Rabu, 21 Agustus 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Arafah
Padang Rahmat Tempat “Pelantikan” Haji
Minggu, 11 Agustus 2019[111]
Padang Rahmat Tempat “Pelantikan” Haji
IST.

KISUTA.com - Arafah atau Arafat adalah nama sebuah padang pasir yang tandus dan mengerikan, dikelilingi oleh bukit batu tanpa air dan tanpa kehidupan. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah kekeringan dan kengerian yang tak berujung. Tidak heran bila padang tandus ini bukan merupakan jalan yang umum dilalui oleh kafilah, karena tidak ada satu pun wadi (tempat berair) di sana.

 

Dahulu, Padang Arafah sering digunakan sebagai tempat pembuangan para pejuang Islam oleh kaum Jahiliah yang selalu mengejar, menangkapi, dan bahkan menyiksa mereka. Pada umumnya, mereka yang dibuang dan diasingkan ke tempat itu jarang yang dapat kembali hidup-hidup, karena di Padang Arafah memang tidak ada kehidupan.

 

Meskipun demikian, oleh para pejuang Islam yang gigih, Padang Arafah justru sering juga digunakan sebagai tempat untuk bersembunyi dari kejaran para Jahiliah serta musuh-musuh Islam saat itu. Karena oleh pihak musuh, mereka yang memasuki daerah tersebut dianggap sama saja dengan bunuh diri secara suka rela.

 

Padang Arafah terletak di sebelah timur kota Mekah, berjarak hanya 25 km. Betapapun, Padang Arafah tetap merupakan tempat yang setahun sekali dituju dan didatangi oleh umat Islam yang akan melaksanakan salah satu syariat di dalam ibadah haji, yaitu wukuf. Selama 1-2 hari setiap tahun, berjuta-juta umat Islam mendatangi tempat ini untuk wukuf yang menjadi salah satu rukun ibadah haji, yaitu pada 9-10 Zulhijah.

 

Sebelum 1970-an, bangunan tenda yang dipergunakan oleh para jamaah untuk berteduh ketika wukuf terdapat di tengah lapangan gurun pasir yang kering, langsung di bawah naungan langit, sehingga sangat terasa betapa panas dan gerah berada di dalam tenda. Panas yang datang dari pancaran sinar matahari serta dari pasir gurun, terasa sangat menyengat dan menyakitkan. Hanya di malam hari, ketika matahari tenggelam dan angin bertiup semilir, rasa panas berkurang.

 

Berada pada ketinggian 750 kaki di atas permukaan laut, Arafah adalah suatu padang pasir yang gersang tanpa tumbuhan selama berabad-abad. Di tengah-tengah padang pasir itu terlihat bukit-bukit kecil yang dinamakan “Jabal Rahmah”. Di sini, menurut riwayat, Adam dan Hawa bertemu kembali setelah terpisah jauh sejak mereka berdua terusir dari surga.

 

Sekarang, Padang Arafah sudah berubah wajah. Kekeringan dan kengerian yang diakibatkan oleh gurun tandus dan gersang tanpa air mulai sirna, digantikan oleh kehijauan yang disebabkan oleh pohon pelindung dan pohon hias, terutama pohon nimba yang konon didatangkan khusus dari Indonesia.

 

Dari puncak Jabal Ramah, sejauh-jauh mata memandang, yang tampak sekarang adalah hamparan hijau yang penuh kesegaran dan kehidupan. Siapa pun tidak akan percaya bahwa kawasan ini, dahulunya selama ribuan tahun, merupakan padang tandus yang sangat mengerikan.

 

                                                                      **

PADANG Arafah terletak di sebelah timur kota Mekah, berjarak hanya 25 kilometer. Keberadaannya sangat penting bagi jamaah haji karena merupakan tempat pelaksanaan wukuf, salah satu rukun haji yang tidak bisa “tergantikan”. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW, “al-Hajju ‘Arafat” (Haji adalah Arafah, maksudnya wukuf di Arafah).

 

Wukuf menamsilkan saat manusia berada di hari penantian (Padang Masyhar) dalam formasi antre, menanti giliran untuk dihisab (ditimbang-timbang amal baik dan buruknya). Wukuf adalah rukun haji yang harus dilakukan oleh jamaah haji, jika tidak, ibadah hajinya dianggap tidak sah.

 

Karena itu, Padang Arafah sangat penting keberadaannya bagi jamaah haji. Semua jamaah haji, secara bersama-sama pada waktu yang sama yaitu pada 9 Zulhijah tumplek di Arafah melakukan wukuf. Lebih tiga juta jamaah datang dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai warna kulit, bahasa, ras dan usia serta bentuk dan kondisi masing-masing.

 

Di Padang Arafah, jamaah berpadu sebagai satu komunitas yang tidak mengenal batas-batas. Pangkat dan kedudukan serta pengaruh tidak ditonjolkan di sini. Kaum bangsawan maupun orang biasa dipandang sederajat. Semuanya terbungkus dalam pakaian ihram berwarna putih. Mereka berbeda, tapi satu dalam keyakinan Islam.

 

Meski Arafah hanya merupakan tempat “berdiam” sesaat, hanya didatangi sehari dalam setahun, namun pemerintah Arab Saudi tetap membangunan fasilitas yang cukup memadai. Padang yang gersang terus diupayakan semakin hijau. Tersedia bangunan toilet permanen yang tersebar di seluruh penjuru Arafah. Untuk menjaga dari cuaca panas, dibangun ribuan pipa air, baik yang digunakan untuk menyirami pepohonan maupun sebagai hujan buatan.

 

Untuk kenyamanan berwukuf didirikan tenda-tenda yang mampu menampung tiga juta lebih jamaah. Pendirian tenda itu biasanya dilaksanakan seminggu menjelang pelaksanaan wukuf, dilakukan siang malam oleh para pekerja musiman yang berasal dari berbagai negara. Beberapa spanduk bertuliskan daerah asal jamaah Indonesia terpasang di beberapa tenda.

 

Pada malam hari, lampu kerkekuatan megaan watt membuat Arafah terang benderang. Satu hal yang perlu diantisipasi jemaah adalah serbuan nyamuk yang banyak terdapat di Arafah.* Abu Ainun - kisuta.com


TAG TERKAIT