Kamis, 23 Mei 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerdikSosok Inspirasi
Hidup-Mati “Uwa Budi” untuk Baduy
Senin, 7 Januari 2019[244]
Hidup-Mati “Uwa Budi” untuk Baduy
IST.

KISUTA.com - Kiprah DR. Yusuf Tresna Budi, M.Sc., yang di kalangan masyarakat Baduy akrab disapa “Uwa Budi” di bidang penelitian konservasi alam dan lingkungan, diakui banyak kalangan. Ia adalah sosok peneliti yang rela menghabiskan sebagian waktu semasa hidupnya demi kepentingan penelitian ilmiah. Sejumlah kawasan hutan belantara, termasuk suku pedalaman di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatera, dan Papua pernah dirambahnya selama bertahun-tahun.

 

Meski sudah menjelajahi hutan belantara di Nusantara, untuk pekerjaan riset botani-zoologi, pria kelahiran Bogor 14 April 1960 ini berkesimpulan lain. Pasca hasil riset temuannya itu, ternyata bertolak belakang dengan teori modern. Ia menemukan pola konservasi alam dan lingkungan secara tradisional di Baduy. Atas dasar itulah, Sarjana Biologi jebolan Universitas Indonesia ini semakin terobsesi mengimplementasikan hasil riset konservasi Baduy ke dalam pendidikan formal (traditional knowledge).

 

Bagi Master Bidang Ekologi dari Perth University Australia ini, riset ilmiah di kawasan pedalaman Banten menjadi energi baru dalam perjalanan misi pelestarian hutan di Tanah Air, terlebih tanah Baduy adalah pelabuhan cinta terakhirnya, karena kemudian dia menikahi putri Jaro Dainah, Iis Hermawati.

 

Doktor penulis disertasi berjudul “Strategi Konservasi dengan Konsep Tradisional” di IPB Bogor ini, mengaku awal meneliti kehidupan masyarakat Baduy justru berangkat dari rasa frustrasi.

 

“Waktu itu saya masih bekerja di Biotrof dan pernah melanglangbuana dari satu hutan ke hutan lain di Indonesia. Saat itu saya banyak melihat kerusakan hutan yang luar biasa. Sedangkan pola kebijakan pemerintah untuk perlindungan hutan, justru malah salah arah. Misalnya pemberlakuan rehabilitasi, reboisasi, dan konservasi dengan tanaman produksi yang justru berujung kepada kondisi hutan menjadi tidak heterogen,” kata Uwa Budi, seperti disampaikan pada Tabloid Menara Banten (2006).

 

Kekhawatiran terhadap kerusakan hutan semakin tidak terbendung lagi, ketika Uwa Budi melakukan analisis vegetasi hutan di Sumatera bersama profesor asal Prancis. Saat itu gelombang keajaiban ekonomi terus bergulir, hingga hutan pun ditebang habis pada kurun waktu tahun 1980-1990. Nyaris, kondisi hutan yang benar-benar utuh tidak pernah dia temukan di wilayah hutan Indonesia. Tetapi rupanya di Baduy tidak demikian. Tempat ini kemudian menjadi obat penawar dari rasa haus-dahaganya atas pertanyaan misteri yang selama bertahun-tahun terus menghantui. Baduy dengan budaya asli, original, tradisional akan menjadi satu pola konservasi yang mutakhir untuk memertahankan keutuhan alam dan lingkungan.

 

Diakui Uwa Budi, dia mulai masuk ke Baduy tahun 2001. Awalnya hanya jalan-jalan dan tidak sedikit pun punya niat melakukan penelitian. Di Baduy Uwa Budi mengenal salah seorang warga masyarakat bernama Samin. Pada 2001-2002, Uwa Budi pun tinggal di rumah Mang Samin di Kadu Ketug. Baru setelah menikah pada tahun 2003, Uwa Budi menetap di Cicakal.

