Kamis, 21 Maret 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerdikSosok Inspirasi
Rubikem
Pemberi Terang dari Desa Terong
Kamis, 10 Januari 2019[219]
Pemberi Terang dari Desa Terong
HARIYAWAN/KISUTA.com

KISUTA.com – Senja makin menua ketika hari itu penulis tiba di sebuah rumah di Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabuparen Bantul, Provinsi Yogyakarta. Sengaja, dari Bandung penulis hendak menemui Ibu Rubikem, yang tiada lain adalah penerima penghargaan dari Menteri Kehutanan RI sebagai Juara I Nasional Penghijauan dan Konservasi Alam “Wana Lestari” Kategori Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) 2012.

 

Tepatnya, Bu Rubikem tinggal di Pedukuhan Kebokuning, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pedukuhan Kebokuning terletak di paling Barat di Desa Terong, berbatasan langsung dengan Kecamatan Pleret dan sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Muntuk. Pedukuhan yang terdiri atas empat RT ini, berada di sebelah Barat jalan utama yang melintasi desa ini (Jalan Patuk-Dlingo), merupakan pedukuhan yang paling aktif dalam setiap kegiatan di wilayah Desa Terong, dengan mayoritas pekerjaan sebagai pegawai maupun wiraswastawan dengan lebih sedikit dibanding pedukuhan lain sebagai petani.

 

Berada di daerah konservasi alam berupa perbukitan, memunginkan kegiatan penyuluhan di Kecamatan Dlingo mendapat apresiasi yang begitu besar dari masyarakat. Terbukti, misalnya pada tahun 2012, dari 5 kategori untuk mengevaluasi dampak kegiatan penyuluhan dan kinerja kelembagaan tingkat kelompok tani dengan melaksanakan verifikasi sebagaimana ditetapkan Kementerian Kehutanan RI, Kabupaten Bantul dan Tim Penilai Tingkat Provinsi DIY, tiga di antaranya diwakili dari wilayah kerja BPP Kecamatan Dlingo, yaitu Kegiatan Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM) diwakili Madrasah Ibtidaiyah Al Islam Koripan, Dlingo, Dlingo, Bantul; Penyuluh Kehutanan Lapangan (PKL), Edi Priyatno, S.TP, Penyuluh Kehutanan BPP Kecamatan Dlingo; dan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM), Ny. Rubikem, PKSM Desa Terong, Dlingo, Bantul.

 

Awal Kiprah dengan Teladan

Setelah sempat beraktivitas di Indramayu, pada awal tahun 2000, Bu Rubikem kembali ke desanya. Bu Rubikem melihat para penduduk di desanya sudah mengalami perubahan karakter pekerjaan, sementara itu penduduk pun tidak cukup lagi sekadar menyandarkan penghasilan dari hasil pertaniannya. Ujung-ujungnya, terutama anak-anak mudanya, mencari pekerjaan ke kota untuk menjadi buruh bangunan atau menjadi pelayan di pertokoan guna memenuhi kebutuhannya.

 

Dengan banyaknya anak muda bekerja di kota, tanah di desa pun menjadi banyak yang terlantar karena sudah tidak diolah lagi. Sementara itu, kebanyakan dari ibu-ibu di desa itu murni ibu rumah tangga. Kebiasaan sehari-harinya, setelah mereka melaksanakan tugasnya di pagi hari, siangnya banyak waktu luang. Di satu sisi, ada lahan-lahan garapan yang belum dimanfaatkan secara maksimal, malahan terlantar. Di sisi lain, Bu Rubikem melihat potensi sumber daya manusia --terutama ibu-ibu-- yang punya waktu luang. Tinggal bagaimana untuk bisa memberdayakannya.

