Kamis, 23 Mei 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerdikSosok Inspirasi
Babeh Idin
Pendekar Lingkungan dari Kali Pesanggrahan
Selasa, 18 Desember 2018[349]
Pendekar Lingkungan dari Kali Pesanggrahan
HARIYAWAN/KISUTA.com

KISUTA.com - Siang belum begitu tinggi. Panas matahari pun belum begitu menggigit kulit, ketika kami memasuki sebuah gerbang berpelataran luas. Mata kami langsung tertumbuk pada sebuah monumen dengan tulisan besar: “Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana Karang Tengah, Jakarta Selatan”. Ya, kami telah sampai di hutan kota yang dikelola Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana, tepatnya di Jalan Karang Tengah Raya No. 21 RT 01/RW 03, Kelurahan Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan.

 

Di belakang tulisan monumen, pada bagian tengah terdapat 17 tiang beton berbentuk batang-batang pohon mengelilingi sebuah tiang beton berbentuk pohon pula tetapi dalam ukuran sedikit lebih besar yang pada bagian ujung atasnya menancapi dan menyangga sebuah bola dunia.

 

“Tujuh belas pohon itu simbol 17 orang yang bersama gua pertama kali melakukan konservasi lingkungan di sini,” ungkap Babeh Idin, sang tuan rumah, saat beberapa waktu kemudian kami mengobrol panjang lebar dengannya, di beranda sebuah rumah tradisional khas Betawi, di samping kiri agak depan monumen.

 

Ditambahkan Babeh Idin, makna 17 pun berarti tanggal kemerdekaan Republik Indonesia, bisa juga merupakan jumlah rakaat dalam sehari-semalam umat muslim menjalankan shalat. Sesuai dengan nama KTLH Sangga Buana dan bentuk monumen 17 pohon yang menyangga bola dunia, sungguh beralasan mengingat arti Sangga itu sendiri adalah “tiang”, yang berfungsi menyangga atau menopang serta menunjang sesuatu benda yang ada di atasnya. Sedangkan Buana punya arti “bumi” atau dunia yang di dalamnya terdapat udara, tumbuhan, air, manusia, satwa, dan lain-lain yang harus dijaga dan dirawat serta dilestarikan. Dengan demikian, arti harfiah Sangga Buana adalah tiang untuk menyangga dunia. Sebuah upaya untuk menyelamatkan bumi, dengan menjaga-merawat-melestarikan udara, tumbuhan, air, manusia, satwa, dan sumber daya lain yang ada di dalamnya.

 

Bicara tentang KTLH Sangga Buana atau Kali Pesanggrahan, tentu saja bicara tentang H. Chaerudin –yang akrab disapa Babeh Idin--. Pun sebaliknya, ketika membicarakan Bang Idin, pasti yang teringat di benak kita adalah KTLH Sangga Buana dan Kali Pesanggrahan.

 

KTLH Sangga Buana adalah nama organisasi yang didirikan Babeh Idin, untuk menindaklanjuti upayanya melakukan konservasi di bantaran Sungai Pesanggrahan, yang kini membentuk sebuah hutan kota.

 

Lokasi hutan kota ini, memang menyatu dengan bantaran sungai yang dulu dihijaukan kembali oleh Babeh Idin dan kawan-kawannya itu. Dahulunya, lokasi itu juga yang dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga setempat.

 

Tetapi bila melihat saat ini, di hamparan tanah luas yang dipagari puluhan ribu pohon itu, sejumlah ibu dan anak-anak balitanya terlihat bersantai. Dua atau tiga penjual bakso dan penjual es pun terlihat memarkir gerobaknya di sana. Barangkali kalau kita tidak datang sendiri, tidak akan menyangka bahwa berjarak sekitar empat kilometer dari hiruk-pikuk Terminal Lebak Bulus, di sudut Selatan Jakarta, terdapat hutan kecil yang rimbun. Mirip “dunia lain” dari sisi gegap gempita Ibukota Indonesia, Jakarta.

