Jumat, 14 Desember 2018Tentang Kami|Kontak Kami
CerdikSosok Inspirasi
Eyang Memet
Pelestari Konsep Konservasi "From Hejo to Ngejo"
Kamis, 6 Desember 2018[134]
Pelestari Konsep Konservasi "From Hejo to Ngejo"
IST.

KISUTA.com - Pada masa silam urang Sunda sangat perduli terhadap penataan ruang untuk kehidupan sehari-hari. Hal ini, antara lain dapat disimak dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, yang memberi wejangan agar manusia bijaksana dalam pemanfaatan ruang dan pengelolaan lingkungan.

Berdasarkan naskah Sunda tersebut, urang Sunda dianjurkan supaya; gunung kaian (gunung tanami pepohonan), pasir talunan (bukit-bukit digarap dengan sistem talun), sampalan kebonan (lahan terbuka luas dikebuni), gawir awian (tebing-tebing ditanami bambu), daratan imahan (daerah datar untuk mendirikan rumah), dan susukan caian (pelihara air di parit-parit untuk sumber mata air). Selain itu, legok balongan (daerah cekungan yang banyak air sebagai kolam sumber air), walungan rawateun (sungai-sungai dan sempadannya dipelihara), dataran sawahan (lahan datar tanami padi sawah), basisir jagaeun (pantai dan laut dijaga dan lindungi), gunung teu meunang dilebur (gunung tidak boleh dirusak/hancurkan), lebak teu meunang diruksak (daerah lembah jangan dirusak), serta mipit kudu amit ngala kudu menta (memungut dan mengambil sesuatu –buah atau tanaman-- harus minta izin yang punya).

Sayangnya, anjuran dari orang-orang Sunda masa silam tersebut perlahan tetapi pasti, sudah tidak dianggap lagi. Kini, pengelolaan tataruang lokal dan usaha konservasi alam mandiri masyarakat semakin memudar. Papagah ini hanya dapat ditemukan pada beberapa kelompok masyarakat Sunda yang termasuk dalam masyarakat adat. Padahal orang Sunda berpandangan bahwa manusia harus memiliki pandangan hidup yang baik, dan harus senantiasa sadar bahwa dirinya hanyalah sebagian kecil dari alam semesta.

Dalam kaitan kembali ke jati diri Ki Sunda inilah, Memet Achmad Surachman –yang kerap disapa Eyang Memet--, dalam setiap organisasi lingkungan yang didirikan dan dikiprahinya, digagas semata-mata untuk menyadarkan kita, untuk berterima kasih pada alam yang telah banyak memberi manfaat pada umat manusia, dari dahulu hingga kini. Sepanjang zaman.

 

Orang Sunda Dianjurkan “Siger Tengah”

Dalam konteks pengelolaan hutan, masyarakat menerima manfaat jasa lingkungan ini secara gratis dari alam. Misalnya udara bersih yang dihasilkan oleh hutan, tersedianya sumber air bersih dari hutan, keindahan alam, dan kebaikan iklim bagi produktivitas pertanian. Semua ini didapatkan secara gratis oleh manusia dari alam, tanpa mengetahui siapa yang harus membayar dan melestarikannya.

Namun demikian, sebagai orang Sunda, Eyang Memet berkeyakinan bahwa orang Sunda menyadari bahwa lingkungan alam memberikan manfaat yang maksimal kepada manusia apabila dijaga kelestariannya, dirawat, serta dipelihara secara baik, dan digunakan hanya secukupnya.

“Kalau alam digunakan secara berlebihan, apalagi kalau tidak dirawat dan tidak dijaga kelestariannya, maka akan timbul malapetaka dan kesengsaraan. Banyak bukti untuk hal ini, bencana alam akibat ulah manusia terjadi di mana-mana,” ingat Eyang Memet saat kami mengobrol di salah satu saungnya, di Kampung Suraja, Blok Gunung Masigit, Desa Cibodas, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu.

Tujuan konservasi tidak hanya memberikan perlindungan pada keanekaragaman hayati, tetapi pemanfaatannya bisa menyejahterakan masyarakat sekitarnya. Namun demikian, sudah sejak lama hal ini menjadi tema perdebatan antara elemen civil society penggiat lingkungan; kubu yang satu berada pada posisi mendahulukan konservasi dan kubu yang lain mendahulukan peningkatan ekonomi masyarakat.

Menurut Eyang Memet, tidak ada yang salah terhadap kedua kubu, namun justru menjadi salah ketika ada yang mengklaim dan keras mempertahankan argumentasi pemihakan tanpa logika rasional.

Hal yang perlu dipahami, kata Eyang Memet, kebutuhan untuk konservasi sebenarnya bukan saja kepentingan dari negara-negara Eropa, tetapi juga kebutuhan tidak langsung tetapi urgen bagi masyarakat lokal. Di sisi lain, kebutuhan meningkatkan ekonomi masyarakat juga menjadi point penting bagi stabilitas kawasan hutan. Tanpa ekonomi yang sejahtera, bisa dipastikan kawasan hutan di sekitar wilayah tinggal sedikit demi sedikit akan tergerus.

“Orang Sunda itu dianjurkan agar ‘siger tengah’ atau ‘sineger tengah’, yaitu tidak kekurangan, tetapi juga tidak berlebihan. Sama sekali bukan untuk kemewahan, melainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian, tidak menguras atau memeras alam secara berlebihan, sehingga terjaga kelestariannya,” ucap penerima Penghargaan Wana Lestari dari Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, sebagai Juara 1 Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam (KPA) Wana Lestari 2011 ini. Sebelumnya Eyang Memet keluar sebagai Juara 1 PKSM Tingkat Kabupaten Bandung dan Jawa Barat.

Kebutuhan untuk konservasi dan meningkatkan ekonomi rakyat, adalah hal yang seiring sejalan. Terdapat keterkaitan erat. Dalam kaitan ini, Eyang Memet pun memperkenalkan motto “From Hejo to Ngejo”, yang kurang lebih mengandung maksud bila konservasi tercipta, hutan kembali “hejo” (hijau) lestari, maka perekonomian masyarakat bisa sejahtera. Masyarakat bisa “ngejo” (menanak nasi) untuk keluarga.

Motto “From hejo to Ngejo” dalam kegiatan penanaman pohon dan perbaikan mutu lingkungan hidup, yang tidak lepas dari upaya meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok tani ini, yaitu melalui pemberdayaan masyarakat, khususnya para petani atau anggota kelompok tani, dilakukan melalui penanaman pohon bersama masyarakat pada lahan milik, garapan, maupun lahan girik desa yang antara lain terdapat di Blok Gunung Masigit, Blok Tanjakan Nangsi Injeuman, Blok Ciawul, Blok Leuwiliang, dan Blok Gambung.* Hariyawan Esthu - kisuta.com

 


TAG TERKAIT