Rabu, 18 September 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerdikSosok Inspirasi
Musonip
Menyelamatkan Tukik untuk Kehidupan Lebih Baik
Jumat, 28 Desember 2018[323]
Menyelamatkan Tukik untuk Kehidupan Lebih Baik
HARIYAWAN/KISUTA.com

KISUTA.com - Selain UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Konservasi Penyu Pangumbahan, di Kawasan Konservasi Penyu Taman Pesisir Pangumbahan terdapat Kantor Kelompok Konservasi Penyu Sukabumi (KPPS). Justru dari cikal-bakal KPPS inilah kita bisa menapakjejaki perjuangan tanpa pamrih dari seorang patriot penyelamat penyu di Sukabumi, yang bernama Musonip (48).

 

Ibarat ibu penyu yang cukup bersusah-payah untuk mencari tempat bertelur, dari Kawasan Konservasi Penyu Taman Pesisir Pangumbahan malam itu kami menyusuri pesisir Pangumbahan serta keluar-masuk kampung, tanya sana-sini, beberapa kali tersesat, akhirnya tiba juga di rumah Musonip, penggiat konservasi penyu yang juga sekretaris desa ini.

 

Lelaki berkulit agak gelap ini begitu sumringah saat kami mengajaknya mengobrol ihwal konservasi penyu. Diceritakan Musonip, pada tahun 1989 dia lulus dari Sekolah Pertanian Pembangunan Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SPP SUPM) Bogor. Saat lulus dari Jurusan Perikanan, kebetulan nilai pelajaran Konservasi dan Proteksi Sumber Daya Alam pada ijazahnya 9. Dengan lebih menonjolnya nilai tersebut, Musonip menyadari konservasi adalah bidang yang akan digelutinya. Karena di Pangumbahan ada konservasi penyu, pada tahun 1989 itu pun Musonip merapat ke Sukabumi.

 

“Jadi, panggilan jiwa saya itu senang untuk hal-hal seperti itu. Senang untuk hal-hal yang sifatnya konservasi. Kemudian yang saya tahu, karena basic saya juga perikanan, penyu ini ‘kan diyakini oleh banyak ilmuwan seluruh dunia, bisa menjaga ekosistem di laut. Kalau penyu punah, diyakini oleh para ilmuwan, ekosistem di laut rusak. Ada mata rantai. Kalau ekosistem di laut rusak, bisa kita bayangkan kerusakan laut yang luasnya 2/3 bumi. Bila ekosistem laut rusak, maka di darat pun akan terkena dampaknya,” kata suami dari seorang guru TK bernama Yeni Rahmawati ini.

 

Dijelaskan Musonip, bila tidak ada penyu ekosistem rusak, karena rumput laut akan pada “melamun”. Melamun itu ketika playground dan fishingground sebagai tempat ikan-ikan mijah dan bermain dalam keadaan rusak, alga rusak, maka akan booming plankton. Padahal, saat ada banyak penyu, plankton-plankton itu dimakan, dikendalikan penyu.

 

“Jadi kalau penyu tidak ada, plankton membludak, fishing ground-nya rusak, nelayan pun rugi. Itu khusus untuk penyu hijau. Ada penyu lagi dia khusus mengendalikan ubur-ubur di laut. Penyu lekang, dia memangsa ubur-ubur di laut. Jadi jika tidak dikendalikan, tidak dimangsa oleh penyu, maka ubur-ubur laut akan booming,” jelasnya.

 

Meskipun sudah dijelaskan dampak bahaya dari tidak adanya penyu kepada masyarakat, toh kesadaran yang muncul dari masyarakat terasa sangat lambat. Menurut Musonip, itu karena berkembangnya mitos yang kemudian mengangkat nilai ekonomis telur dan daging penyu. Karena tahu keberadaan penyu sudah ada ratusan tahun sejak zaman dinosaurus, berkembang mitos bahwa dengan memakan daging penyu, maka akan berumur panjang. Bahkan di restoran-restoran mahal daging penyu harganya melebihi harga sirip hiu. Di beberapa daerah tertentu, daging penyu pun dipakai untuk syarat upacara adat. Belum tempurung dan tulang-belulangnya kerap dibuat hiasan untuk cinderamata.

