Senin, 21 Oktober 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerdasArtikel Opini
Semangat pagi...
Mesti “Tampil Beda”
Rabu, 7 Agustus 2019[102]
Oleh: HD Sutarjan

KISUTA.com - Haji –dalam pemahaman Ali Syariati, cendekiawan muslim Iran yang banyak menulis buku-buku tentang Islam– merupakan kepulangan manusia kepada Allah SWT yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak diserupai oleh sesuatu apapun.Kepulangan kepada Allah merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai dan fakta-fakta.

 

Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini, tujuan manusia bukanlah untuk binasa, tetapi untuk ‘berkembang’. Tujuan ini bukan untuk Allah, tetapi justru untuk manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya. Makna-makna tersebut dipraktekkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, dalam bentuk nyata atau simbolik dan kesemuanya pada akhirnya mengantarkan seorang haji hidup dengan pengalaman dan pengamalan kemanusiaan universal.

 

Semisal, dalam konteks niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram, haji memiliki makna yang lebih universal dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pakaian ikhram melambangkan pola, preferensi, status dan perbedaan-perbedaan tertentu, sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya. Pembedaan tersebut dapat mengantar kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis pada pemakainya.

 

Di Miqat Makany di tempat di mana ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan, hingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan.

 

Di Miqat dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh manusia ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini. Ia akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Allah SWT.

 

Begitu juga dengan ritual lainnya. Semua ritual tertentu di tempat tertentu dalam berhaji itu merupakan simbolik-simbolik yang sarat makna. Tawaf di Ka’bah, sa’i antara bukit Shafa dan Marwa, atau tahalul di Mekah, mabit di Mina dan Muzdalifah, wukuf di Arafah, ataupun jumrah di Mina, mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan.

 

Sesungguhnya haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagi manusia. Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang ‘tampil beda’ (lebih lurus hidupnya) dibanding sebelumnya. Dan ini adalah kemestian.***


TAG TERKAIT