Rabu, 21 November 2018Tentang Kami|Kontak Kami
CerdasArtikel Opini
Semangat pagi...
"Membalut Mulut"
Rabu, 3 Oktober 2018[91]
Oleh: HD Sutarjan

KISUTA.com - Kemampuan berbicara adalah salah satu kelebihan yang Allah berikan kepada manusia, untuk berkomunikasi dan menyampaikan keinginan-keinginannya dengan sesama manusia.

 

Agar kemampuan berbicara yang menjadi salah satu ciri manusia ini menjadi bermakna dan bernilai ibadah, Allah SWT menyerukan umat manusia untuk berkata baik dan menghindari perkataan buruk.

 

“Dan katakan kepada hamba-hamba-Ku. Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar) sesungguhnya syetan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS-17: 53)

 

Pun, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Muttafaq alaih). “Takutlah pada neraka, walau dengan sebiji kurma. Jika kamu tidak punya maka dengan ucapan yang baik. “ HR. Muttafaq alaih). Dan, “Ucapan yang baik adalah sedekah.” (HR. Muslim).

 

Bahaya yang ditimbulkan oleh mulut manusia sangat besar, dan tidak ada yang dapat menahannya kecuali diam. Oleh karena itu, dalam agama kita dapatkan anjuran untuk mampu “membalut” mulut dan perintah pengendalian bicara. Sabda Rasulullah: “Barang siapa yang mampu menjamin kepadaku antara dua kumisnya (kumis dan jenggot), dan antara dua pahanya, aku jamin dia masuk surga.” (HR. Al Bukhari).

 

Rasulullah SAW pun lebih menekankan lagi pentingnya menjaga lisan. “Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga istiqamah hatinya. Dan tidak akan istiqamah hati seseorang sehingga istiqamah lisannya”. (HR Ahmad).

 

Ketika Rasulullah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan masuk surga, Rasul menjawab : “Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Dan ketika ditanya tentang penyebab masuk neraka, Rasulullah menjawab : “dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan”. (HR. At Tirmidzi).

 

Para sahabat Rasulullah menanggapi tentang betapa pentingnya menjaga lisan. Kelebihan yang dimiliki manusia ini, merupakan kunci penting yang bisa membawa ke surga atau menjerumuskan ke neraka.

 

“Tidak ada sesuatupun yang perlu lebih lama aku penjarakan dari pada mulutku sendiri,” demikian kata Ibnu Mas’ud.

 

Abu Darda pun berkata: “Perlakukan telinga dan mulutmu dengan obyektif. Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyak mendengar daripada berbicara”.***


TAG TERKAIT