Selasa, 31 Maret 2020Tentang Kami|Kontak Kami
CerahWisata & Sejarah
Pantai Bandealit
Suguhan Damai di Pantai Landai
Kamis, 12 Maret 2020[186]
Suguhan Damai di Pantai Landai
IST.

PANTAI Bandealit yang berada di Kabupaten Jember bagian selatan ini mempunyai pantai yang alami dan bersih. Ombaknya yang tidak terlalu besar dan teratur, cocok untuk bermain bodysurfing.*

KISUTA.com - Kabupaten Jember di Jawa Timur terkenal dengan tape besek. Kuliner yang terbuat dari singkong atau ketela pohon ini, telah menjadi primadona oleh-oleh dari kota ini. Tape besek yang dikemas di dalam besek atau anyaman bambu memang hanya ada di Kota Jember.

 

Soal rasa, tidak usah diragukan, pasti membuat lidah bergoyang. Tape besekan mempunyai cita rasa manis bercampur asam. Apabila tingkat kematangannya pas, tekstur tape akan semakin lunak atau lembek dengan rasa manis yang lebih dominan.

 

Selain tape besek, Jember juga terkenal dengan wisata pantainya, salah satunya Pantai Bandealit yang berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri yang merupakan surganya flora dan fauna langka. Taman hutan tropis dataran rendah ini, memiliki beragam kekayaan hayati dengan keindahan pantai yang tiada tara. Di taman nasional ini ada tempat pelepasan penyu, yaitu di Pantai Teluk Hijau.

 

Selain Pantai Teluk Hijau, Taman Nasional Meru Betiri yang terletak di pantai selatan Jawa Timur ini, juga mempunyai pantai yang keindahannya sudah diakui oleh wisatawan mancanegara. Itulah Pantai Bandealit yang akan kisuta.com ceritakan.

 

Pantai Bandealit yang berada di Kabupaten Jember bagian selatan ini mempunyai pantai yang alami dan bersih. Ombaknya yang tidak terlalu besar dan teratur, cocok untuk bermain bodysurfing.

 

Di sebelah timur pantai ini terdapat muara sungai yang luas menyerupai danau. Muara sungai (danau) ini ditumbuhi vegetasi mangrove dengan dominasi jenis Pedada (Sonneratia caseolaris). Di tepi muara ini berdiri pondok wisata. Lokasi penginapan di Bandealit ini cukup menarik karena menghadap ke hutan mangrove dan berada di atas danau Bandealit. Walaupun dekat pantai tetapi air di penginapan ini tawar karena diambil dari mata air pegunungan.

 

Sementara di muara sungai bagian timur pantai, pengunjung dapat melakukan aktivitas pengamatan burung, berkano atau menyusuri sungai menggunakan speedboat. Kondisi muara sungai cukup aneh, karena hanya pada musim kemarau banyak airnya dan menggenang menjadi danau, tetapi pada musim penghujan justru airnya kering sehingga tidak bisa untuk bermain kano dan speedboat.

 

Meskipun indah, namun Pantai Bandealit belum banyak dikunjungi. Kondisi ini mungkin disebabkan oleh cerita mistik yang menyelimutinya. Menurut cerita penduduk setempat, di sekitar pantai hidup “Siwil”, yaitu makhluk kerdil yang mirip manusia. Bahkan beberapa pengunjung mengaku pernah melihatnya dan sempat mengabadikan jejak kaki makhluk kerdil tersebut.

 

Tahun 1992, dua ilmuwan asal Inggris, yaitu Debbie Martyr dan Jeremy Holden pernah melakukan penelitian di sekitar Pantai Bandealit tentang keberadaan makhluk kerdil itu. Hasilnya, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan “Siwil”.

 

Namun masyarakat dan pengunjung sudah kadung mengakui keberadaan “Siwil”. Mereka yakin makhluk yang tingginya tak lebih dari 1 meter itu ada dan menjadi penghuni Pantai Bandealit. Makhluk kerdil ini kerap berkeliaran membawa tombak di pesisir pantai mencari ikan. Beberapa nelayan yang biasa mencari ikan pun pernah diganggu oleh manusia-manusia kerdil ini, hasil tangkapan mereka berantakan dan dicuri oleh manusia kerdil.

 

Terlepas dari cerita misteri yang kebenarannya masih dipertanyakan itu, Pantai Bandealit memang pantai yang tenang dan cocok untuk beristirahat. Kita bisa menikmati deburan ombak pantai Selatan dengan rileks tanpa gangguan dari siapapun. Belum lagi menikmati pantai di kala malam, benar-benar membuat kenangan tak terlupakan. Apalagi jika malam diselimuti bintang-bintang, dijamin siapapun ingin kembali datang ke Pantau Bandealit.* Uma – kisuta.com