Selasa, 31 Maret 2020Tentang Kami|Kontak Kami
CermatHerbal & Kesehatan
Nasi Tumpeng, Sajian yang Sarat Nilai Filosofis
Jumat, 28 Februari 2020[174]
Nasi Tumpeng, Sajian yang Sarat Nilai Filosofis
IST.

KISUTA.com - Dalam setiap acara syukuran yang diadakan masyarakat Indonesia, nasi tumpeng seolah-olah sudah menjadi menu wajib. Rasanya kurang afdol jika acara syukuran tanpa disertai nasi yang dibentuk menyerupai kerucut dengan aneka lauk pauknya seperti urap sayur mayur, tahu dan tempe bacem, opor ayam, kering tempe dengan teri, dan pindang telur.

 

Biasanya nasi tumpeng dan teman-temannya itu, disajikan dalam tampah, yaitu nampan bulat besar yang terbuat dari anyaman bambu. Penyajiannya dengan cara meletakkan nasi putih berbentuk gunung di tengah-tengah tampah, dikelilingi lauk pauk.

 

Di masyarakat Jawa, tumpeng merupakan tradisi sajian yang digunakan dalam upacara, baik yang sifatnya kesedihan maupun gembira. Namun, tidak setiap orang mengetahui bahwa di balik kelezatannya, tumpeng mengandung makna filosofis yang sangat dalam.

 

Dalam ritual Jawa ada beberapa jenis tumpeng, antara lain tumpeng Sangga Langit, Arga Dumilah, Megono, dan tumpeng Robyong. Tumpeng Robyong sering dipakai sebagai sarana upacara tasyakuran karena tumpeng ini menyimbolkan keselamatan, kesuburan, dan kesejahteraan.

 

Tumpeng yang menyerupai gunung, menggambarkan kemakmuran sejati. Pada zaman dahulu, tumpeng selalu disajikan dari nasi putih. Saat ini, nasi tumpeng ada yang berwarnai kuning, hijau, bahkan berwarna warni.

 

Nasi putih dan lauk-pauk dalam tumpeng, masing-masing mempunyai arti simbolik. Berikut beberapa akan dijelaskan. Nasi putih yang berbentuk gunungan, melambangkan tangan merapat menyembah kepada Tuhan. Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.

 

Sementara itu, sayuran yang digunakan dalam urab seperti kangkung, bayam, kacang panjang, dan taoge dengan bumbu sambal dari parutan kelapa, mempunyai makna yang dalam. Kangkung berarti jinangkung atau melindungi. Bayam berarti ayem atau tentram, taoge atau kecambah yang berarti tumbuh, kacang panjang berarti memliliki pikiran jauh ke depan. Sedangkan sambal urabnya berarti urip atau hidup atau mampu menghidupi keluarga.

 

Lauk pauk teman tumbeng yang beraneka rasa ini, juga menggambarkan kehidupan manusia yang selalu berganti setiap hari. Kadangkala kehidupan manis dan menyenangkan. Di lain waktu, bisa saja kehidupan terasa kecut karena kesedihan, atau mungkin pedas karena kekecewaan mendalam yang menyebabkan kemarahan. Satu lagi, cabai merah yang diletakkan di atas tumpung, mempunyai simboil api yang memberikan penerangan atau tauladan yang bermanfaat bagi orang lain.

 

Ternyata, bukan sekadar menu wajib yang harus ada di setiap acara syukuran, namun nasi tumpeng sarat dengan ajaran kehidupan.* Ati - kisuta.com