Rabu, 17 Juli 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Bumi Papua Terasa Berputar Lebih Cepat di Ob Anggen
Kamis, 24 Januari 2019[261]
Bumi Papua Terasa Berputar Lebih Cepat di Ob Anggen
HARIYAWAN/KISUTA.com

KISUTA.com - Mama Akeles selalu bangun pagi-pagi sekali. Batang-batang kayu kering dinyalakannya dengan api. Setelah timbul bara, beberapa potong ubi pun dipendamkannya ke dalam bara itu. Begitu ubi dirasa matang, Mama Akeles membangunkan suaminya, serta Akeles kecil.

 

Berbekal ubi bakaran Mama Akeles yang dibungkus daun pisang, Bapak Akeles dan Akeles kecil pun turun ke luar rumah. Perjalanan jauh nan dingin dimulai; naik turun bukit dan menerabas lebatnya pepohonan lebat, mereka lakoni setiap hari. Ditingkahi obrolan kecil antara bapak dan anak, perjalanan kurang-lebih 3 jam menjadi tidak terasa. Pukul 8 pagi mereka tiba di tempat tujuan; Ob Anggen. Itulah sekolah di Distrik Bokondini, Kabupaten Tolikara, Papua, yang selama ini menjadi tempat belajar Akeles.

 

Tidak seperti Akeles dan bapaknya yang harus menempuh waktu 3 jam, Alfrida (10 tahun) “hanya” membutuhkan waktu 1 jam berjalan kaki untuk sampai di Ob Anggen. Sebenarnya siswa kelas 3 ini pernah bersekolah (di sekolah Inpres, Pen.). Tetapi seperti banyak terjadi di sekolah Pegunungan Tengah Papua, para guru sangat jarang hadir. Jadi, tidak ada yang mengajar.

 

“Kita tidak bisa membaca, karena waktu itu sekolah setiap harinya hanya bermain-main. Kita pulang ketika sudah merasa kelelahan. Begitu setiap harinya, sampai saya pindah ke sini (Ob Anggen, Pen.),” cerita Alfrida, saat penulis temui di jam istirahat belajarnya.

 

Bila Akelas hari itu berbekal ubi bakar, anak lainnya yang bernama Sarah terlihat membawa sepotong besar buah nangka. Siswi kelas 4 itu tertawa lepas saat teman-temannya berebutan meminta nangka bawaanya. Tidak sedikit pun tersirat duka di wajah kekanak-kanakannya, padahal sejak bayi dia telah ditinggal mati bapaknya yang menjadi korban perang antarsuku. Ibunya pun menikah lagi dan kini tinggal entah di mana. Sejak bayi, neneknyalah yang merawatnya.

 

“Saya sudah bisa membaca dan menulis. Saya jadi punya banyak teman,” kata Sarah, yang melalui internet punya banyak sahabat di luar negeri.

 

Lain lagi cerita Daniel (11 tahun). Pada bagian belakang kedua lutut kaki anak kelas 4 ini masih membekas luka bakar parah. Daniel adalah salah satu korban ekses politik. Di Papua khususnya, bukan rahasia lagi bila partai politik pemenang pilkada akan “menghabisi” lawannya. Kantor parpol lawan dibakar, tidak terkecuali rumah-rumah para simpatisannya diluluhlantakkan. Demikian juga ketika partai yang didukung keluarga Daniel kalah, rumah keluarganya dibakar ludes pihak lawan.

 

“Saat itu jam 7 malam, saya belum lama tidur. Saya tiba-tiba terbangun ketika mendengar teriakan orang-orang dan kaki saya terasa begitu sangat panas. Rupanya rumah kami dibakar orang. Beruntung saya masih bisa hidup,” kata Daniel, seraya menunjukkan luka bakar di kakinya.

 

Buah yang Baik

Berbagai latar belakang anak-anak keluarga Papua, yang kini bersekolah di Ob Anggen, tidak jauh berbeda seperti 17 tahun lalu ketika untuk pertama kali Benjamin Wesley Scotty menginjakan kakinya di tanah Papua.

 

Saat itu pendidikan di Papua pada umumnya; di setiap sekolah guru tidak mengajar setiap hari; sistem pengawasan dari dinas terkait tidak ada; rekayasa data siswa dan sekolah sekadar untuk meraup dana otsus (otonomi khusus, Pen.); ijazah menjadi lebih penting daripada kualitas pendidikan, sehingga terjadi jual-beli ijazah; keluarga belum memberikan dukungan penuh kepada anak, pendidikan diserahkan sepenuhnya ke sekolah yang tidak ada guru.

 

Semua itu, terjadi sebagai hasil dari proses panjang histori dan budaya Papua. Scotty sadar, mengubah keadaan seperti itu secara frontal dan cepat adalah mustahil. Sesuai agama yang dianutnya, lelaki kelahiran Amerika ini pun meniatkan diri untuk mengubah generasi, bukan hanya untuk Papua, tetapi untuk Indonesia dan segala bangsa ke mana Tuhan akan mengirim mereka. Scotty meniatkan diri untuk melahirkan anak-anak harapan Papua!

 

Scotty berprinsip; kita harus mengasihi tetangga, seperti layaknya mengasihi diri sendiri.