 

“Terhadap hal seperti ini, kita hanya bisa mengadvokasi. Menyampaikan ke pihak pemda, juga minta bantuan ke LSM-LSM yang lain. Kemarin dari Walhi datang, dengan WWF pun kita intens. Meminta bersama-sama melakukan kempanye kepada masyarakat bahwa daging penyu atau telur penyu secara medis itu bisa membuat badan kuat, atau dengan mengonsumsi daging penyu itu bisa panjang umur, karena penyu itu katanya ‘kan sudah ada sejak zaman dinosaurus, samasekali itu tidak benar. Yang benar, bila penyu itu punah, maka keseimbangan matarantai di habibat laut akan rusak,” tegas Musonip.

 

Penyu merupakan satwa liar sisa peninggalan zaman purba yang dilindungi, baik secara nasional, regional, maupun internasional. Namun, populasi dan kelangsungan hidupnya sangat terancam punah akibat berbagai permasalahan. Tindakan manusialah yang paling sangat serius mengancam keberadaan penyu dibanding fenomena alam. Seperti di antaranya pengunduhan/pengambilan telur penyu secara langsung dari sarang alaminya, yang secara tidak disadari pengunduhan telur sama saja pembinasaan penyu itu sendiri. Perburuan penyu untuk diambil daging dan bagian-bagian lainnya, kerusakan lokasi tempat pendaratan untuk bertelur di pesisir pantai, juga pengambilan ikan oleh nelayan dengan menggunakan jaring yang secara tidak sengaja mengambil penyu. Semuanya itu terjadi dan dialami penyu di pantai pendaratan dan peneluran Sukabumi.

 

Di hampir sepanjang pantai di Sukabumi yang masih alami, mungkin saja dapat dijadikan sebagai tempat penyu mendarat untuk membuat sarang dan bertelur. Namun menurut para ahli, yang terbaik, terbesar, dan terkenal hanya terdapat di Pantai Pangumbahan, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciracap. Bahkan Pantai Pangumbahan termasuk pantai pendaratan penyu terbaik se-Pulau Jawa, bahkan diakui secara internasional. Pantai Pangumbahan yang memiliki garis pantai sepanjang sekitar 3.000 meter memiliki butiran pasir yang halus dan tebal. Itu menjadi daya tarik tersendiri bagi penyu untuk bertelur.

 

Melihat kondisi yang ada, pada 2006 Musonip menggerakkan masyarakat yang perduli penyu untuk mendirikan Kelompok Konservasi Penyu (KKP).

 

KKP pun mulai memberikan teguran, kritik ke pemda, bahkan lewat media massa lokal Musonip kerap membuat tulisan tentang pentingnya penyelamatan penyu ini. Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil, ketika pada 2008 ada perhatian langsung dari Pemerintah Pusat. Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, akhirnya mengeluarkan surat edaran bahwa penyu tidak boleh dimanfaatkan sedikit pun. Pelaksanaan di Sukabumi, Agustus 2008.

 

Selanjutnya, berkat desakan dari pemerintah pusat, LSM, sementara masyarakat di Pangumbahan juga sudah mulai tumbuh kesadaran.

 

“Tetapi mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah membudaya, ‘kan tidak mudah. Mengubah budaya mengonsumsi dan menjual, baik telur maupun daging penyu itu tidak gampang. Sementara para wisatawan, juga pejabat-pejabat menganggap bahwa telur penyu itu oleh-oleh khas Pangumbahan, sehingga menjadi penghasilan bagi masyarakat yang biasa menggantungkan hidupnya di laut. Sangat susah untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan seperti itu,” kata lelaki yang lulus dari STISIP Syamsul Ulum Sukabumi, Jurusan Ilmu Pemerintahan, pada 2008 itu.