 

Pada sisi lain, harga kayu semakin menarik. Jual-beli kayu menjadi sesuatu hal yang menggiurkan. Orang-orang pun sering menjual kayu dari hutan. Kalau sekadar tahunya menebang, tentu saja pohon-pohon di hutan akan habis, yang akan berimbas pada ketidakseimbangan lingkungan. Untuk itulah, Bu Rubikem merasa terpanggil untuk turun tangan; memberi tahu dan mengingatkan agar orang-orang itu jangan suka menebang saja, tetapi harus juga suka menanam dan melihara pohon.

 

“Awal kami bergerak, tidak mudah. Segalanya dilakukan secara swadaya. Misalnya dalam satu perjalanan untuk menyampaikan materi ke suatu komunitas tidak ada ongkos untuk kendaraan, maka merogoh dari saku sendiri. Akhirnya saya berjuang dengan modal keperdulian dan ikhlas. Kalau tujuan yang baik, saya yakin insya Allah semuanya akan berjalan dengan baik pula,” kata Bu Rubikem yakin.

 

Masyarakat butuh contoh, bukan sekadar gembar-gembor pemberitahuan kebermanfaatan lingkungan bagi masyarakat sekitarnya. Untuk itu, perlu contoh yang bisa dilihat langsung oleh masyarakat. Bu Rubikem pun mulai membuat demplot di pekarangan rumahnya sendiri, terutama untuk tanaman sayuran, selain dibuat pula kolam-kolam kecil di samping rumah untuk peternakan lele. Setelah tanaman sayuran tumbuh dengan baik, tetangga terdekat pun tertarik untuk ikut menanam. Setelah dengan tetangga dekat, berlanjut terus dengan komunitas masyarakat, terutama ibu-ibu.

 

“Mereka diajak ke lokasi dengan banyak berbagi informasi untuk melihat apa yang telah saya lakukan dengan harapan sepulangnya dari sini bisa mengikuti jejak kami. Sebelum melangkah ke tanaman keras lainnya, saya memulainya dari sayuran,” kata Bu Rubikem.

 

Meningkatkan Peran Wanita Perdesaan

Sebagai keluarga yang kehidupan sehari-hari berada di daerah konservasi alam berupa perbukitan, serta menjadi anggota kelompok tani hutan rakyat, Bu Rubikem pun kemudian kerap diikutkan dalam kursus atau pendidikan dan pelatihan. Pada 2003 merupakan titik penting ketika dia ikut pelatihan agroforestry (wanatani). Sepulangnya mengikuti kursus singkat itu, Bu Rubikem langsung mempratikkan ilmu yang didapatnya, yakni ingin mengoptimalkan lahan yang ada di desanya sesuai peruntukannya.

 

“Saya melakukan pemberdayaan perempuan dimulai pada tahun 2000, namun 2003 dinas-dinas sudah mulai memanggil saya untuk memberikan amanah melaksanakan dan mengikuti pelatihan-pelatihan,” kata Bu Rubikem, yang sejak saat itu mulai melakukan penyuluhan. Dengan tampilnya penyuluh wanita, justru mempermudah untuk membantu kegiatan ibu-ibu di desa, terutama untuk meningkatkan usaha sekaligus menggairahkan ekonomi pedesaan.

 

Dalam rangka meningkatkan peran wanita di perdesaan dalam pembangunan khususnya di bidang pertanian pada dewasa ini, kaum wanita memang dituntut peran sertanya yang aktif demi tercapainya pelaksanaan pembangunan di bidang pertanian yang merata kepada petani dan keluarganya, yaitu bapak tani, ibu tani, dan anak tani. Salah satu metode penyuluhan yang efektif untuk melaksanakan program pemerintah, yaitu melalui siaran-siaran pedesaan merupakan pendidikan yang digunakan sebagai sarana belajar masyarakat pedesaan. Sadar pada hal ini, Bu Rubikem pun menyampaikan penyuluhannya di radio-radio komunitas.