 

“Saya menginginkan pendidikan yang berkualitas untuk anak-anak saya, juga untuk tetangga saya. Saya mengasihi mereka seperti saya mengasih anak sendiri. Untuk itu, saya niatkan mendirikan sekolah berkualitas untuk anak-anak saya dan tetangga saya,” cerita Scotty.

 

Pada 2007, berbekal pendidikan S2 di bidang pengembangan masyarakat, Sekolah Ob Anggen pun didirikan. Dalam bahasa Suku Dani, Ob artinya baik atau bagus, dan Anggen artinya buah. Jadi Op Anggen artinya buah yang baik atau buah yang bagus. Secara filosofis, dari makna Ob Anggen itu, lewat sekolah yang dibinanya Scotty ingin memetik buah yang baik/bagus; ingin melahirkan generasi yang berkualitas.

 

Untuk menghasilkan buah yang bagus, tentunya harus ditanam dan dipelihara pohon yang bagus pula.

 

“Di Ob Anggen kita kembangkan masyarakat lewat pendidikan. Lewat pendidikan anak-anak, kita ubah pola pikir masyarakat menjadi lebih baik,” tuturnya.

 

Bagaimana caranya? Menurut pria ramah berkepala plontos ini, keluarga adalah fondasi atau dasar untuk masyarakat. Oleh karena itu, lewat sekolah keluarga-keluarga bisa diperkuat. Untuk itulah, siapa pun anak yang hendak bersekolah di Ob Anggen, sejak awal dipersyaratkan harus ada keterlibatan orangtua/keluarga.

 

Scotty mengaku pihaknya secara sangat terpaksa sering menolak siswa yang mau bersekolah di Ob Anggen. Alasannya, orangtua mereka tidak mau terlibat. Ada orangtua yang jadi pejabat di distrik, tetapi seolah-olah menjadikan sekolah tempat penitipan anak, tidak pernah mau hadir saat pertemuan orangtua. Ada pula beberapa orangtua yang banyak menghabiskan waktunya berminggu-minggu di ladang dan mengurus babi, tidak mau meluangkan waktu untuk membimbing anaknya saat di rumah, apalagi untuk menghadiri pertemuan bulanan.

 

“Setelah berjalan sekian lama, tetapi tidak ada keterlibatan keluarga, kami pun kembalikan si anak ke keluarganya. Memang terdengarnya kejam. Tetapi untuk melakukan perubahan, menciptakan keluarga dan masyarakat yang lebih baik lewat pendidikan, harus punya komitmen tegas,” tutur Scotty, yang kini menjadi Direktur Ob Anggen, dengan kurang-lebih 50 staf yang membantunya.

 

Ob Anggen secara tegas menerapkan nilai-nilai untuk memperkuat keluarga. Untuk keberhasilan anak, anak harus mendapatkan dukungan penuh dari keluarga mereka (terutama Bapak dan Mama) dan siswa pada usia sekolah dasar diharuskan hidup bersama dengan orangtua mereka. Orangtua --meskipun tidak bisa membaca atau menulis-- harus membantu anak-anak mereka mengerjakan pekerjaan rumah tentang cerita kontekstual yang telah disusun guru, sehingga secara tidak langsung orangtua turut belajar. Setiap bulan orangtua harus menghadiri pertemuan “kerja sama bersama” orangtua untuk membuat strategi bersama-sama bagaimana pendidikan yang baik untuk anak, bagamana tidak memisahkan anak dari keluarga.

 

Di Ob Anggen pun ada program Ladies Meeting. Ini adalah pertemuan khusus ibu dan anak perempuan mereka yang bersekolah di Ob Anggen. Pertemuan ini membahas bagaimana seorang anak perempuan bertumbuh menjadi gadis remaja. Topik yang dibahas meliputi pertumbuhan secara fisik dan psikologis. Tujuannya, untuk mempersiapkan perempuan agar bisa menjaga diri dari perkembangan situasi saat ini.

 

Dengan penerapan nilai-nilai itu, Ob Anggen menjadi pusat kedamaian dan tranformasi dalam komunitas, karena orangtua menjaga masa depan anak-anak mereka.

 

Beruntung, sewaktu berkunjung ke Ob Anggen, saya sempat mengikuti pertemuan “kerja sama bersama” orangtua dan guru. Dari raut wajah dan ucapan para orangtua yang hadir, antara lain ada Mama Elsa, Bapak Akeles, Mama Alfrida, Nenek Sarah, Mama Daniel, serta ayah Azhar dan Azmar yang beragama Islam (berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara), terlihat harapan begitu besar tercurah pada pendidikan anak-anak mereka. Anak-anak yang akan mengubah keluarga dan masyarakat Papua khususnya untuk menjadi lebih baik.

 

Itulah cerita sebuah sekolah kecil di kampung kecil, jauh di pedalaman Pegunungan Tengah Papua. Dari cerita ini kita tersadarkan bahwa di antara kita pasti banyak yang lebih pintar, lebih hebat, atau lebih kaya. Tetapi alam lebih perlu orang yang rendah hati dan berkomitmen, sehingga bumi Papua terasa berputar lebih cepat di sini; di Ob Anggen.* harie- kisuta.com


TAG TERKAIT