 

Kelompok Konservasi Penyu Sukabumi (KKPS) mulai berdiri pada Maret 2013. Diakui Musonip, KKPS yang diketuainya kini sudah mempunyai persemaian puluhan ribu batang mangrove. Keberadaan mangrove ini adalah terkait target utama KKPS untuk meningkatkan populasi pendaratan penyu, kemudian meningkatkan populasi atau jumlah tukik yang dilepas ke laut.

 

Setelah KKPS eksis, dengan benar-benar turun ke lapangan, data jumlah penyu yang naik untuk menetas pun terus menunjukkan peningkatan. Bila pada tahun 2012 hanya 700-an dalam setahun penyu yang naik, pada 2013 menjadi 2.000 lebih.

 

“Wilayah kerja KKPS adalah seluruh pantai di Sukabumi. Misalnya ada penyu yang mendarat di Tegal Buleud, Kecamatan Tegal Buleud, kita hubungi ada pokmas di sana. Tolong amankan penyu itu. Telurnya kembalikan ke penangkaran. Siapa yang menemukan, kita kasih imbalan. Misalnya 1 butir telur penyu kita barter dengan 5 butir telur ayam,” kata Musonip, yang mensyaratkan siapa saja yang mau masuk anggota KKPS haruslah tidak doyan telur penyu.

 

Dalam kiprahnya, KKPS terus memberi penjelasan kepada masyarakat. Masyarakat diberi penjelasan yang mudah bahwa dengan adanya penyu, otomatis wisatawan akan banyak datang. Dengan banyaknya wisatawan yang datang, masyarakat bisa berjualan, penginapan-penginapan pun bisa hidup sehingga menambah lapangan pekerjaan. Jadi, ada perputaran uang. Tetapi kalau penyunya tidak ada, orang tidak bisa jualan, tidak bisa membuka penginapan.

 

“Orang akan bisa terima dengan bicara dampak ekonomis seperti itu, ketimbang bicara ke sistem. Masyarakat perduli amat alga pada ngelamun atau alga booming,” kata lelaki yang murah senyum ini.

 

Kemungkinan penyu-penyu akan semakin banyak naik dan menetas di pesisir Pangumbahan, menurut Musonip, berdasarkan temuan para ilmuwan bahwa penyu punya sifat biologis dan naluri akan kembali bertelur di tempat dia ditelurkan dan ditetaskan.

“Jadi kalau dia bertelur di Pangumbahan, menetas di sini, kembali ke laut, dari 1.000 tukik yang dilepas paling yang hidup hanya satu. Ini hasil penelitian dan diyakini banyak ilmuwan. Yang satu itu dipastikan akan kembali ke sini, 20 tahun sampai 30 tahun kemudian. 20 tahun itu sudah terbilang cepat. Itu dia bisa bertelur ke sini, kalau tempat bertelurnya aman dan nyaman. Kalau tempatnya sudah tidak aman dan nyaman, misalnya sudah menjadi bangunan-bangunan atau hutannya gundul, dia akan kabur. Ibaratnya orang sakit hati, nelangsa, karena ketika dia mau pulang ke kampung halamannya, ternyata sudah menjadi hotel-hotel, sudah tidak teduh, habitat di daratnya,” tutur Musonip, sedikit mengiba.

 

Selain tempat bertelurnya telah tergusur, juga akibat perburuan, kepunahan penyu disebabkan oleh laut kotor, pembangunan pesisir, kerusakan pantai sehingga penyu tidak dapat bertelur, bencana lingkungan, dan tentu saja semua ini kembali sebagai akibat ulah nakal manusia. Dalam hal ini, itu bukan lagi bagian kiprah dari Musonip dan KKPS-nya, melainkan lebih pada penggugahan kesadaran terdalam dari sanubari kita, empati kita untuk menghargai sebuah kebebasan. Kebebasan kehidupan tukik, yang tiada lain ujung-ujungnya adalah untuk kehidupan kita yang lebih baik.* harie - kisuta.com


TAG TERKAIT