Senin, 18 Februari 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Situs Batu Kuda
Hutan Pinus Buruan Anak Kampus
Minggu, 3 Februari 2019[132]
Hutan Pinus Buruan Anak Kampus
IST.

KISUTA.com – Letaknya yang tidak jauh dari areal kampus, antara lain Unpad (Jatinangor), Ikopin, dan IPDN, menjadikan objek wisata yang terletak di lereng Gunung Manglayang, tepatnya di Kampung Cikoneng, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, ini menjadi buruan anak-anak kampus yang tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapainya sekadar menikmati udara segar, bahkan berkemah.

 

Ternyata wisatawan dari luar daerah, seperti Jakarta dan Jawa Tengah, pun semakin banyak mengunjungi objek wisata ini, mengingat jaraknya hanya 5 kilometer dari Tol Cileunyi.

 

Ya, itulah objek wisata Situs Batu Kuda. Tentunya, tidak hanya karena jaraknya yang dekat, tempat ini terutama jadi buruan anak-anak kampus. Banyak fasilitas dan kelebihan lain, sehingga tempat ini layak menjadi destinasi wisata.

 

Situs Batu Kuda menyimpan banyak potensi wisata alam yang menakjubkan. Di antaranya, banyak batuan unik seperti batu tumpeng, batu kursi, batu peti, batu keraton, dan batu kasur.

 

Pengunjung juga bisa menikmati keindahan pemandangan tiga kabupaten dari ketinggian, yakni Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, dan Bandung Timur. Sunset dan sunrise pun sering jadi buruan.

 

Daya tarik Situs Batu Kuda sudah terlihat setelah masuk ke dalam, melewati gerbang Batu Kuda. Setelah masuk, akan terlihat hamparan hutan pinus yang lebat menyambut kedatangan kita. Setelah sampai hutan pinus, cobalah beristirahat sebentar di tengah-tengah area pohon pinus yang sangat indah ini. Resapi kesunyian dan aroma alam yang ada sambil mensyukuri nikmat keindahan alam yang ada di sini.

 

Di tempat wisata ini, juga tersedia banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Mulai dari kegiatan kemping, treking, hingga bersepeda.

 

Meskipun tempat ini adalah wisata alam, namun sebagian besar fasilitas penunjang sudah cukup lengkap. Di sini sudah ada pendukung umum tempat wisata, seperti warung-warung pedagang makanan, lapangan parkir, toilet, mushola, dan lain-lain.

Kita tidak perlu khawatir dengan urusan makan dan minum, karena di sini terdapat warung-warung makan yang menyediakan aneka hidangan lokal. Mie rebus, kopi, teh, dan gorengan hangat selalu tersedia di sini dengan harga sangat terjangkau untuk isi dompet sekelas pelajar/mahasiswa dan masyarakat umum lainnya.

 

Bagi kita yang tidak akan melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Manglayang, bisa menikmati suasana pegunungan di kawasan Batu Kuda. Mungkin sekadar piknik kecil bersama keluarga, berkemah dengan suasana alam masih asri, atau bahkan bisa menunggangi kuda karena di kawasan ini tersedia kuda yang bisa disewa untuk ditunggangi.

 

Dengan pesona alamnya yang masih alami dan udaranya sejuk, menjadikan banyak wisatawan yang ingin tinggal lama di sini untuk berkemping dengan tujuan untuk menikmati suasana malam.

 

Bagi wisatawan yang hendak berkemping tetapi tidak membawa tenda dari rumah, di sana tersedia tempat penyewaan tenda.

 

Untuk kenyamanan pengunjung, di dalam kawasan wisata ini pun sudah tersedia mandi cuci kakus (MCK) di beberapa lokasi yang mudah terjangkau.

 

Menurut pengelola, ada rencana untuk menambah kenyamanan berwisata di Batu Kuda. Seperti, pemasangan paving block di area parkir dan jogging track menuju situs Batu Kuda. Akan dibangun pula sejumlah shelter di beberapa titik yang potensial. Salah satunya dipasang di dekat situs Batu Kuda, sehingga pengunjung yang datang bisa berteduh jika hujan atau panas.

 

Jika sebelumnya akses jalan menuju lokasi sangat terjal dan licin dengan batuan besar sebagai landasannya, kini pengunjung tidak perlu khawatir lagi, karena kini akses jalan sepanjang 180 meter menuju loket masuk sudah dihotmik, sehingga pengunjung bisa memacu kendaraannya dengan mulus.

 

Selain akses jalan, satu lagi yang membuat daya tarik pengunjung baru-baru ini adalah sign board Batu Kuda. Spot ini jadi favorit pengunjung untuk mengabadikan momen lewat jepretan kamera.

 

Sejarah dan Mitos

Sebelum dikenal sebagai Batu Kuda, sebenarnya kawasan ini hanyalah salah satu tempat untuk mencari kayu bakar penduduk sekitar. Nama Batu Kuda diambil dari mitos atau legenda sesepuh atau leluhur penduduk setempat, yang menyebutkan Gunung Manglayang ini merupakan salah satu tempat yang dijadikan sebagai tempat pertapaan seorang raja yang dikenal sebagai Prabu Eyang Kusumah.