 

“Samin di mata saya adalah seorang ‘profesor’, meski dia tidak pernah mengenyam sekolah formal. Bayangkan, betapa hebatnya jika orang yang selama ini dinilai paling terbelakang, tetapi memiliki kemampuan mengetahui semua jenis tanaman yang ada di hutan, termasuk species elang jawa yang biasa bersarang di pohon tinggi seperti Tangkolok. Bahkan di Baduy saya menemukan arsitektur profil hutan, seperti hutan titipan, tutupan, dungus, dan gentong bumi,” terangnya.

 

Berdasarkan hasil penelitian Uwa Budi, ditemukan ada salah satu tanaman yang ada di Indonesia, diketahui telah punah, namun ternyata di Baduy masih ada. Termasuk tanaman kategori jenis purba masih ada di Baduy. Singkatnya, secara botani dan zoologi Baduylah yang tertua. Tidak hanya itu, tatanan kehidupan masyarakat sangat tertata secara sangat baik. Begitu juga nilai-nilai moral kemanusiaan sangat tampak di sana.

 

Potret masyarakat Baduy masih jadi fenomena unik. Ini bukan saja karena kuatnya kultur adat secara turun-temurun dari leluhur, namun dari pola pikirnya ternyata mereka maju. Mereka pun memiliki semacam pedoman hidup; masyarakatnya tidak boleh mengeksploitasi alam dalam bentuk apa pun. Contoh, tidak boleh ada sumur atau kolam, karena dinilai akan merusak sumber air. Begitu juga benda-benda modern ditolak, karena bisa mengganggu ekosistem.

 

Jadi dari segi perkembangan teknologi, kata Uwa Budi, Baduy memang terbelakang, tetapi dalam peradaban atau pemahaman pemikiran mereka sangat maju. Misalnya keperdulian mereka terhadap lingkungan alam di luar Baduy, seperti kerusakan hutan di Gunung Karang, Gunung Bongkok, atau pencemaran Sungai Cisadane di Tangerang. Semua itu biasanya mereka sampaikan saat acara seba Baduy.

 

“Tutupan vegetasi di Baduy Dalam sangat sulit disentuh. Baduy tidak akan pernah terpengaruh oleh perilaku modern, karena dalam lingkup struktur keadatan, mereka memiliki semacam filterisasi. Misalnya sebelum orang memasuki Tangtu, dia harus melewati sejumlah Jaro. Di sinilah setiap persoalan cepat diatasi,” ujarnya.

 

Diakui Uwa Budi, permasalahan yang terjadi di Baduy itu banyak. Misalnya penyerobotan lahan Baduy oleh masyarakat luas (konversi lahan) atau pencurian kayu di hutan wilayah Selatan. Terus lagi tindakan masyarakat modern yang kerap mengganggu kehidupan tradisional Baduy, seperti pengambilan dokumentasi, pembuatan film, dan lain-lain.

 

Ihwal perhatian pemerintah terhadap pelestarian kehidupan masyarakat Baduy, saat itu secara jujur Uwa Budi mengatakan sejauh ini belum ada tindakan apa pun dari pemerintah. Mereka masih menilai Baduy sebagai monumen atau suku terasing yang ada di Banten. Padahal, sebenarnya banyak hal yang bisa dikembangkan di Baduy, sektor wisata misalnya. Asal konsisten dan ada komitmen kuat di antara dinas terkait, pasti akan menguntungkan sebagai masukan pendapatan keuangan daerah.

 

“Pokoknya, prinsip saya jangan melihat Baduy dari aspek ketradisionalannya, tetapi dari sistemnya. Dengan kata lain, Pemerintah Provinsi Banten harus mampu menggali pola tanaman masyarakat Baduy (traditional knowledge), termasuk memahami kearifan masyarakat Baduy. Ini bisa diaplikasikan di luar masyarakat Baduy. Caranya, cobalah beberapa instansi terkait masuk dan mempelajari kehidupan tradisional di Baduy, kemudian hasilnya diimplementasikan melalui pendidikan formal, seperti mendirikan SMK Kehutanan, Politeknik Kehutanan yang berbasis kurikulum tradisional,” saran Uwa Budi.