 

Bersama-sama ibu-ibu di Desa Terong, Rubikem pun kemudian membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Anggur. Rubikem menyadari fokus program-program KWT pada wanita tani sejajar kedudukannya dengan teori pembangunan saat ini yang menekankan pentingnya memberdayakan perempuan untuk mencapai hasil jangka panjang di seluruh rangkaian persoalan pembangunan. Wacana mengenai pembangunan global menyatakan bahwa perempuan tani terus-menerus diremehkan dan diabaikan dalam kebijakan dan strategi mengenai pembangunan dan bahwa hal ini membatasi kemampuan program-program pembangunan tersebut untuk mencapai tujuan mereka. Sebuah penelitian memberi peringatan bahwa ‘ketidaksetaraan gender dan kurangnya perhatian terhadap gender dalam pembangunan pertanian menyumbang terhadap rendahnya produktivitas, hilangnya pendapatan, dan lebih tingginya tingkat kemiskinan serta rendahnya gizi’.

 

Faktor kunci yang menyebabkan KWT mampu memberdayakan wanita adalah fokusnya untuk menjamin bahwa KWT dikelola dan dijalankan oleh anggotanya. Diikutsertakannya wanita dalam merancang dan melaksanakan prakarsa, diakui sebagai strategi pemberdayaan yang efektif.

 

Proyek KWT juga menyumbang pada pemberdayaan ekonomi dengan cara mendorong perempuan mencapai kemandirian ekonomi. Penting untuk dicatat, kegiatan yang menghasilkan uang bukan satu-satunya mekanisme untuk memberdayakan perempuan dari segi ekonomi. Beberapa aspek lain yang juga dipandang penting, yaitu pelatihan dalam bidang manajemen bisnis, pengembangan kemampuan baca dan pendidikan pada umumnya, pedoman mengenai bagaimana menyeimbangkan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan, dialog mengenai masalah-masalah sosial dan politik, termasuk hak-hak wanita dan masalah-masalah yang dihadapi komunitas, pengalaman dalam pengambilan keputusan, pengembangan kepemilikan oleh perempuan, pengawasan dan keikutsertaan dalam pengelolaan kekuasaan.

 

Selain dengan KWT, Bu Rubikem terlibat dalam Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Gapoktan adalah gabungan dari beberapa kelompok tani yang melakukan usaha agribisnis di atas prinsip kebersamaan dan kemitraan, sehingga mencapai peningkatan produksi dan pendapatan usaha tani bagi anggotanya dan petani lainnya. Tujuan utama pembentukan dan penguatan Gapoktan adalah untuk memperkuat kelembagaan petani yang ada, sehingga pembinaan pemerintah kepada petani akan terfokus dengan sasaran yang jelas.

 

Bersama kelompoknya, Bu Rubikem pun kemudian melakukan diversifikasi berbagai tanaman di lahan usaha tani dengan aneka tanaman kehutanan dan aneka tanaman pangan. Singkat kata, apa yang dilakukan Rubikem ternyata berhasil. Tidak hanya itu, keberhasilan Rubikem menjadi motivasi menggerakkan anggota kelompoknya mengikuti jejaknya.

 

Sejak itu, Bu Rubikem pun makin dikenal. Apalagi, wanita lulusan sekolah menengah pertama (SMP) ini juga rajin mengikuti atau diundang dalam berbagai pertemuan antara kelompok tani, kelompok wanita tani, PKK, serta kursus atau pelatihan. Malah belakangan dirinya kerap diminta atau diundang oleh kelompok tani daerah lain, sekaligus menyosialisasikan apa yang sudah dilakukan di daerahnya itu kepada daerah lain.

 

Penyuluh memang boleh dibilang “tenaga super” dan salah satu andalan sukses tidaknya sebuah program pemerintah. Harap maklum, profesi ini menuntut pelakunya selalu lebih tahu dan bisa langsung menerapkan kebijakan dan program pemerintah di lapangan.

 

Berbagai kegiatan Bu Rubikem menuai prestasi. Tahun 2007, Bu Rubikem pun ditetapkan menjadi Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul.

