Senin, 21 Januari 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerdikSosok Inspirasi
Mang Ipin
Melestarikan Papandayan, Menggapai Kesejahteraan
Senin, 10 Desember 2018[131]
Melestarikan Papandayan, Menggapai Kesejahteraan
IST.

KISUTA.com - Setelah kurang-lebih menempuh jarak 20 km dari Ibukota Kabupaten Garut, Jawa Barat, kami tiba di Kecamatan Cisurupan. Kecamatan Cisurupan yang luasnya 8.088 ha, terdiri atas 16 desa. Salah satunya, Desa Sirnajaya, tepatnya Kampung Pasir Sereh, yang menjadi tujuan kami.

 

Tidak sulit untuk menanyakan orang yang kami cari. Begitu bertanya pada tukang ojek yang berada di pangkalan Kecamatan Cisurupan, setelah menempuh jarak 2 km dari kota Kecamatan Cisurupan, kami pun tiba di Desa Sirnajaya.

 

Di Desa Sirnajaya, setelah menempuh beberapa tanjakan jalan desa yang tidak begitu lebar, kami pun tiba di Kampung Pasir Sereh. Tepatnya di rumah lelaki yang akrab disapa orang-orang setempat sebagai Mang Ipin, yang nama sebenarnya adalah Pipin Suryana (56). Para pengojek jauh di pangkalan kota Kecamatan Cisurupan sana kenal Mang Ipin, mengingat Mang Ipin sendiri adalah berprofesi sebagai tukang ojek. Tentunya “keterkenalan” Mang Ipin di masyarakat yang lebih luas, terutama di Kecamatan Cisurupan dan Kabupaten Garut, bukan hanya karena profesinya sebagai tukang ojek, melainkan apa-apa yang telah diperbuatnya selama beberapa puluh tahun untuk perbaikan lingkungan, terutama melakukan penanaman di kawasan hutan Gunung Papandayan.

 

 

Upah Mengojek untuk Konservasi

Tidak ada istilah berhenti menanam bagi Mang Ipin. Meskipun sudah puluhan tahun dan puluhan ribu bibit tanaman yang dia tanam di kawasan hutan di kawasan Gunung Papandayan dengan biaya sendiri, tidak ada kata selesai dalam kamus pria yang tidak tamat pendidikan SD ini.

 

Sudah ribuan batang pohon ditanam Mang Ipin bersama warga dan sesama pengojek –bernaung dalam Komunitas Rawayan-- dari Kampung Pasir Sereh, Desa Sirnajaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Bersama sekitar 30 pengojek dan lebih dari 50 warga setempat, secara rutin setahun sekali Mang Ipin menanami hutan Papandayan. Di luar jadwal rutin tersebut, terutama para pengojek, kerap ikut dalam penanaman pohon yang dilakukan berbagai kelompok masyarakat di Papandayan.

 

“Ah janganlah terlalu dibesar-besarkan terhadap apa yang telah saya dan teman-teman lakukan. Soalnya, perhatian pada masalah lingkungan adalah kewajiban semua orang. Kita tahu, rusaknya lingkungan, secara jelas akan merusak pada segala hal, baik itu ekonomi, pendidikan, dan berbagai hal lainnya,” kata Mang Ipin setelah kami dipersilakan duduk di ruang tamu rumahnya, beberapawaktu lalu.

 

Awal kiprah Mang Ipin melakukan penanaman adalah karena apa yang dirasakan masyarakatnya sendiri di Kampung Pasir Talang –sebelum tinggal di Kampung Pasir Sereh--.

 

“Istilahnya, mengambil air itu tadinya cukup melangkah sejauh 2 meter, kita sudah mendapatkannya. Tetapi kemudian, kita mendapatkannya setelah melangkah sejauh 5 meter. Bagi saya itu sudah merupakan bencana. Apalagi kalau jauh. Makanya saya berkiprah pada masalah lingkungan, sebenarnya awalnya dari sana,” kata Mang Ipin, yang mengaku sejak kecil sudah biasa masuk-keluar hutan ini.

 

Jujur, awalnya Mang Ipin sendiri tidak begitu tahu dan mengerti; mengapa keberadaan air di kampungnya dan beberapa kampung terdekatnya mulai agak susah untuk mendapatkannya. Dia berusaha mencari jawaban yang pasti. Waktu itu, penghasilan sebagai buruh tani yang tidak mencukupi, membuat dia dan sebagian warga juga menjadi pengojek bermodal sepeda motor bekas.

 

Tahun 1990-an, aktivitas sehari-harinya sekaligus sebagai pengojek adalah menjaga warung di arah ke Pondok Saladah, menjelang kawah Papandayan --–pada tahun 2002 Gunung Papandayan meletus. Warung Mang Ipin ini tertimbun tanah dan bebatuan, hingga saat ini belum ada yang berani buka warung lagi di tempat ini, termasuk Mang Ipin--. Di warungnya, Mang Ipin pun sering kedatangan kelompok-kelompok pengunjung yang hendak menanami lahan kritis di kawasan hutan Papandayan.