 

Dikatakan Uwa Budi, sudah cukup jauh dia melakukan pendekatan, terutama dengan dinas terkait di Provinsi Banten. Hanya saja konsep yang ditawarkan selalu bertabrakan dengan program, termasuk dengan kebijakan pemerintah. Malahan mereka terlihat bingung dengan konsep yang ditawarkan. Inilah mengapa Uwa Budi kemudian memilih Cianjur sebagai tempat untuk mengaplikasikan konsep ini, tidak lain karena mereka merespon hasil riset. Bahkan bersama pusat pelatihan VEDCA (Vocational Education Development Center for Agriculture) di Cianjur sudah dibangun lahan hutan seluas 53 ha.

 

Uwa Budi pun menyatakan akan mencoba menerapkan traditional knowledge ke dalam pendidikan formal. Bahkan di perguruan tinggi VEDCA, Cianjur, Jawa Barat, dia sempat mendirikan program studi Diploma 4 dan beberapa konsentrasi kejuruan dan fakultas konservasi kawasan lindung. Jadi program studi atau kurikulumnya, termasuk laboratorium bersifat tradisional.

 

Sejauh ini, apa yang bisa Uwa Budi simpulkan tentang Baduy? “Ya bagi saya sungguh ini sebuah keajaiban, karena masyarakat tradisional yang kita anggap sangat kuno, ternyata mengajarkan kepada kita bagaimana cara hidup damai berdampingan, memegang teguh keyakinan, mencintai alam dan ekosistem. Jadi, tidak ada salahnya jika kita belajar terhadap realitas ini,” katanya.

 

Guna mewadahi kepentingan masyarakat Baduy dalam meneguhkan sejarah alam, Uwa Budi pun mendirikan sebuah wadah bernama “Ecocentric Community” pada 2001. Untuk lembaga ini, Jaro sepakat mendukung dari belakang dan digagas agar para generasi muda untuk berdiri di depan sebagai penggeraknya. Hal lembaga ini pun, seperti diakui Uwa Budi, tidak luput berkat dorongan PT. BUMN HL I.

 

Namun dalam perkembangan berikutnya, dipandang perlu dipilihnya sebuah nama institusi yang lebih “membumi”. Oleh karena itu, nama yang lebih mengemuka kemudian adalah Yayasan Rakeyan Cicakal Girang (Rakeyan Foundation), yang mendapatkan Akta Notaris No. 50 tahun 2012.

 

Kenangan Orang-orang Terdekat

Manusia boleh punya rencana, tetapi Tuhan juga yang menentukan. Di saat orang-orang Baduy semakin mencintai kehadiran Uwa Budi, tetapi Tuhan lebih mencintai Uwa Budi. Saat di perjalanan menuju Kota Bandung guna memberikan materi dalam sebuah seminar lingkungan, Uwa Budi mengeluhkan dadanya sesak. Sempat dirawat di Rumah Sakit Mulia Insani, Cikupa, Kabupaten Tangerang, namun takdir kematian menjemputnya. Uwa Budi meninggal pada Kamis, 28 Maret 2013, pukul 15.15 WIB. Kematian yang mendadak ini, sontak selain membuat kaget keluarga dan orang-orang terdekat, juga seluruh lapisan masyarakat yang mencintai pelestarian lingkungan dibuat berduka-cita.

 

Berangkat dari rasa duka kepergian Uwa Budi, keperdulian Uwa Budi terhadap Baduy –melalui Yayasan Rakeyan--, tidak akan pernah terputus. Keduanya telah terjalin “hubungan batin” yang telanjur kuat. Mudah-mudahan hubungan batin ini semakin kuat, tidak kendur oleh kematian yang merupakan sunnatullah yang berlaku pada setiap makhluk yang bernyawa. Kita pun cepat atau lambat akan menghadap ke Haribaan-Nya. Tinggal amal-amalan, ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat yang kita tinggalkan di dunia dan bisa menolong kita di akhirat. Setidaknya, hidup dan mati Uwa Budi untuk masyarakat Baduy, menyiratkan amal-amalan panjang yang pastinya akan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat hingga akhir zaman.* harie – kisuta.com


TAG TERKAIT