 

“Sebuah pengakuan (menjadi PKSM, Pen.) itu bukan penghargaan, tetapi sebuah tantangan. Setelah ada pengakuan, saya ditantang untuk bisa. Kemudian bagaimana untuk terus meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan SDM kami dalam memfasilitasi mereka. Dari berbagai pelatihan itu, saya betul-betul dapat ilmu dari situ,” ujarnya.

 

Ditanya ihwal motivasinya melibatkan diri dalam pemberdayaan masyarakat, Ibu Rubikem yang nyaris dalam kesehariannya tidak ada di rumah karena selalu berada di tengah-tengah masyarakat, secara jujur mengakui semata-mata hanya mencari kepuasan hati.

 

“Pada saat saya memberikan sesuatu kepada masyarakat, saya melakukannya secara ikhlas. Bisa diterima, atau malah ditolak, saya tidak sakit hati. Apalagi apabila masyarakat yang saya bina itu bisa berhasil, ada kepuasan hati yang membuat saya sangat bahagia,” katanya jujur.

 

Tidak Surut Menimba Pengalaman

Meskipun Bu Rubikem sudah ditetapkan menjadi PKSM, namun keinginan menimba pengalaman dan pengetahuan tidak pernah surut. Setiap ada undangan mengikuti pelatihan bidang kehutanan dan non-kehutanan tidak pernah ditolaknya. Jadi, wajar jika kreasinya pun semakin bertambah.

 

Tidak terbatas di Desa Terong, Bu Rubikem aktif mengajak kelompok tani di luar desanya. Misalnya mengembangkan tanaman di bawah tegakan dan pembuatan starter bokashi, pupuk bokashi di Kelompok Ternak Sedyo Rukun Terong I. Bokashi adalah sebuah metode pengomposan yang dapat menggunakan starter aerobik maupun anaerobik untuk mengomposkan bahan organik, yang biasanya berupa campuran molasses, air, starter mikroorganisme, dan sekam padi. Kompos yang sudah jadi dapat digunakan sebagian untuk proses pengomposan berikutnya, sehingga proses ini dapat diulang dengan cara yang lebih efisien. Starter yang digunakan amat bervariasi, dapat diinokulasikan dari material sederhana seperti kotoran hewan, jamur, spora jamur, cacing, ragi, acar, sake, miso, natto, anggur, bahkan bir, sepanjang material tersebut mengandung organisme yang mampu melakukan proses pengomposan.

 

Keterlibatan Bu Rubikem yang lainnya adalah dalam pengolahan empon-empon (minuman segar) di Canden, Jetis, Bantul, kerajinan bambu di Banjarharjo II, Muntuk Dlingo, aneka olahan pisang dan umbi-umbian di Kelompok Wanita Tani Sekar Arum Gunung Cilik Dlingo, dengan merk Nikimon. Produk makanan ini sudah beredar di warung, toko, bahkan pasar swalayan di sekitar Yogjakarta.

 

“Produksi olahan makanan dari pisang merk Nikimon sempat tersendat, kini mulai saya bangkitkan lagi bekerja sama dengan Disnakertrans supaya dimasukkan program biar Nikimon bangkit lagi. Kendala yang utama adalah kekurangan orang. Saya pikir, kalau masalah bantuan atau modal dana sudah tersedia, namun yang terpenting benahi dulu SDM-nya,” aku Bu Rubikem, yang kini juga melakukan pemberdayaan perempuan dengan agri-silvopasturaure dengan perikanan lele, bahkan sudah ada bantuan dari Dinas Kelautan. Artinya, ke depan perlu perluasan wilayah.