 

Melihat kehadiran warga kampung di areal taman hutan itu, laki-laki bertubuh kekar kelahiran 13 April 1956 ini tidak kuasa untuk menahan senyum sumringahnya. Senyum dari rasa syukur lebih dari 20 tahun hasil perjuangan dia dan kawan-kawannya, yang telah banyak menghasilkan perubahan.

 

“Bukan hanya perubahan fisik, tetapi juga secara kejiwaan.... Setiap sore orang kumpul di sini. Bayangin saja, si mpok kumpul, pada nyuapin anaknya. Setiap sore ibu-ibu pada jalan-jalan, ‘kan ini masuknya silaturrahmi, pertemuan,” katanya bersemangat, dengan logat Betawi kental.

 

Lebih daripada itu, menurut Babeh Idin, warga kampung dapat memanfaatkan hutan kota yang menyimpan sekitar 60 ribu jenis pohon. Di sepanjang bibir Sungai Pesanggrahan antara lain tumbuh pohon bambu, sukun, melinjo, rambutan, tanjung, belimbing wuluh, atau nangka, yang merupakan hasil keringat Babeh Idin dan kawan-kawannya, setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di sini orang boleh memetik buah-buahan apa pun atau memancing ikan secara gratis.

 

“Orang di sini bebas metik dan mancing, tapi asal (ikut) menjaga (hutan dan sungainya). Konservasi itu harus punya nilai kehidupan,” tegasnya lagi, seraya menyambung, “Kalau konservasi tidak punya nilai kehidupan, bagaimana orang-orang di sekelilingnya akan perduli? Mereka akan perduli, karena mendapatkan manfaat langsung dari konservasi itu.”

 

“Jadi, sungai pada akhirnya memberikan ganjaran atau keberkahan (kepada yang mengelolanya secara benar),” lanjut Babeh Idin, menjelaskan sisi lain di balik hasil jerih payahnya dalam melakukan konservasi lingkungan, antara lain berupa penanaman puluhan ribu benih pohon bambu dan pohon lainnya, belasan tahun silam, di sekitar 120 hektar di Jakarta dan sekitarnya.

 

Berawal dari Rasa Kesal

Melihat langsung kehadiran puluhan ribu pohon di pinggiran Sungai Pesanggrahan, yang ditanam Babeh Idin dan kawan-kawannya, kami siang itu tidak bisa membayangkan ketika tumpukan sampah beraroma busuk masih menggunung di kawasan itu, lebih dari 20 tahun silam.

 

Kami membayangkan pula, faktor apa yang menggerakkan hati lelaki asli Betawi ini bekerja keras --seorang diri, awalnya!-- untuk menyelamatkan kali yang menjadi tempatnya bermain di masa kecil itu. Babeh Idin ingat, betapa mudahnya dulu memancing ikan di Kali Pesanggrahan. Kicauan burung begitu merdu menghiasi suasana di pinggir kali. Aneka satwa lain juga mudah ditemui. Tetapi kondisi di akhir 1980-an sangatlah jauh berbeda. Sampah bertebaran sepanjang bantaran yang tandus atau di kali yang airnya kehitaman. Sampah rumah tangga dan limbah industri, menjadi penyumbang utama tercemarnya air kali.

 

“Latar belakangnya rasa kesel. Tapi bukan berarti ngomel-ngomel atau marah-marah,” ungkap Babeh Idin, dalam logat Betawinya yang bersahaja, mencirikan kejujuran. Dia mengaku sangat kesal, sungai yang merupakan tempat bermainnya di masa kecil itu rusak parah di tahun 1980-an. Sampah bertebaran di sepanjang bantaran yang tandus atau di aliran sungai yang warnanya kehitaman. Begitulah yang dia saksikan, seiring pembangunan perumahan mewah tidak jauh dari aliran sungai tersebut.

 

“Itu awal keselnya. Gua lihat rumah dibangun membelakangi sungai. Dan, sungai dijadikan tempat pembuangan sampah.... Jadi tidak ada lagi cerita di zaman kerajaan dulu, yang menyebutkan bahwa ‘jangan suka mengotori sungai, karena sungai tempat mengenal Tuhan’."

 

Berangkat dari rasa kesal itulah, lelaki yang hanya berpendidikan formal sampai kelas 4 sekolah dasar ini lantas melontarkan protes.

