser berasal dari ganggang merah. Tetapi setelah diteliti lebih lanjut, warna merah tersebut bukan berasal dari ganggang merah, namun akibat kejadian yang alamiah.

 

Keunikan air terjun darah atau blood red water fall ini menyebabkan Gletser Taylor banyak dikunjungi, tidak hanya oleh ilmuwan, namun juga oleh wisatawan. Meskipun di sekitar air terjun darah tidak ada penginapan dan fasilitas wisata lainnya, namun para wisatawan rela bermalam di tenda-tenda yang mereka dirikan di sekitar air terjun.* ati - kisuta.com


TAG TERKAIT