 

Agri-silvopastura adalah bentuk agroforestri yang menggabungkan kegiatan kehutanan dan peternakan dalam satu sistem pengelolaan lahan. Wujud dalam sistem silvopastura dalam praktek di lapangan, yaitu dalam suatu kawasan hutan ditanami rumput atau jenis hijauan pakan ternak tanpa merusak tegakan hutan. Bentuk silvopastura tersebut dapat diterapkan dalam kawasan hutan yang penduduk di sekitarnya mengembangkan usaha perternakan, tetapi tidak memiliki tempat pengembalaan, sehingga lahan di bawah tegakan hutan dapat ditanami rumput yang dimanfaatkan untuk pakan ternak. Para petani juga dapat tetap mengandangkan ternak, tetapi pakan ternaknya diambil dari dalam kawasan hutan yang terdapat di bawah tegakan hutan yang telah ditanami rumput dan hijauan pakan ternak.

 

Banyak hasil kreasi Bu Rubikem itu yang didapat dari pelatihan, yang diterapkan dan dikembangkan di desanya. Misalnya tungku hemat energi berbahan bakar kayu (rencek). Tungku ini, ujar Bu Rubikem, bisa menghasilkan api selama 1 menit hanya menghabiskan bahan bakar 10 gram rencek. Teknologinya sangat sederhana dan bisa menghemat bahan bakar kayu yang sangat besar.

 

“Buat tungku hemat kayu, saya terapkan kepada keluarga yang kurang mampu. Dengan adanya konversi dari minyak tanah ke gas, ‘kan tidak semua orang bisa membeli gas. Saya memberi penyuluhan kepada masyarakat biar tidak merusak tumbuhan yang masih tumbuh dan biar pemakaian tungkunya hemat energi. Untuk tungku hemat energi ini, saya dapat dari mengikuti pelatihan di Solo. Intinya, setiap ilmu yang saya dapat harus bisa diaplikasikan terhadap masyarakat. Jangan sampai enggak ada bekasnya,” katanya.

Selain memberikan penyuluhan, pembibitan, melakukan penanaman, konservasi, pendampingan Kebun Bibit Rakyat (KBR) dan hutan rakyat di 9 kelompok tani desa Terong, PKSM pun melakukan upaya perlindungan.

 

“Dalam upaya melakukan perlindungan, kami mengimbau kepada siapa pun yang melakukan penebangan pohon, harus dibarengi dengan melakukan penanaman. Kami berikan aturan, siapa yang menebang 1 pohon, harus menanam 10 batang pohon. Tebang satu, tanam 10. Ini agar keberlangsungan keberadaan pohon-pohon tetap terjaga. Kami pun mengimbau setiap ada kelahiran, pihak keluarga untuk menanam pohon; bayi laki-laki 2 pohon, perempuan 1 pohon,” imbau Bu Rubikem.

 

Hal menarik, Rubikem ternyata juga aktif dan bergabung dengan Lembaga Swadaya Masyarakat di bawah binaan Dewan Kehutanaan Nasional (DKN). Tidak hanya itu, dirinya masuk dalam LSM lain yang kegiatannya adalah menyosialisasikan ilmu yang telah diterapkan secara langsung di desanya dan di daerah lain atau kabupaten lain. Tentang kegiatan DKN, Bu Rubikem mengaku ikut dalam kegiatan pencatatan sampel data, diskusi perencanaan perdagangan karbon, serta perhitungan analisis karbon.

 

Perdagangan karbon atau carbon trading yang pasti bukan jual arang maupun jual-beli arang aktif, akan tetapi pembayaran kompensasi diambilkan dari pembayaran negara-negara maju tersebut atas kerusakan lingkungan yang dibuat.

 

Kompensasi ini dikenal dengan perdagangan karbon, yaitu negara maju yang telah banyak mengeluarkan emisi karbon, yang menjadi gas rumah kaca di atmosfer, harus membayar ke negara-negara dunia ke tiga, terutama negara sedang berkembang seperti Indonesia. Negara berkembang ini diharuskan memertahankan atau melestarikan hutan dan ekosistemnya.