 

“Tetapi, protesnya bukan ke bundaran Hotel Indonesia, lalu teriak-teriak, seperti orang-orang sekarang” katanya, dengan agak tergelak.

 

‘Kemarahan’ itu dia awali pada 1989 dengan bertualang jalan kaki dan naik rakit dari susunan batang-batang pohon pisang, seorang diri menyusuri Sungai Pesanggrahan dari hulunya, yaitu di Gunung Pangrango, hingga ke muaranya di kawasan Utara Jakarta –sejauh kira-kira 136 kilometer.

 

“Ya istilah gua, waktu itu ingin tahu. Kalau anak-anak sekolahan sekarang, bilangnya survey,” kata Babeh Idin, sedikit tertawa.

 

Dalam perjalanannya itu, Babeh Idin mencoba mencari tahu apa saja yang masih tersisa di sepanjang aliran kali. Pohon apa saja yang tidak lagi tegak, satwa apa saja yang lenyap, ikan-ikan apa saja yang minggat, dan mata air mana saja yang alirannya tersumbat. Semua itu semata-mata akibat perilaku manusia.

 

Hasilnya adalah sebuah keprihatinan yang membuat darah kependekarannya menggelegak serta lahirnya sebuah tekad yang sederhana namun sekeras dan setajam goloknya; mengembalikan Kali Pesanggrahan menjadi seperti dulu lagi!

 

Tekadnya memang sederhana, namun menyimpan hal-hal besar dan tidak mudah untuk dilakukan. Untuk mengembalikan "kesehatan" sungai, lelaki yang beristrikan Ismawati ini harus menghidupkan lagi mata air yang ada. Itu berarti pohon-pohon harus tumbuh di sepajang bantarannya. Padahal, untuk menanam pohon, ia harus membersihkan bantaran, baik dari sampah maupun bangunan. Dimulailah usahanya dengan membersihkan sampah.

 

“Gua lihat rumah dibangun membelakangi sungai. Sungai dijadikan tempat pembuangan sampah,” katanya, mulai mengenang.

 

Dengan nada agak masygul, Babeh Idin kemudian membandingkan kenyataan pahit di sepanjang sungai itu dengan nilai-nilai tradisi yang dulu dihayati warga yang turun-temurun tinggal di pinggiran Sungai Pesanggrahan.

 

“Jadi tidak ada lagi cerita di zaman kerajaan dulu, yang menyebutkan bahwa ‘jangan suka mengotori sungai karena sungai tempat mengenal Tuhan’…,” ujarnya lagi.

 

Hal itu bisa terjadi, menurut Babeh Idin, karena selama ini cara mem-“PR” (public relation, Pen.)-kannya yang salah.

 

“Dia doktrin pemahaman ke-Islaman, tetapi secara setengah-setengah. Islam itu bukan bacaan, tetapi Islam itu tentang kehidupan. Ritualnya saja sholat, pergi haji 3 kali. Haji itu ‘kan penyelamatan lingkungan. Jangankan matiin semut, nginjek semut saja kita kena dam. Jadi Islam itu penyelamatan alam. Bila kita menjalankan Islam secara sungguh-sungguh, pasti alam akan terselamatkan,” jelas Babeh Idin.

 

Dipaparkan Babeh Idin, salah satu paham yang menjadi akar permasalahan seputar kerusakan lingkungan hidup adalah terjadinya pergeseran konsep manusia tentang alam. Berbagai fakta kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di dalam tanah air kita, tidak lain adalah hasil dari suatu pergeseran pemahaman manusia tentang alam. Cara pandang tersebut melahirkan tindakan yang salah dan membahayakan. Misalnya, konsep tentang alam sebagai objek. Konsep ini seolah-olah, bahkan secara terang-terangan, memberi indikasi bahwa manusia cenderung untuk mempergunakan alam semau gue. Tindakan dan perilaku manusia dalam mengeksplorasi alam pun terus terjadi, tanpa disertai suatu pertanggung jawaban bahwa alam perlu dijaga keutuhan dan kelestariannya.

