Rabu, 21 Agustus 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Mina
Kawasan Lengang Tempat Jutaan Umat “Menginap”
Senin, 12 Agustus 2019[106]
Kawasan Lengang Tempat Jutaan Umat “Menginap”
IST.

KISUTA.com - Mina merupakan kawasan yang lengang tanpa penghuni, senyap menakutkan. Lingkungan alamnya yang hanya berupa bukit-bukit batu kering di tengah padang pasir, kerontang tanpa kehijauan yang menyegarkan. Keberadaan kota tak berpenghuni ini menjadi penting, karena menjadi tempat tujuan wajib jutaan jamaah haji. Di kota yang senyap mengerikan ini, jutaan jamaah tumplek menginap tiga malam untuk melaksanakan wajib haji, yaitu mabit dan melempar jumrah.

 

Dengan luas sekitar 650 hektare, kontur daratan Mina berupa hamparan padang pasir diselang-seling lembah kering dan bukit-bukit berbatu, terletak di antara Kota Suci Mekah dan Muzdalifah. Jarak dari kota Mekah sekitar 20 kilometer. Mina oleh bangsa Arab disebut Muna atau pengharapan, meriwayatkan saat Nabi Adam dibisiki mengenai harapan bertemu dengan Siti Hawa yang berpisah selama 200 tahun setelah keduanya diusir dari Taman Firdaus karena melanggar larangan Allah memakan buah khuldi.

 

Mengingat begitu pentingnya keberadaan kawasan Mina, pemerintah Arab Saudi terus melakukan pembangunan lingkungan untuk meningkatkan sarana dan prasarana ibadah. Bukit-bukit batu diratakan untuk memperluas lahan perkemahan. Kawasan yang satu dengan lainnya disatukan dengan jalan-jalan besar. Bahkan kini, selain ribuan tenda putih, enam menara berlantai 12 yang mampu menampung 20.000 jemaah juga sudah dibangun dan rencananya akan dikembangkan terus dengan memapas bukit-bukit batu di kawasan Mina hingga mampu menampung satu juta jamaah.

 

Kawasan Mina juga dilengkapi tiga rumah sakit yakni Mina Wadi, Mina Al-Jisr dan Mina Jalan Baru. Mina Wadi berkapasitas l94 tempat tidur (25 untuk pasien sengatan panas matahari dan 24 ruang observasi dan dua ruang operasi), Mina Al-Jisr berkapasitas 140 tempat tidur dan 28 ruang rawat intensif sedangkan Mina di Jalan Baru berkapasitas 50 tempat tidur.

 

Delapan rumah jagal yang dibangun oleh Bank Pembangunan Islam dan mampu menampung l,5 juta hewan kurban berada di lembah Muaishim, timur Mina. Sebelumnya hewan-hewan kurban disembelih di dekat jamarat sehingga menyebabkan gangguan kesehatan dan lingkungan. Hewan kurban yang disembelih dikirim ke 25 negara yang memerlukannya.

 

Di Mina terdapat 25 terowongan yang menghubungkan wilayah itu dengan Mekah, termasuk 41 jembatan, jembatan layang (flyover) dan jalan sepanjang 70 km. Bagi jamaah yang ingin berjalan kaki untuk melempar jumrah, disediakan pula 4,5 km ruas jalan selebar 30 meter.

 

Sejumlah lokasi penting berada di Mina seperti jamarat (tempat melontar batu di tiga jumrah), masjid bersejarah Al-Khaif. Di dekat jamarat juga terdapat Masjid Al-Baiat, tempat Nabi Muhammad membaiat kaum Ansor sebagai warga setempat. Konon bangunan masjid itu pernah terpendam di tanah dan baru ditemukan lagi setelah sebuah buldozer terantuk bangunan masjid saat kawasan itu akan ditata kembali.

 

Kawasan Puncak “Krisis” Ibadah Haji

MINA merupakan tempat penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Kawasan bukit batu di padang pasir yang kerontang ini, adalah tempat mabit (bermalam) dan lempar jumrah. Rangkaian wajib haji yang dilakukan serentak di tempat itu oleh jutaan jamaah.

 

Ketika seluruh jamaah tumplek untuk melaksanakan mabit dan jumrah, kawasan kerontang yang biasanya senyap ini berubah hiruk pikuk. Lautan manusia bukan saja tampak di sepanjang jalan menuju ke tempat jumrah atau kembali setelah melempar jumrah, tapi juga di atas dan di bawah jalan bertingkat. Mereka bernaung atau berdiam atau bahkan bermukim untuk sementara, pada hari-hari tasyrik. Juga di bukit-bukit batu yang curam dan terjal, tampak ribuan tenda tempat para jamaah bermalam. Tenda berwarna putih di kawasan Mina ini dari kejauhan tampak bagaikan hamparan jamur.

 

Jamaah dari Indonesia biasanya bermalam di Haratullisan, tenda-tenda yang didirikan di dataran yang relatif rata dan mudah dicapai. Jarak dari tenda-tenda jamaah Indonesia itu hanya berjarak 2-3 km ke Jamarat, tempat pelemparan jumrah, yang harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati terowongan. Tetapi kini para jamaah tak perlu khawatir, sebab lautan manusia yang memenuhi jalan dan dua terowongan hanya ke satu arah, sehingga cukup tertib dan aman.

 

Di Mina, jamaah harus menginap selama 2 malam bagi jamaah yang mengambil nafar awal atau 3 malam bagi jamaah yang mengambil nafar tsani. Kondisi perkemahan di Mina relatif lebih bagus ketimbang di Arafah. Tenda yang didirikan umumnya lebih besar dan permanen menggunakan fiber tahan api. Fasilitasnya juga lebih baik, bahkan sebagian tenda dilengkapi AC, sementara yang lain menggunakan kipas angin. Air untuk keperluan mandi dan toilet tersedia dengan cukup.

 

Perjuangan ibadah paling berat di Mina adalah saat jamaah haji akan meninggalkan Mina pada hari ketiga. Pada hari itu, jamaah haji akan secara beramai-ramai meninggalkan Mina untuk melontar setelah matahari tergelincir yang diyakini paling afdhal. Maka begitu jam menunjukkan pukul 11.00 atau 11.30, jamaah sudah mulai berkerumun di sekitar Jamarat.

 

Saat yang bersamaan itu, lebih satu juta orang yang berkumpul di sekitar Jamarat. Begitu adzan dzuhur berkumandang, maka berebutlah jamaah melontar Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah. Karena seringnya melontar jumrah menimbulkan korban, ibadah ini sering disebut dengan puncak krisis ibadah haji. Oleh karena itu, jika seseorang berhasil lolos dari melontar jumrah, berarti ia telah lolos dari masa krisis itu.* Abu Ainun - kisuta.com


TAG TERKAIT