 

Penghargaan Adalah Suatu Tantangan

Berkat padatnya kegiatan, Bu Rubikem bersama kelompok PKSM-nya pun semakin dikenal kalangan masyarakat luas, termasuk berbagai instansi terkait. Mereka kerap mendapat kunjungan dari berbagai pihak untuk melakukan pembelajaran. Sudah banyak pula penghargaan yang diterima Bu Rubikem bersama kelompok PKSM-nya, mulai tingkat lokal (kabupaten) hingga puncaknya meraih juara pertama Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Nasional Tahun 2012 katagori Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM).

 

“Prestasi ini merupakan hasil kerja keras semua pihak, terutama dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul, Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3),” kata Bu Rubikem, yang menerima penghargaan itu secara langsung dari Menteri Kehutanan kala itu, Zulkifli Hasan, di Jakarta.

 

Ditambahkan Bu Rubikem, pihaknya pun sangat mengapresiasi terhadap pemerintah, terutama Kementerian Kehutanan Republik Indonesia telah memberi penghargaan.

 

“Menurut saya, penghargaan itu bukan semata-mata sebuah hadiah, tetapi suatu tantangan. Bila saja setelah mendapat penghargaan seperti ini malahan tidak beraktivitas, dan tidak melakukan sesuatu, tentunya penghargaan itu akan hilang secara perlahan. Makanya saya katakan penghargaan itu adalah sebuah tantangan, sebagai cambuk dan tanggung jawab untuk berbuat lebih baik di masa mendatang,” tuturnya.

 

Semua prestasi yang diraih Bu Rubikem merupakan komitmennya membangun kesadaran para ibu rumah tangga agar selalu perduli terhadap lingkungan. Khususnya dalam upayanya menjaga kelestarian hutan sebagai investasi masa depan. Tidak tanggung-tanggung dari 1.500 ibu rumah tangga di Desa Terong, lebih dari 60 persen menjadi binaannya.

 

"Mereka tidak sekadar kumpul dan ngerumpi lagi, tetapi sudah dibekali pengetahuan bagaimana pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai solusi mendongkrak kesejahteraan. Sekarang kesadaran itu sudah terpatri di masyarakat, mereka sadar pentingnya pohon di sekitar tempat tinggal, yang juga bisa menambah penghasilan keluarga," ujar wanita yang ramah senyum ini.

 

Bu Rubikem senantiasa berharap lingkungan sekitarnya akan selalu lestari. Untuk itu, masyarakat harus semakin perduli untuk menjaga kelestarian lingkungannya. Dengan masyarakat mengelola hutan rakyat, selain udara menjadi sejuk, masyarakatnya pun bisa lebih sejahtera.

 

“Dengan mengelola hutan rakyat, kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Dengan kesejahteraan masyarakat yang meningkat, mereka akan bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dengan kualitas sumber daya yang meningkat, dimungkinkan desa kita ini akan lebih cepat maju. Selain derajat keluarga terangkat, nama daerah pun akan turut terangkat,” kata Bu Rubikem penuh harap.

 

Kepedulian Bu Rubikem terhadap penghijauan dan pelestarian alam atau lingkungan, sungguh luar biasa. Hingga kini, sudah hampir 19 tahun sejak dia kembali menginjakkan kaki di desanya untuk mulai berkiprah, dia telah menjadi motor penggerak warga desanya. Kini, dia terkenal bukan saja di sekitar Desa Terong, tetapi juga di desa-desa sekitarnya yang masih di Kecamatan Dlingo, Bantul, lantaran mampu memberikan motivasi kepada kelompok tani wanita, termasuk tani pria. Berawal dari kiprahnya memberi “terang” di Desa Terong dengan mengawali membuat contoh penanaman di pekarangan rumahnya, dilanjutkan dengan melakukan penyuluhan berbekal ilmu yang didapatnya dari berbagai pelatihan, kini “terang” itu semakin dirasakan masyarakat yang lebih luas. Dengan pengelolaan hutan rakyat bersama masyarakat, masyarakat pun menjadi lebih tersejahterakan. Bu Rubikem adalah pembawa “terang” dari Desa Terong untuk masyarakat sekitarnya.* harie - kisuta.com


TAG TERKAIT