 

Oleh karena itu, tidak jarang pula binatang-binatang yang seharusnya dilindungi pada akhirnya menjadi korban perburuan manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab. Pembalakan liar yang terjadi pun tidak dapat dibendung lagi. Pencemaran tanah dan air sudah menjadi lagu lama yang terus dinikmati. Permasalahan seputar polusi telah menjadi semacam udara segar yang terus dihirup manusia tanpa menyadari bahwa terdapat kandungan toksin yang membahayakan. Jadi, di sini alam merupakan objek yang terus-menerus dieksplorasi dan dipergunakan sejauh manusia membutuhkannya.

 

Berhadapan dengan kenyatan demikian, maka perlu suatu perubahan konsep yang baru. Konsep yang dimaksud adalah melihat alam sebagai subjek. Konsep alam sebagai subjek berarti manusia dalam mempergunakan alam membutuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab. Di sini tampak bahwa manusia dalam kesaksian hidupnya dapat menghargai dan mempergunakan alam secara efektif dan bijaksana. Misalnya, memahami alam sebagai ibu yang memberi kehidupan. Artinya, alam dilihat sebagai ibu yang daripadanya manusia dapat memperoleh kehidupan. Oleh karena itu, tindakan yang merusak lingkungan secara tidak langsung telah merusak kehidupan itu sendiri.

 

Sepulang dari perjalanan ‘protes’ itu, Bang Idin lantas melakukan hal yang paling sederhana, yaitu mengangkut sampah dari aliran sungai dan bantarannya ke tempat pembuangan sampah.

 

“(Dari) hari, (ke) bulan, bagaimana gua mengangkat sampah dari sungai ke darat, bagaimana mengoordinir orang-orang (agar) jangan membuang sampah ke sungai,” ungkap pengagum tokoh Bima dalam kisah pewayangan serta sosok Si Pitung, tokoh yang dihormati warga Betawi ini.

 

Dia pun mulai menanami bantaran sungai, dari mulai ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu bibit pohon, yang menurut ukuran khalayak banyak, tidak masuk akal.

 

Walaupun kala itu sempat dicemooh banyak orang, tetapi dia tetap menjalankan upayanya itu dan berhasil.

 

“Itu karena gua ‘gila’. Nah, gua bersyukur, karena jarang orang dikasih pemahaman seperti gua,” ujarnya penuh syukur.

 

Babeh Idin lalu mengajak tetangganya untuk turut serta. Diyakinkannya bahwa secara turun-temurun, Pesanggrahan adalah tanah pendekar, sehingga mereka pun keturunan pendekar. Babeh Idin mengingatkan warga, jangan sampai wilayah pendekar diacak-acak orang. Sebagai keturunan pendekar, warga jangan hanya tinggal diam.

 

Sejak 1992 di Karang Tengah, Kelurahan Lebak Bulus, banyak petani yang menggarap lahan untuk usaha tani, namun belum terorganisir. Pada tahun 1997 berdirilah Kelompok Tani Bambu Kuning yang diketuai Bang Idin dengan jumlah anggota 17 orang. Dalam proses selanjutnya, pada 17 Februari 1998 lahirlah Kelompok Tani Lingkungan Hidup “Sangga Buana” dengan beranggotakan 80 orang. KTLH Sangga Buana didirikan dengan tujuan penyelamatan alam yang telah rusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, namun masih ada tanda-tanda sisa kehidupan, maka motto yang diikrarkan pada saat berdirinya KTLH “Sangga Buana” adalah: Menyelamatkan yang Tersisa.

 

Penyelamatan lingkungan yang dilakukan KTLH Sangga Buana adalah melalui penanaman pohon, perlindungan satwa liar, pelarangan membuang sampah di sekitar bantaran kali, pelestarian kobak mata air dan makam-makam tua, serta benda-benda bersejarah. Semua itu dilakukan melalui budaya, sehingga orang akan paham arti dari kelestarian alam.

 

Lambat laun, kesadaran juragan-juragan tanah yang membangun pagar beton tinggi hingga ke bantaran kali mulai tumbuh. Mereka menyadari juga perlunya penghijauan di bantaran. Maka sejak 1998, secara bertahap mereka merelakan pagar-pagar mereka dibongkar.

