Kamis, 23 Mei 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Burayot
Cemilan Garut Kesukaan Menak Belanda
Kamis, 28 Februari 2019[313]
Cemilan Garut Kesukaan Menak Belanda
IST.

KISUTA.com – Garut, lama terkenal dengan cemilan dodol. Namun kini, cemilan tradisional khas Garut yang lain, makin menyeruak namanya. Itulah burayot. Namanya memang tidak sepopuler dodol yang mendunia dan menjadi julukan Kota Garut. Namun, penganan khas zaman dahulu (jadul) yang terbuat dari tepung beras dan gula aren ini justru sudah dinikmati jauh sebelum dodol ada di Garut.

Konon, burayot adalah penganan kesukaan menak atau bangsawan Belanda. Meskipun terbilang jadul, khususnya oleh masyarakat Leles, makanan itu kini hidup kembali untuk dinikmati masyarakat luas.

Bagi baraya Ki Suta yang berencana melancong ke Garut, makanan khas dari Kecamatan Leles, Kadungora, Wanaraja, ini salah satunya bisa dinikmati di Saung Burayot, di Jalan Baru Cipanas. Terutama, saat pagi hari.

Berada di samping kanan jalan, sebelum menuju pusat wisata air hangat Cipanas, Garut, kita bisa memesan, menikmati, atau sekadar mencicipi makanan khas burayot ini.

"Paling pas pasangannya disajikan dengan teh tawar hangat. Pasti mantap!" ujar Hali Wardana, sang pemilik saung menjelaskan.

Pembuatannya Butuh Ketelitian

Burayot yang dalam bahasa Indonesia berarti “menggelantung”, memang terbilang makanan unik buat warga Garut. Meskipun demikian, bukannya lebih mudah didapat, penganan ini justru terancam punah karena proses pembuatanya yang membutuhkan ketelitian.

Rika, sang istri pemilik saung, dengan senang hati berbagi resep pembuatan burayot ini. Proses penggorengan yang tepat, dengan memperhatikan suhu minyak yang seimbang. Ini membutuhkan keterampilan. Terlambat sedikit, bahan adonan yang telah disediakan terancam gagal total; bisa bulatannya tidak sempurna, pecah, bahkan tidak mengembang.

Diakui Rika, bahan baku dalam burayot tidak ada yang aneh. Hanya tepung beras dan gula aren. Namun, yang membedakannya terletak pada proses penggorengan berlangsung.

"Kita harus pas waktunya saat pengangkatan di wajan penggorengan itu," katanya.

Setelah adonan tepung beras dan gula aren tercampur sempurna, bahan adonan kemudian diubah menjadi bola-bola kecil. Selanjutnya dipipihkan hingga rata sempurna, sebelum dilakukan penggorengan di atas wajan dengan titik didih minyak yang memadai.

Saat pertama kali digoreng, terlihat bahan adonan pipih tersebut langsung menggelembung dan persekian detik kemudian harus segera diangkat untuk selanjutnya ditiriskan agar mendapatkan bentuk ideal.

"Paling dalam satu bungkus berisi 20 butir, hanya lima menit penggorengan," tuturnya.

Saung Burayot di Jalan Cipanas Baru, Garut, kini siap melayani permintaan konsumen hingga 18 varian rasa yang siap memanjakan lidah.

Beberapa rasa yang siap disajikan, antara lain burayot isi keju, pisang, stroberi, oreo, caramel, kelapa, cokelat, kacang tanah, kacang mede, wijen, dan coklat isi keju.

Menjelang Lebaran biasanya burayot diproduksi di tiap rumah untuk dikonsumsi sendiri atau diproduksi khusus untuk dijual dengan jumlah produksi yang cukup besar untuk memenuhi pesanan menjelang Lebaran.

Burayot memang lebih enak disantap dadakan dibanding dengan burayot yang telah dikemas dan dijual di toko-toko, yang mungkin rasanya agak cukup berbeda, karena kue tersebut disimpan terlebih dahulu.

Oleh sebab itu, sempatkanlah menikmati burayot hangat-hangat, sesaat diangkat dari penggorengan. Ditemani seruputan teh tawar hangat…, beuh nikmat!* harie –kisuta.com

 


TAG TERKAIT