Rabu, 21 November 2018Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Chunhyangjeon
Keabadian Cinta yang Mengharu Biru
Minggu, 15 Juli 2018[214]
Keabadian Cinta yang Mengharu Biru
IST.

KUIL yang khusus dibangun untuk mengabadikan kesetiaan dan perjuangan cinta “Chunhyangjeon” yang mengharu biru. Kisah cinta ini menjadi salah satu kisah paling terkenal di Korea Selatan.*

KISUTA.com - Kisah cinta selalu menarik, baik yang berakhir membahagiakan maupun yang berakhir duka. Di Korea Selatan, ada satu kuil yang khusus dibangun untuk mengabadikan kesetiaan dan perjuangan cinta “Chunhyangjeon” yang mengharu biru. Kisah cinta ini menjadi salah satu kisah paling terkenal di Namwon, Jeollabuk-do.

 

Kuil bernama Chunhyang diabadikan untuk menghormati dan mengenang perjuangan cinta Song Chunhyang kepada Lee Doryong. Kuil yang berada di kawasan Namwon, Jeollabuk-do ini, juga disebut Kwanghan Pavilion. Menurut data yang diperoleh kisuta.com dari berbagai sumber, kuil ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Sejong. Pernah terbakar saat bencana Jonggyu, namun berhasil diperbaik pada tahun 1638 dan bertahan hingga sekarang.

 

Pengunjung kuil ini cukup banyak. Biasanya pengunjung berduyun-duyun untuk melakukan ritual keagamaan dan tak jarang menyelipkan doa agar segera menemukan pasangan jiwa.

 

Meskipun ada yang menganggap sebagai legenda, namun kisah “Chunhyangjeon” oleh pemerintah setempat, merupakan kejadian nyata. Orang-orang yang diceritakan dalam “Chunhyangjeon”, benar-benar ada. “Chunhyangjeon” adalah kisah cinta antara anak seorang penghibur bernama Song Chunhyang dengan Lee Doryong, anak Pyon, seorang hakim kepala di kota itu. Mereka pertama kali bertemu dan saling jatuh hati di Kwanghan Pavilion. Namun cinta mereka terhalang perbedaan kelas sosial.

 

Layaknya cerita dalam kisah Romeo dan Juliet, Song Chunhyang dan Lee Doryong tetap saling setia dan menyakini bahwa yang mereka jalani ini adalah bagian dari perjalanan cinta sejati. Hingga pada akhirnya, Chunhyang memutuskan untuk bunuh diri karena tidak pernah bisa menikah dengan Lee Doryong. Mengetahui kekasihnya meninggal maka ia pun pergi dengan kekecewaan karena hasrat cintanya tidak terpenuhi. Ya, pada masa itu, setiap pasangan yang berbeda kasta memang tidak pernah mungkin bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan.

 

Selain Kuil Chunhyang, kita juga bisa mengunjungi sebuah rumah yang bernama “Wolmae”. Wolmae adalah nama ibu Chunhyang. Desain rumah mungil ini bergaya khas periode saat Raja Sejong memerintah. Di halaman bagian dalam berdiri sebuah kolam kecil dan taman yang mendapat limpahan air dari sungai Yochon dan kerap dihiasi dengan bunga teratai yang tumbuh di beberapa sudutnya.

 

Di atas kolam dibangun sebuah jembatan yang disebut dengan jembatan Ojak. Jembatan ini melambangkan kisah cinta Chunhyang dan Lee Doryong. Kepercayaan yang berkembang mengatakan pasangan yang berjalan di atas Ojak akan menjalani kehidupan yang bahagia dan mempunyai anak-anak yang selalu diberkahi.* ati - kisuta.com


TAG TERKAIT