 

Bahkan belakangan, di dekat sebuah areal bantaran kali telah dibangun sebuah lapangan sepakbola mini bertaraf internasional. Lapangan Sepakbola Pro-Direct Soccer Academy ini bisa dibangun berkat kerja sama pihak pengembang perumahan dengan menggaet klub kepelatihan sepakbola internasional dengan Bang Idin beserta kawan-kawannya.

 

“Dengan adanya dialoglah bisa seperti ini (dibangunnya lapangan sepakbola mini internasional). Jadi ada simbiosis mutualisme. Ada saling diberi manfaat. Pengelola klub sepakbola bisa aman dan enak murid-muridnya berlatih di alam terbuka yang masih segar dengan sekeliling tanaman yang hijau-hijau, di sisi lain Kali Pesanggarahan tetap terjaga kelestariannya tanpa perlu ada sekat-sekat benteng beton penghalang,” kata Babeh Idin, yang ternyata pada masa mudanya sempat pula menjadi pemain sepakbola, tepatnya menjadi penjaga gawang di Kesebelasan Indonesia Muda. Dia adalah kiper di bawah angkatan kiper legendaris nasional, Roni Paslah.

 

Saat ini KTLH Sangga Buana wilayah kerjanya bertambah luas. Ribuan pohon telah berhasil ditanam. Pengadaan bibit bukan lagi hal yang sulit. Banyak instansi maupun perseorangan yang membantu pengadaan bibit ini.

 

Kini hasilnya sungguh luar biasa. Area seluas 40 hektar, membentang sepanjang tepian Kali Pesanggrahan, menjadi ijo royo-royo. Burung-burung berkicau setiap hari. Bahkan burung cakakak yang bersarang di tanah dan sudah jarang ditemui di wilayah lain di Jakarta, kini juga bisa ditemukan. Pohon-pohon yang mulai langka di Jakarta semacam huni, jamblang, kirai, salam, tanjung, kecapi, kepel, rengas, mandalika, drowakan, gandaria, bisbul, dapat dijumpai di sini. Belum lagi tanaman obat yang jumlahnya mencapai 142 jenis.

 

Di samping menghijaukan bantaran, Babeh Idin dan kelompoknya berhasil menghidupkan kembali tujuh mata air yang dulunya mati. Air sungai tidak lagi kehitaman, sehingga cukup sehat bagi berkembangbiaknya ikan-ikan. Secara berkala, KTLH Sangga Buana melepaskan bibit-bibit ikan yang dibudidayakan di tambak-tambak ke dalam Kali Pesanggrahan.

 

Bahkan, upaya yang dilakukan telah berhasil mengangkat kesejahteraan petani-petani di sekitar Kali Pesanggrahan. Mereka bisa memasarkan hasil kebun sayuran maupun pohon-pohon produktif lainnya, semacam melinjo yang diperkirakan berjumlah 8.000 batang pohon, maupun pisang dan buah-buahan lainnya.

 

Kini, bantaran Kali Pesanggrahan ramai oleh pengunjung dari seluruh Jakarta. Menjadi hutan wisata gratis yang boleh dikunjungi siapa saja. Uniknya, setiap pengunjung akan diajak menanam pohon atau menebar benih ikan di kali. Mereka juga tidak dilarang memancing atau mengambil hasil hutan seperti memetik melinjo dan memotong rebung. Gratis, asalkan kita tidak merusaknya. Tetapi jangan coba-coba mencari ikan dengan racun atau cara-cara "keji" lainnya, karena Babeh Idin dan rekan-rekannya serta masyarakat sekitar akan segera menegur kita.

 

Tidak Perduli Penghargaan

Kini, setelah upayanya menyelamatkan bibir Sungai Pesanggrahan sedikit-banyak membuahkan hasil, Babeh Idin mengaku bersyukur kepada Tuhan.

 

Babeh Idin menyatakan selalu bersyukur atas pikiran dan tindakan yang dia lakukan selama ini. Pasalnya, jarang ada orang yang diberi kesempatan seperti dirinya, yang dapat memadukan antara pikiran dan tindakan.

 

“Karenanya, gua selalu bersyukur,” kata Babeh Idin.