 

Beliau bersama istrinya, Eyang Layang Sari, suatu waktu berkelana untuk mencari tempat peristirahatan, hingga mencapai puncak gunung. Setelah keduanya mendapatkan tempat yang cocok untuk dijadikan sebagai tempat peristirahatan, akhirnya mereka melanjutkan pertapaannya hingga mereka tilem.

 

Sebelum Prabu Eyang Kusumah tilem, Beliau mengubah kuda yang ditungganginya yang ia beri nama Kuda Semprani menjadi batu dengan posisi telungkup atau dalam bahasa Sundanya, depa. Maka dari itu, jika melihat sepintas, kita tidak akan melihat bentuk kuda dari batu tersebut, karena memang batu tersebut bukanlah batu yang menyerupai kuda, melainkan moncong kuda.

 

Cerita versi lain, kuda milik Prabu Layang Kusuma dan istrinya Prabu Layang Sari yang sedang melintasi Gunung Manglayang, saat dalam perjalanannya dari Cirebon menuju Banten, kuda yang ditunggangi tiba-tiba terjatuh dan terperosok ke dalam lumpur tidak jauh dari titik sanghiyang (artinya kaki gunung). Kuda itu terjebak dalam waktu cukup lama, sehingga membuat tempatnya terperosok berubah menjadi kubangan. Lambat laun, kuda itu berubah menjadi batu.

 

Percaya atau tidak mengenai mitos itu, sekarang kuda yang dimaksud itu adalah wujud batu besar yang ada di Situs Batu Kuda Manglayang. Memang dari bentuk batu yang ada, mirip dengan ketika si kuda mencoba meloloskan diri kubangan. Namun tenaga si kuda terlanjur habis karena kelelahan. Hingga akhirnya si penunggang kuda menyerah, lalu duduk di sebuah kursi yang berada tidak jauh dari kubangan kuda. Tempat sang penunggang duduk sekarang dikenal sebagai Batu Kursi. Sedangkan kubangan tempat si kuda Semprani terjerembab, sekarang dikenal sebagai Batu Kuda. Letak Batu Kuda itu dipercaya berada hanya 700 meter dari pintu gerbang,

 

Sayangnya, menurut keyakinan warga sekitar, hanya orang tertentu yang bisa melihat penampakan batu kuda tersebut. Di kawasan yang sama, terdapat juga batu karaton yang jaraknya 2,5 km dari gerbang masuk. Dua kilometer dari pintu gerbang, terdapat batu tumpeng.

 

Situs Batu Kuda memang agak mistis, bahkan ada aturan yang berlaku, setiap hari Senin dan Kamis para pendaki atau siapa pun dilarang memasuki area Gunung Manglayang. Menurut kepercayaan setempat, itu adalah hari berkumpulnya para leluhur dan ruh halus. Pada hari lainnya pun jika mendaki tidak diperkenankan dalam jumlah yang ganjil. Baraya Kisuta yang berkunjung ke Situs Batu Kuda sebaiknya juga ikut memperhatikan peraturan setempat seperti ini.

 

Harga Tiket dan Rute ke Lokasi

Tiket masuk wisata Situs Batu Kuda yang menawarkan keindahan alam memesona ini, hanya Rp7.500/seorang untuk hari biasa. Sedangkan, weekend harga tiket Rp10.000/seorang.

 

Untuk tarif parkir kendaraan, roda dua Rp2.000/motor dan kendaraan roda empat Rp.5000/mobil.

 

Sebenarnya kawasan tersebut merupakan kawasan alam yang bebas, maka tidak ada patokan jam buka dan jam tutup. Namun jika kita tidak akan berkemah di kawasan tersebut, sebaiknya pulang sebelum jam maghrib, mengingat kondisi jalan yang masih kurang penerangan.

 

Wisata Situs Batu Kuda meski berada di lereng Gunung Manglayang, lokasinya tetap mudah dijangkau, terutama dengan kendaraan pribadi. Dari Kota Bandung menempuh jarak sekitar 20 km, dari Kecamatan Ujung Berung sekitar 9 km, Kecamatan Cicadas dan Cicalengka sekitar 13 km.

 

Letak objek wisata alam populer di kawasan Bandung Timur ini tidak jauh dari Jalan Raya Cibiru. Akses termudah bisa melalui Jalan Cibiru. Dari bunderan Cibiru-Jalan Soekarno-Hatta belok kanan ke arah Jatinangor. Tidak jauh dari situ, belok kiri ke Jalan Sadang dengan menempuh sekira 30 menit. Rute lain bisa melalui jalan SMPN 1 Cileunyi yang memiliki kondisi jalan lebih bagus.

 

Sepanjang perjalanan mungkin jalannya agak sempit, tapi diimbangi dengan pemandangan indah dan hawa dingin Kota Bandung yang membuat siapa pun suka. Kalau merasa bingung, jangan malu untuk bertanya pada penduduk sekitar. Jadi, tunggu apalagi?* harie – kisuta.com


TAG TERKAIT