Sabtu, 14 Desember 2019Tentang Kami|Kontak Kami
CerdasArtikel Opini
Semangat pagi...
Pejabat yang Digugat
Rabu, 27 November 2019[122]

KISUTA.com - Umar bin Khathab mengangkat Sa'id bin Amir al-Jamhi sebagai gubernur Himsh. Suatu kali Umar mengunjungi penduduk Himsh, dia bertanya, "Hai penduduk Himsh, bagaimana pendapatmu tentang gubernurmu?"

Penduduk Himsh mengadu kepada Umar, "Kami mengadukan empat hal. Dia tidak pernah berangkat ke tempat kerja kecuali setelah matahari meninggi."

Umar berkomentar, "Apakah ada yang lebih gawat dari itu?"

Mereka berkata, "Gubernur tidak pernah memenuhi undangan siapa pun pada malam hari."

Umar berkata, "Perbuatan itu merupakan kekeliruan yang besar. Lalu apa lagi?"

Mereka berkata, "Dalam sebulan ada satu hari di mana dia tidak pernah mau menemui kami."

Umar berkata, "Itu merupakan kekeliruan yang besar. Lalu apa lagi?"

Mereka berkata, "Dia suka tampak bersedih selama beberapa hari."

Karena itu, Umar memanggil Sa'id bin Amir al-Jamhi dan rakyatnya ke dalam sebuah persidangan. Umar berkata, "Ya Allah, semoga dugaanku tentang Sa'id bin Amir pada hari ini tidak meleset."

Maka dibuatlah persidangan. Umar bertanya kepada rakyatnya, "Apa yang kalian adukan tentang dia?"

Mereka berkata, "Dia tidak pernah berangkat ke tempat kerja kecuali setelah matahari meninggi."

Umar berkata kepada Sa'id, "Bagaimana komentar tentang pengaduan itu?"

Sa'id menjawab, "Demi Allah, sebenarnya aku enggan berterus terang. Aku tidak punya pembantu, sehingga aku harus membuat roti sendiri. Aku duduk, menguleni tepung dan membuat roti. Lalu aku berwudlu, barulah aku pergi bekerja."

Umar berkata, "Apa lagi yang kalian adukan?"

Mereka berkata, "Dia tidak pernah memenuhi undangan siapa pun pada malam hari."

Umar berkata, "Bagaimana komentar Anda tentang pengaduan itu?"

Sa'id menjawab, "Sungguh aku enggan menceritakannya. Waktu siang hari aku peruntukkan bagi mereka, sedang malam hari aku peruntukkan bagi Allah azza wa jalla."

Umar berkata lagi kepada rakyatnya, "Apa lagi yang kamu adukan?"

Mereka berkata, "Dalam satu bulan ada satu hari di mana dia tidak pernah menemui kami."

Umar berkata, "Bagaimana komentarmu tentang pengaduan itu?"

Sa'id bin Amir menjawab, "Aku tidak memiliki pembantu yang dapat mencuci pakaianku dan aku pun tidak mempunyai pakaian untuk ganti. Maka aku duduk menanti pakaianku kering. Aku merapikannya, barulah menemui mereka ketika sudah petang."

Umar bertanya, "Apa lagi yang kalian adukan?"

Mereka berkata, "Dia tampak bersedih selama beberapa hari."

Umar berkata, "Bagaimana komentarmu tentang pengaduan itu?"

Sa'id menjawab, "Aku menyaksikan penyiksaan terhadap Khubaib al-Anshari di Mekah. Kaum Quraisy mengiris-iris tubuhnya, lalu mengusungnya di atas batang kurma. Mereka bertanya, 'Apakah kamu menginginkan Muhammad menggantikan tempatmu...?'

Khubain al-Anshari berkata, 'Demi Allah. aku tidak ingin --demikian pula anak dan istriku-- Muhammad tertusuk dengan duri sekalipun.' Kemudian Khubaib menatap, 'Aduhai Muhammad...!'

Tidaklah aku teringat akan peristiwa di mana aku tidak dapat menolongnya --dan saat itu aku sebagai orang musyrik yang tidak beriman kepada Allah Yang Maha Agung-- melainkan aku menduga bahwa Allah azza wa jalla tidak akan mengampuni dosaku itu. Karena itu, aku dilanda kesedihan."

Umar berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah membenarkan firasatku tentang kesalehan Sa'id bin Amir al-Jamhi."

Setelah pulang, Umar mengirimkan uang 400 dinar kepada Sa'id bin Amir dengan pesan, "Gunakanlah uang ini untuk kepentinganmu dan untuk dibagikan kepada rakyatmu yang membutuhkan."

Begitu selesai membaca surat, Sa'id dilanda kegundahan yang mendalam sehingga tercermin pada wajah dan perilakunya. Karena itu, istrinya bertanya, "Aku rela berkorban demi kamu. Aku melihatmu demikian gundah. Apakah kamu menerima berita tentang kematian Amirul Mukminin?"

Sa'id menjawab, "Lebih hebat daripada itu."

Istrinya bertanya, "Apakah kamu menerima informasi tentang bencana yang menimpa Kaum Mukminin?"

Sa'id menjawab, "Lebih hebat daripada itu."

Istrinya bertanya, "Berita apakah itu?"

Dia menjawab, "Aku diuji dengan dunia. Dahulu aku pernah bersama Rasulullah Saw, tetapi aku tidak diuji dengan dunia. Aku pun menemani Abu Bakar, tetapi tidak diuji dengan hal itu. Namun, aku diuji dengan dunia tatkala aku bersama Umar. Ketahuilah, riwayat hidupku yang paling buruk adalah di masa Umar."

Istrinya bertanya, "Demi ayah dan ibuku, ujian apakah itu?"

Sa'id menjawab, "Aku mengkhawatirkanmu."

"Aku yang kamu maksud?" tanya istrinya.

Sa'id mengiyakan.

Istrinya berkata, "Aku tidak akan pernah mengganggumu."

Sa'id berkata, "Amirul Mukminin telah mengirimkan uang 400 dinar kepadaku. Dia memerintahkan agar uang itu digunakan untuk kepentingan diriku dan dirimu serta Kaum Muslimin. Bukankah kaum Muhajirin yang miskin masuk surga 40 musim lebih cepat daripada kaum Muhajirin yang kaya? Demi Allah, aku tidak menyukai gelimang nikmat. Aku mau menahan diri dari keuntungan yang didahulukan."

Istrinya berkata, "Jauhkanlah uang itu dan gunakanlah sesuai kehendakmu."

Sa'id bertanya, "Apakah ada kain perca?"

Istrinya memberikan gamis yang sudah berlubang-lubang. Lalu Sa'id menyobeknya hingga menjadi beberapa perca (kain kecil-kecil). Dia menggunakan perca itu untuk membungkus uang dengan jumlah antara 4 hingga 10 dinar. Setelah selesai, bungkusan itu dimasukkan ke dalam keranjang lalu dibawa ke pintu gerbang Madinah.

Mulailah Sa'id memberikan bungkusan demi bungkusan kepada khalayak yang melintas, hingga tinggal satu bungkus. Akhirnya, dia menyerahkan bungkusan terakhir berikut keranjangnya kepada seseorang. Sa'id pun pulang tanpa uang di tangan. Kini barulah dia merasa lega.* Abu Ainun/"Pengalaman Ruhaniyah Kaum Shufi" - kisuta.com


TAG TERKAIT