Kamis, 23 Mei 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Honai, Tempat Belajar Mengenai Arti Kehidupan
Senin, 31 Desember 2018[170]
Honai, Tempat Belajar Mengenai Arti Kehidupan
HARIYAWAN/KISUTA.com

KISUTA.com – Mayarakat Lani di Papua, tidak mengenal konsep keluarga batih, yaitu bapak, ibu, dan anak, tinggal dalam satu rumah. Mereka adalah masyarakat komunal. Jika rumah dipandang sebagai suatu kesatuan fisik yang menampung aktivitas-aktivitas pribadi para penghuninya, dalam masyarakat Dani unit rumah tersebut adalah sili.

 

Pada dasarnya sili/silimo merupakan kompleks tempat kediaman yang terdiri atas beberapa unit bangunan (rumah/honai) beserta perangkat lainnya.

 

Suku Lani sering membangun rumah adat mereka sesuai dengan apa yang ada di daerahnya pada masa lampau. Pada umumnya orang gunung di Provinsi Papua memiliki rumah adat yang sering disebut Honai.

 

Istilah honai sendiri berasal dari dua kata, yakni “Hun” yang berarti pria dewasa dan “Ai” yang berarti rumah. Dari klasifikasinya, terdapat dua jenis honai, yakni honai bagi kaum laki-laki dan perempuan.

 

Bahan yang biasanya digunakan untuk membuat honai,yaitu kayu besi (oopir), kayu buah besar, kayu batu yang paling besar, kayu buah sedang, jagat (mbore/pinde), tali (kedle), alang-alang (wakngger), papan yang dikupas (oo nggege nggagalek), papan las, dan lain-lain.

 

Orang Lani mempunyai tiga honai, yakni honai bagi kaum laki-laki, honai perempuan, dan honai yang dikhususkan untuk memberi makan atau memelihara ternak seperti babi (wam dabukla). Jadi tidak benar jika ada anggapan miring bahwa masyarakat asli di Pegunungan Tengah Papua biasanya tidur bersama ternak babi di dalam honai mereka, sebab ada honai yang dibangun khusus untuk memelihara babi.

 

Honai memang memiliki nilai filosofis yang mendalam, sebab pada rumah tradisional inilah tempat generasi awal masyarakat pegunungan tengah Papua dilahirkan dan dibesarkan. Honai juga menjadi tempat belajar mengenai arti kehidupan dan hubungan timbal balik antara manusia dengan alam sekitar maupun dengan Sang Pencipta. Jadi, keunikan honai patut dijaga agar tidak cepat tergerus perkembangan zaman.

 

Namun yang perlu diperhatikan, dalam rumah honai tradisional umumnya tidak memiliki cerobong (saluran) pembuangan asap hasil pembakaran. Inilah masalah terbesar penyebab gangguan kesehatan pernafasan pada masyarakat lokal yang kini masih mempertahankan honai sebagai rumah tinggal.

 

Simbol Hubungan dengan Leluhur

Permukiman suku Lani biasanya berupa satu unit kecil dari suatu kelompok klen. Satu unit ini terdiri atas empat bentuk bangunan yang disesuaikan berdasarkan fungsinya. Keempat bentuk bangunan ini terdiri atas; rumah khusus bagi pria yang dinamakan kunume; rumah tinggal bagi wanita dinamakan ome; kandang babi sekaligus dapur disebut wam ome.

 

Kesatuan keluarga inti tidak tinggal bersama dalam satu rumah. Anak laki-laki berusia maksimal 10 tahun masih tinggal bersama ibu dan saudara wanitanya. Sedangkan anak laki-laki di atas 10 tahun harus tinggal bersama ayah dan saudara laki-laki lainnya dalam honai laki laki.

 

Bentuk perkampungan mereka biasanya persegi panjang dengan dikelilingi pagar setinggi 1-1,5 meter. Satu kampung (otinime) merupakan perkampungan kelompok. Rumah laki-laki berada tepat di hadapan pintu masuk perkampungan. Tujuannya untuk mengawasi keamanan atau mengamati gerak-gerik tamu yang mencurigakan.

 

Rumah perempuan selalu berada di sisi halaman rumah sebelah kiri. Sedangkan dapur yang merangkap kandang babi terletak di belakang dengan pintu babi menghadap ke luar pagar. Posisi ini dimaksudkan supaya babi piaraannya bisa bebas keluar masuk hutan tanpa memasuki halaman perkampungan. Kebun petatas, buah merah, atau pisang berada di pemukiman atau pagar halaman.

 

Rumah adat suku Lani (honai) berbentuk bulat dengan tinggi bangunan dua meter, serta atapnya menyerupai payung setinggi dua meteran dari lingkaran atas bangunan. Menurut pemahaman mereka, bentuk bulat utuh dalam keadaan tertutup yang diwujudkan dalam bentuk rumah honai ini dimaksudkan sebagai simbol hubungan satu kesatuan antara alam, lingkungan, masyarakat serta para leluhurnya.

 

Baik rumah pria maupun rumah wanita tidak ada sekat, yang ada hanya para buat menyimpan kayu bakar tepat di atas tungku pembakaran. Tungku pembakaran pria hanya sebagai penghangat, sedangkan tungku rumah wanita selain penghangat sekaligus untuk memasak.

 

Pola pemukiman suku Lani di Tolikara dengan Suku Dani yang mendiami sebagian Kabupaten Jayawijaya berbeda, baik letak maupun istilah penamaannya. Sebagai gambaran, pemukiman Suku Dani dinamakan usilimo yang di dalamnya terdapat honai laki laki (pilamo) dan sejumlah honai perempuan (ebeai) yang disesuaikan dengan jumlah istri mereka. Dapur (hunila) berbentuk memanjang dan kandang babi (dabula).* harie – kisuta.com

 


TAG TERKAIT