 

Kala itu, dia hanya menjadi penonton. Para pengunjunglah yang melakukan penanaman pohon di Papandayan. Dari para pengunjunglah, terutama dari perguruan tinggi yang sedang melakukan penelitian, Mang Ipin mendapat pengetahuan tentang pentingnya melakukan penanaman untuk ketersediaan air.

 

Sampai satu saat Mang Ipin diajak oleh seorang aktivis lingkungan setempat untuk menjadi Kader Konservasi Sumber Daya Alam. Kader yang perduli dalam konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya. Di dalam kesehariannya para kader konservasi ini biasa disebut Polhut (Polisi Hutan) atau Jagawana.

 

Setelah mengikuti Pendidikan Kader Konservasi Sumber Daya Alam, Mang Ipin mempelajari tentang hubungan antara tegakan pohon atau hutan dengan ketersimpanan air, barulah Mang Ipin meyakini pentingnya menjaga kelestarian hutan.

 

Hutan memang mempunyai kemampuan mengatur tata air, mencegah erosi dan banjir, serta memelihara kesuburan tanah. Hutan memiliki kemampuan mengatur tata air, tidak terlepas dari keberadaan jutaan bahkan miliaran tegakan pohon yang terdapat dalam suatu kawasan hutan.

 

Itulah pentingnya penanaman pohon dalam keterkaitan ketersediaan air. Lama-lama terpikir oleh Mang Ipin, ”Orang kota saja mau datang ke Papandayan untuk menanami hutan ini, masak kami yang tinggal di sekitar Papandayan diam saja.”

 

Sejak itulah ia tergugah untuk ikut menanami hutan. Sepulang menggarap kebun, ia selalu melintasi hutan. Jika menemukan ada lahan kosong atau lahan kritis yang dilewati dan ternyata di situ adalah sumber air, esoknya dia membawa bibit pohon tanaman keras untuk ditanam.

 

Bila saat itu sedang tidak memiliki bibit pohon, Mang Ipin mau mengeluarkan uang dari saku sendiri guna mendapatkan bibit pohon.

 

”Ah tidak mahal, saya menyemaikannya sendiri. Setelah cukup umur, baru bibit itu saya bawa ke hutan,” kata Mang Ipin, yang sebagai pengojek kala itu setiap hari berpenghasilan Rp20.000–Rp30.000.

 

Demi penanaman, penghasilan dari mengojek dibagi. Pertama-tama Mang Ipin membuat jalan untuk ojek. Dia mengojek, upahnya dipakai untuk membuat jalan setapak. Sebagian lagi untuk bibit, dengan membeli polybag. Suatu ketika dari penghasilan mengojek dibagi dua antara untuk memperbaiki jalan dan untuk ke rumah, di saat lain dibagi dua antara membeli polybag dengan untuk ke rumah.

 

“Alhamdulillah bisa. Selama berbuat itu, dengan menduakan penghasilan dari ojek tersebut saya hidup di Pasir Sereh tidak pernah merasa kelaparan. Masalah rezeki, hanya Tuhan yang mengatur. Kita hanya diwajibkan untuk berusaha,” kata suami dari Masriyah (46) ini diiringi tawa lepas.

 

Ayah dari 3 anak –Nia, Iman Suryana, Fahmi Suryana—ini merasa bersyukur, karena keluarganya biasa menerima rezeki apa adanya. Istilahnya, bila mendapatkan rezeki hanya cukup untuk hari ini, patut disyukuri, karena besok bisa ikhtiar lagi.

 

 

Ada Rasa Kebanggaan Tersendiri

Sejak saat itu, menanam dan menanamlah yang dilakukan Mang Ipin. Tidak berlebihan bila dikatakan semua bibit yang kini ditanam di kawasan hutan Gunung Papandayan adalah hasil sentuhan tangannya. Tidak hanya ditanam sendiri, banyak bibit yang diberikan Mang Ipin pada pihak lain untuk ditanam di hutan Gunung Papandayan. Sampai kini, diakui Mang Ipin, kurang-lebih sudah 100 ribu pohon hasil pembibitannya yang ditanam di hutan Gunung Papandayan.

 

“Sekarang pohon kayunya sudah besar-besar. Oleh karena luasnya kawasan, ada beberapa kawasan yang tidak terjangkau oleh saya untuk ditanami. Prinsip saya, di mana ada wilayah yang gundul, apalagi sumber air, dipastikan di situ saya menanam, baik satu pohon maupun dua pohon sambil jalan. Pada akhirnya saya punya kebanggaan. Ketika suatu saat saya lewat ke situ dan melihat tanaman yang ditanam hidup, ada kebanggaan tersendiri. Perasaan yang tidak bisa diucapkan dalam kata-kata,” paparnya.

 

Tentunya, kata Mang Ipin, tidak sembarangan asal tanam. Jenis tanamannya harus disesuaikan dengan endemik tanaman wilayah itu.