 

Ihwal berbagai penghargaan lingkungan yang diperolehnya, Babeh Idin tidak begitu mempedulikannya.

 

"Itu bukan tujuan gua", katanya.

 

Dia pun mengaku tidak memedulikan penghargaan atau liputan media terhadap dirinya.

 

“Bukan itu akhir tujuannya ‘kan,” katanya, masih dengan nada pelan, seraya melanjutkan, “Gua tidak mengharap apa-apa. Apa sih artinya semua penghargaan itu kalau suatu perjuangan tidak bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain? Tetapi yang paling penting, paling tidak apabila karya gua ini tidak nyusahin orang. Gua sangat sedih bila apa yang gua dan kawan-kawan perbuat, justru menjadi nyusahin orang lain. Gua hargai orang yang bisa paham dengan lingkungan itu memberi penghargaan paling tinggi buat gua. Meskipun itu hanya bagian dasar dari pemikiran gua, bahwa kami mengerjakan itu semua, hanya satu tujuan; menyelamatkan alam."

 

Itulah sebabnya, Babeh Idin tidak pernah memasang berbagai penghargaan di dalam rumahnya.

 

“Kalau dipasang semua, panjangnya bisa sampai 300 meter,” kali ini dia tertawa kecil.

“Banyak lho termasuk (penghargaan) Kalpataru. Tapi, ya, gua simpan saja. Gua enggak pajang atau ditaruh di bingkai,” ujarnya lagi.

 

Berbagai penghargaan memang banyak diperolehnya, termasuk penghargaan lingkungan Kalpataru dari Pemerintah Indonesia pada 1998 dan 2013, serta penghargaan serupa dari berbagai negara lain. Tahun 2002 Bang Idin mendapat penghargaan penyelamatan air sedunia. Ada piagam-piagam, dari Abu Dhabi, pemerintah Jerman, Belanda. Dia juga puluhan kali diundang di berbagai forum untuk membagi pengalamannya.

 

Walaupun merasakan banyak perubahan atas 20 tahun lebih yang dilakukan Babeh Idin dan kawan-kawannya, namun untuk melihat ke depannya, secara jujur Bang Idin mengaku merasa miris juga. Atas nama pembangunan, kini semua daerah hijau dan sumber air, dikikis habis. Tidak terkecuali terhadap hutan kota yang dikelola Babeh Idin bersama KTLH Sangga Buana, yang luasnya mencapai 120 hektar, setiap saat kerap datang makelar yang mengiming-imingi keuntungan untuk membeli lahan luas yang stretegis itu. Andai Babeh Idin dan kawan-kawanya silau pada dunia, berapa keuntungan yang didapat, bila kita tahu tanah di kawasan itu telah dihargai lebih dari Rp5 juta/meternya!

 

“Gua merasa miris, tetapi harapan ada tumbuh. Semakin tumbuhnya kesadaran anak-anak untuk belajar menghargai lingkungan. Rasa miris timbul, bila kita lihat cara membangun sekarang yang begitu arogan, tidak melihat peradaban. Bagi mereka, yang penting orientasi profit. Tetapi kalau dia manajemen kearifan, untung pasti ngikut. Tetapi kalau manajemen keuntungan, keseimbangan alam tidak akan lama lagi. Dampaknya sudah banyak kita rasakan saat ini,” kata Babeh Idin, bernada khawatir.

 

Meski khawatir tentang masa depan lingkungan alam, seperti diungkap Babeh Idin sebelumnya, dia –bersama kawan-kawannya—telah berusaha dan berjuang untuk mengembalikan fungsi dan keberadaan alam sebagaimana mestinya. Hasilnya, kini sudah banyak dirasakan masyarakat, bahkan telah diakui secara nasional melalui berbagai penghargaan yang diterimanya, juga apresiasi dari dunia internasional.

 

“Bila gua mati, tinggal beramanat minta galiin lobang buat kuburan. Setelah dikubur, bereslah tugas gua. Selanjutnya, tugas kalianlah yang masih hidup,” pungkas Bang Idin, sangat yakin.* harie –kisuta.com

 


TAG TERKAIT