 

“Kalau derah puspa ya puspa. Kalau daerah jamuju, ya jamuju. Kalau daerah kihujan, ya kihujan. Kalau daerah huru, ya huru. Jadi, tidak asal tanam,” kata Mang Ipin, yang kerap diminta Jurusan Biologi ITB dan Fakultas Kehutanan IPB untuk turut mendata jenis-jenis tanaman yang ada di kawasan hutan Gunung Papandayan.

 

Diakui Mang Ipin, kerusakan lingkungan sangat berdampak pada kehidupan manusia, mengakibatkan bencana saat ini maupun masa yang akan datang, bahkan sampai beberapa generasi selanjutnya. Betapa ruginya kita selaku manusia yang tidak dapat menjaga lingkungan hidup yang tetap lestari untuk diwariskan kepada anak cucu kita.

 

Berdasarkan pengalaman Mang Ipin di lapangan, kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh tindakan masyarakat, terlebih dikarenakan ketidaktahuan masyarakat sekitar hutan itu sendiri terhadap bahaya kerusakan lingkungan. Untuk itu, perlu menyosialisasikan hal ini kepada masyarakat secara terus-menerus dan dengan cara yang bijak.

 

“Kepada instansi, kalau memberikan penyuluhan harus tepat. Jangan penyuluhan di kantor Kecamatan Cisurupan, sedangkan masyarakatnya di sini. Terbayang jauhnya jarak yang harus ditempuh. Apa mau masyarakat sini datang ke sana? Seharusnya mereka datang langsung ke sini, ke masyarakat sekitar hutan, karena itu tugas mereka. Binalah mereka sampai mengerti. Jangan itu bedegong (bandel, Pen.), kalah-kalah diomongkeun (jadi bahan omongan, Pen.), malah ditakut-takuti. Bagaimana akan jadi baik? Coba kalau ada yang bedegong rangkul,” saran Mang Ipin.

 

Berkat kiprahnya, Mang Ipin kemudian ditarik menjadi pegawai tidak tetap oleh BKSDA. Tidak sekadar menjadi pegawai tidak tetap, Mang Ipin pun diberi kesempatan untuk menjadi pegawai negeri. Beberapa kali pihak BKSDA minta persyaratan administratif kepada Mang Ipin untuk persyaratan pengangkatan pegawai negeri tersebut.

 

“Barangkali saya satu-satunya orang yang menolak untuk menjadi pegawai negeri. Bukan tujuan saya untuk ke sana. Saya itu orangnya enjoy. Yang jelas, saya bisa diakui oleh instansi seperti BKSDA. Boro-boro untuk memenuhi persyaratan, saya ini hanya sekolah sampai kelas 3 SD. Saya tidak mau bohong. Kalau mau menerima saya apa adanya, terimakasih. Tidak pun tidak apa-apa. Itu tidak masalah, tidak akan menyurutkan saya untuk berbuat bagi lingkungan,” jelas Mang Ipin serius.

 

Kini, begitu banyak organisasi sosial kemasyarakatan yang kerap melibatkan Mang Ipin dalam segala kegiatannya, seperti yang dilakukan Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri, Rekapala (Remaja Kelana Pecinta Alam), Pagar (Pecinta Alam Garut). Malahan di Perhimpunan Penjelajah Alam Jenggala Mang Ipin menjadi anggota kehormatan. Selain itu, sedikitnya ada 15 himpunan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, kerap meminta jasanya terkait CAGP. Belum lagi oleh para peneliti dari Jurusan Biologi ITB dan Fakultas Kehutanan IPB, yang minta bantuannya untuk turut mendata jenis-jenis tanaman lokal di CGAP.

 

Mang Ipin punya harapan besar; perkampungan-perkampungan di daerahnya kembali menjadi sawah. Air mengalir besar. Di Kampung Pasir Sereh pun menjadi segala ada; sawah luas, ikan ada, sayur-mayur pun tersedia. Masyarakat jauh dari kelaparan. Kunci dari semua ini adalah kelestarian hutan, yang menyumplai ketersediaan air bagi masyarakat. Bila ketersediaan airnya bagus, ekonominya pun akan bagus.

 

“Insyaallah, bila sudah demikian adanya, masyarakatnya bisa jauh lebih sejahtera, sehingga tidak perlu pergi ke kota untuk bekerja,” harapnya.

 

Setelah puluhan tahun berbuat –dan secara jelas hasilnya berdampak--, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa membicarakan kawasan hutan Gunung Papandayan adalah membicarakan Mang Ipin. Pun sebaliknya; membicarakan Mang Ipin adalah membicarakan kelestarian kawasan hutan Gunung Papandayan. Lalu, hasil apa yang secara pribadi diperoleh Mang Ipin dari semua perjuangannya ini.

 

“Alhamdulillah harta yang paling besar yang saya dapat adalah ikatan persaudaraan yang semakin besar. Ikatan persaudaraan ini adalah harta yang tidak ternilai harganya. Semua ini, asalnya gara-gara cai (air, Pen.),” kata Mang Ipin, lagi-lagi dengan tawanya yang lepas itu.* harie - kisuta.com


TAG TERKAIT